Month: December 2012

ahad, 07 Oktober 2012

hari ketiga kami di Papua.

04.15 yap. kami bangun, dan langsung beranjak ke mushola yang terletak di dekat pintu utama wilayah buper. saat itu kalau tidak salah ada 6 orang akhwat yang shalat. alhamdulillah, setidaknya ada yang masih shalat. hehe

setelah selesai shalat, aku dan temanku ( Sinta namannya) berdiri di luar mushola itu untuk melihat pemandangan pagi disana. Masya Allah, indah sekali, setelah selesai kami kembali ke base camp dan beres beres serta persiapan. oh iya, saat hari ahad, aku bertemu dengan ayah dari temanku yang kebetulan menjadi ketua Basarnas disana. alhamdulillah diajak keliling jayapura euy. hehe

Ternyata, Jayapura mempunyai hari khusus, yaitu hari Minggu. Kenapa? karena mayoritas penduduk disini adalah non-muslim, maka hari minggu digunakan sebagai hari Tuhan. bisa dibayangkan sesepi apa kan disana?

Image

disini ternyata juga baru ada Hypermart yang dibangun

Image

ada juga Gramedia (yang katanya) satu-satunya di kota ataupun wilayah

Image

dan banyaaak lagi (kelamaan upload nya nanti. 🙂 )

walaupun sempat ada konflik pada sesuatu hal, namun akhirnyaa.. selesai. hehe

 

jam 11.30 shalat dzuhur tepat waktu, hanya aku bingung, kok banyak yang menjama’ qashar kan shalat ya? hari ini kan belum dimulai Rainasnya. ah yasudah husnnudzon saja. mungkin memang ada agenda yang lebih padat.

setelah shalat, makan siang, istirahat sebentar kira-kira jam 14.15 kami mendapat panggilan berkumpul dilapangan utama guna mengikuti Gladi Bersih untuk acara Upacara Pembukaan besok (karena dibuka oleh Presiden awalnya), yasudah, kami kesana dengan membawa mukena. hehe.

jam berlalu, tapi kok enggak selesai selesai, jam 16.30 kami memutuskan untuk menghubungi panitia dan izin shalat. Namun, panitia bilang gini,

 

“wah sebentar ya, kakak tanya dulu sama panitia yang lain”

awalnya aku iya iya aja, tapi kok lama lama ga ada respon lagi yaa. akhirya bertanya ulang lah kami

“kak, maaf sudah jam segini, ini kapan selesai  nya kami mau shalat, boleh kami keluar dari lapangan dan pergi keatas?”

kakaknya menjawab, ” wah kalau keatas enggak boleh kak (panggilan ke sesama PRAMUKA adalah kakak, dan pintu masuk dan pintu keluar lapangan satu arah, jadi akan sangat terlihat jika ada yang keluar dan masuk)

 

lalu teman-temanku mundur ke belakang, wah naluri mahasiswa ku muncul kalau lagi gini, aku maju dan bertanya ke kakaknya

“yasudah kami izin ke tenda sana (menunjuk tenda biru yang digunakan sebagai tempat kegiatan), kami harus shalat”

kata kakaknya “wah itu belum ada alasnya.”

kataku ” yasudah kami shalat disana (menunjuk rumah tukang bangunan)”

kata panitia “tidak bisa, tidak boleh oleh mereka.”

 

kataku ” kak, ini sudah jam segini, kami harus shalat, kakak muslim kan?”

katanya” iya kak, tapi kewenangan memberi izin bukan di saya. cob kakak tanyakan ke pihak ***”

kataku (dalam hati : mana kenaaal mana tau no.nyaaa) “yasudah mana kak no.nya atau jika boleh kakak hubungi panitia nya, nanti saya yang berbicara.”

kata kakaknya, “sebentar ya kak. (memencet tombol handphone dan pergi)

zzz. sampai jam 5 tidak ada respon,

kami hampiri kakak panitia yang lain ” kak, kami belum shalat, sudah jam 5, sedangkan maghrib jam 17.30, kami sudha mengubungi *blablablabalblblalbal*”

 

kata kakaknya “kaka belum shalat? kok tadi ga shalat?”

kataku ” kak, kakak memanggil kami jam 14 lewat, kami udah bawa mukena kok, kemarin kan GR hnya sampai jam 4 kak. kenapa sekarang seperti ini, dan apakah boleh menjamak qashar sedangkan tidak ada halangan yang penting?”

kata kakaknya “iya kak, kami tidak ada waktu untuk shalat ashar, jadi kami kira semuanya sudah menjama shalatnya.”

kataku “lho, sekarang silahkan kakak tanya ke wilayah Bengkulu, Bali, Sumatera, Aceh , Jawa tengah yang bru tiba hari ini, mereka juga belum shalat kak. dan tidak baik kak, hanya untuk acara PRAMUKA yang notabenenya adalah DASA Darma yang dipegang pandunya engga shalat ashar cuma untuk ikut Gladi Bersih yang kayak gini. perlu ada evaluasi dari pihak acara dan rohani serta dari K3 untuk hal ini, dan hati-hati kak, saat kakak menyelenggarakan acara, jika ada yang tidak bisa shalat ashar cuma gara gara ini, kakak dan semua panitia akan kami minta pertanggungjawaban enggak hanya disini. tapi di akhirat kelak kak.”

kakaknya cukup terdiam, lalu bertanya “Kamu dari KONDA mana?”

Ku jawab ” Jawa Barat (enggak habis fikir lagian, masa sih enggak shalat cuma buat gladi bersih)

terus datanglh koord. k3 yang berasal dari Papua (sebelum sebelumnya bukan dari Papua)

aku bertanya “kak, kami mau shalat bisa?”

kakaknya menjawab “hmm.. kalian bawa mukena?”

kami mejawab “bawa kak”

kata kakaknya “kami minta maaf silahkan shalat disana, untuk wudhu bisa tayamum, tapi maaf disana masih berantakan.”

kami serempak menjawab “alhamdulillah, terima kasih kak.”

kami lari larian lalu aku ingat, jaket konda sebagai alas shalat kami, arah kiblat dengan kompas, serta kami saling meminjamkan mukena agar bisa shalat ashar serempak.

setelah selesai, kamera ku hilang (dan ada konflik terparah yang cukup diketahui oelh beberapa orang)

saaat malam hari… Yeeeey ada Festival Bakar Batu yang berasal dari Wamena, biasanya digunakan untuk menyambut orang dari luar Wamena, jadi semua makanan (daging, sayur, ubi, jagung) dikubur dalam tanah yang sudah dipanaskan dan dilapisi oleh daun petatas, daun kangkung dkk.. serta bumbu bumbu tiap makanan (biasanya pakai daging babi, tapi karena ada yang muslim, jadi enggak jadi babi nya. hehe) lalu ditutup dengan batu dan dibakar selama 30-1 jam, setelah itu dikeluarkan dan disantap bersama..

 

wiih enaaak sekali,, ukuran semua makanannya 2-3x lipat dari yang di Jawa Barat, kenyang. yaa walaupun ada yang agak agak gimana gitu ( kalau aku makan makan aja. hehe, jarang-jarang kan)

setelah pesta bakar batu bakar, biasanya akan ada tarian sampai pagi. Namun karena ada jam malam bagi peserta dan juga saat itu hujan  jadi kami kembali ke tenda.  hehe

ImageImage

 

sabtu, 06 Oktober 2012

Sabtu, 6 Oktober 2012

setelah masuk ke bandara, kami menunggu kontingen kontingen lain dari berbagai daerah, hujan yang menyelimuti kawasan bandara, tidak membuat dingin daerah bandara (karena memang bandara sentani saat itu sangat padat), kami dibimbing oleh LO yang berasal dari Papua(tapi aslinya dari daerah Kalimantan kalau tidak salah), beliau orang yang pertama mengajak bersalaman, dan orang pertama yang kutolak salamannya saat itu.

setelah selesai menunggu, kami masuk kedalam bis yang sudah disediakan oleh panitia,, Waah untuk masalah keamanan, jangan tanya, Benar-benar ketat,sepanjang perjalanan, sirine polisi dan juga musik dari bus yang cukup keras membuat kami tidak ada yang tidur, dari keluar bandara Sentani, kami disuguhkan pemandangan yang waaah.. Masya Allah
Kampung Harapan, Danau Sentani, STAIN Jayapura, Universitas Cenderawasih, waah dan tempat-tempat bekas dipakainya Festival Danau Sentani pada 15 Juli kemarin..

jam 09.30 kami tiba di Hotel Sentani, kami kira itu akan jadi home stay sementara sampai tanggal 08 (maunya. hehe), tapi ternyata tidak, disana kami diberikan sarapan pagi.. walaupun enggak jadi nginep, alhamdulillah, dikasih makan.. 🙂
makanan yang disajikan sederhana sebenarnya, sama seperti kami di pulau Jawa, tapi ternyata ada yang beda, hampir semua rasa makanannya TAWAR a.k.a enggak ada rasa, dan ternyata makannya itu kita harus memakai kerupuk khas Papua, kami tidak tahu namanya, tapi rasanya asin-asin gurih tanpa penyedap #Eh

Setelah makan, kami meneruskan perjalanan menuju Bumi Perkemahan Phokela Cenderawasih, Jayapura, Papua.. perjalanannya tidak terlalu jauh namun naik naik keatas seperti di puncak. disepanjang jalan cukup banyak ditemui rumah Honai dan rumah panggung di sana..
Setelah sampai di Buper, kami disambut oleh panitia panitia yang super ramah, mereka langsung bertanya kepada kami “bahasa sundanya Apa Kabar apa ya kak?” setelah diberitahu mereka langsung mempraktekannya, lucu (sama seperti lucunya kami ketika pertama kali berbicara bahasa Papua)

setelah sampai di rumah panggung yang telah disediakan, kami mendirikan tenda kecil sebagai pembatas, dan juga merapihkan peralatan yang kami bawa di tas carrier kami.

karena masih terasa jet-lagnya beberapa diantara kami beristirahat. Jam 12.30 kami tidak mendengar suara azan sama sekali disini hingga jam 13.15, karena kami belum tahu lokasi mushola disini kami berputar dan alhamdulillah ada bangunan mushola yang baru dibangun untuk acara ini, untuk alas, disediakan tenda biasa, tempat wudhu diluar (beberapa diantara kami lebih nyaman wudhu di Kamar Mandi atau di tempat cuci baju, karena daerahnya tertutup), kami pun shalat disana, setelah shalat kami menunggu ashar, namun azan juga tidak terdengar dari dalam mushola. Jam 16.00 kami memutuskan shalat Ashar, setelah shalat Ashar (kebetulan aku hanya berdua dengan temanku yang usianya terpaut 2 tahun dariku), sisanya sedang mengikuti Gladi Resik di lapangan utama.

saat kami duduk dan berbincang bincang, datanglah seseorang bapak-bapak (kami memanggilnya Pak ce) yang tiba-tiba menawari kami jeruk Nabire (jeruk Nabire terkenal di Papua sebagai salah satu Jeruk yang memiliki rasa yang enak dan khas), wah kami ambil dengan suka cita. hehe, bapak itu merupakan salah satu penggerak muslim di wilayahnya, saat sedang ngobrol-ngobrol dengan beberapa Pak Ce, tiba-tiba 3 orang mahasiswa dari UNCEN yang menjadi Sangga Kerja, ikut bergabung bersama kami, mereka berasal dari 3 pergerakan mahasiswa, ada PMII, IMM, dan KAMMI. PMII namanya ka Huda, IMM saya lupa dan KAMMI namanya Ka Safrul. karena saya juga mengikuti salah satu organisasi ekstern mahasiswa, maka saya ikut bertanya mengenai kondisi disana, dan juga bagaimana perjuangan disana. subhanallah, malu rasanya jika mengeluh di depan mereka, atau menceritakan kondisi kami yang lebih nyaman, dan aman namun banyak juga yang terlena dengan kenyamanan itu… setelah selesai ngobrol ngobrol, kami sempat protes dengan tidak adanya adzan yang berkumandang, dan juga jadwal shalat disana. Alhamdulillah ternyata direspon baik. Alhasil adzan Maghrib berkumandang, dan kami baru tau kalau jadwal shalat disana cukup berbeda

Subuh 04.03

Dzuhur 11.30

Ashar 14.30

Maghrib 17.30

Isya jam 18.30 (kurang lebih jadwal shalat seperti ini)Image

setelah shalat maghrib, mentoring sebentar kami kembali ke base camp kami. 🙂

Image

danau sentani setelah hujan

Image

Bingkai perjalanan itu

“Ingin rasanya aku bisa pergi kesana.”

begitu salah satu harapanku ketika aku menuliskan 100 mimpiku pada dua buah kertas yang ku harap bisa kuwujudkan dalam beberapa tahun terakhir. Aah tapi aku sadar, disini sudah banyak agenda agenda yang membutuhkan kehadiran sumber daya manusia agar agenda ini bisa berjalan dengan lancar, maka aku putuskan untuk tidak terlalu memikirkan dan mengharapkan mimpi yang telah kutulis. setelah kutulis kertas itu, aku ingat sekali, aku tempel di depan meja belajar asrama (kebetulan saat itu aku masih di asrama) agar aku bisa selalu melihatnya, minimal saat aku tak bisa menjangkaunya, atau saat aku lengah aku sadar, aku masih punya banyak hal yang akan aku wujudkan, hari-hari, bulan berganti bulan, tak terasa, ternyata aku sudah mencoret beberapa mimpiku, mewujudkan harapanku, walaupun tidak semuanya terwujud, namun Allah selalu menggantinya dengan hal-hal yang jauh lebiiih baik. aku ingat saat masa-masa itu (hingga sekarang) surat Ar Rahman sering terputar otomatis di telingaku

hingga pada suatu hari,…, yap. mimpi terbesarku dalam 1 tahun ini, pergi ke Papua dalam rangka mengikuti Raimuna Nasional X disana bisa terwujud, setelah seleksi yang cukup lama untuk menunggu hasil, dan setelah ditunda beberapa kali, alhamdulillah wa syukurilah mimpi itu terwujud, ya. mimpi itu terwujud, aku berangkat pergi kesana dengan kontingen ku dari Bekasi.

perjalanan dimulai saat kita di bandara Soetta, setelah pamitan dengan orang tua dan pendamping bekasi, kami check in disana, subhanallah, di Bandara yang sebesar itu, hanya ada musholla yang sangat kecil, yang muat 1 shaff ikhwan dan 1 shaff akhwat, tetapi alhamdulillah kami masih bisa melaksanakan shalat isya disana. setelah shalat, kami duduk duduk di selasar pintu di dalam bandara , dan untuk menghemat pengeluaran , kami makan bersama dengan makanan seadanya (putra-putra, putri-putri).. pukul 22.30 keberangkatan dimulai, seperti biasa perjalanan awal terasa sangat mendebarkan, namun setelah sampai diatas, karena merasa bosan, aku memutuskan untuk tidur.

pukul 04.30 WIB, kami sudah tiba di Papua, di bandara Sentani tepatnya, sebelum mendarat kami melihat pemandangan yang Masya Allah sangat menakjubkan, hutan bertebaran, perumahan hanya sedikit dan jarak dari satu rumah ke satu rumah yang lain sangat jauh, pohon-pohon saling balapan mengadu tinggi, tidak ada bangunan pencakar langit yang kerap menghiasi aktivitas harian diri ini. sebelum mendarat , roda-roda pesawat yang kami naiki sudah melandaskan dirinya pada luasnya danau sentani yang sangat indah. ada kejadian yang sebenarnya membuatku lebih mawas pada waktu dan lokasi, jadi, di pesawat, karena aku lupa untuk mengatur waktu antara Barat dan Timur, maka aku kira mbak-mbak pramugari yang sedang shalat itu sedang melaksanakan Qiyamul Lail.. padahal shalat subuh, -_- Astagfirullah,

setelah sampai di bandara, aku ingat saat aku bersaliman hanya dengan mengatupkan kedua tangan ke depan, awalnya aku bingung, apakah mereka terima, namun karena aku terlalu cuek akhirnya aku tidak memikirkan #eh, setelah ambil tas di bagasi, kami segera mencari mushola, namun, ternyata mushola nya terletak di luar bandara.. berlari lah kami kesana, setelah ketemu mushola, kami bertemu dengan seorang wanita (di Papua kami memanggil Nyonya dengan panggilan “mama”) yang menjadi penjaga musholla.setelah wudhu, kami lupa, arah kiblat, mama pun tak tau dimana arah kiblat, hmm.. alhamdulillah aku ingat, aku membawa handphone yang ada aplikasi kompas, kugunakan saja. yap dan setelah selesai shalat, kami langsung masuk kembali ke bandara.

****Bersambung****

“Maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

SAM_4811 SAM_4819