sabtu, 06 Oktober 2012

Sabtu, 6 Oktober 2012

setelah masuk ke bandara, kami menunggu kontingen kontingen lain dari berbagai daerah, hujan yang menyelimuti kawasan bandara, tidak membuat dingin daerah bandara (karena memang bandara sentani saat itu sangat padat), kami dibimbing oleh LO yang berasal dari Papua(tapi aslinya dari daerah Kalimantan kalau tidak salah), beliau orang yang pertama mengajak bersalaman, dan orang pertama yang kutolak salamannya saat itu.

setelah selesai menunggu, kami masuk kedalam bis yang sudah disediakan oleh panitia,, Waah untuk masalah keamanan, jangan tanya, Benar-benar ketat,sepanjang perjalanan, sirine polisi dan juga musik dari bus yang cukup keras membuat kami tidak ada yang tidur, dari keluar bandara Sentani, kami disuguhkan pemandangan yang waaah.. Masya Allah
Kampung Harapan, Danau Sentani, STAIN Jayapura, Universitas Cenderawasih, waah dan tempat-tempat bekas dipakainya Festival Danau Sentani pada 15 Juli kemarin..

jam 09.30 kami tiba di Hotel Sentani, kami kira itu akan jadi home stay sementara sampai tanggal 08 (maunya. hehe), tapi ternyata tidak, disana kami diberikan sarapan pagi.. walaupun enggak jadi nginep, alhamdulillah, dikasih makan.. 🙂
makanan yang disajikan sederhana sebenarnya, sama seperti kami di pulau Jawa, tapi ternyata ada yang beda, hampir semua rasa makanannya TAWAR a.k.a enggak ada rasa, dan ternyata makannya itu kita harus memakai kerupuk khas Papua, kami tidak tahu namanya, tapi rasanya asin-asin gurih tanpa penyedap #Eh

Setelah makan, kami meneruskan perjalanan menuju Bumi Perkemahan Phokela Cenderawasih, Jayapura, Papua.. perjalanannya tidak terlalu jauh namun naik naik keatas seperti di puncak. disepanjang jalan cukup banyak ditemui rumah Honai dan rumah panggung di sana..
Setelah sampai di Buper, kami disambut oleh panitia panitia yang super ramah, mereka langsung bertanya kepada kami “bahasa sundanya Apa Kabar apa ya kak?” setelah diberitahu mereka langsung mempraktekannya, lucu (sama seperti lucunya kami ketika pertama kali berbicara bahasa Papua)

setelah sampai di rumah panggung yang telah disediakan, kami mendirikan tenda kecil sebagai pembatas, dan juga merapihkan peralatan yang kami bawa di tas carrier kami.

karena masih terasa jet-lagnya beberapa diantara kami beristirahat. Jam 12.30 kami tidak mendengar suara azan sama sekali disini hingga jam 13.15, karena kami belum tahu lokasi mushola disini kami berputar dan alhamdulillah ada bangunan mushola yang baru dibangun untuk acara ini, untuk alas, disediakan tenda biasa, tempat wudhu diluar (beberapa diantara kami lebih nyaman wudhu di Kamar Mandi atau di tempat cuci baju, karena daerahnya tertutup), kami pun shalat disana, setelah shalat kami menunggu ashar, namun azan juga tidak terdengar dari dalam mushola. Jam 16.00 kami memutuskan shalat Ashar, setelah shalat Ashar (kebetulan aku hanya berdua dengan temanku yang usianya terpaut 2 tahun dariku), sisanya sedang mengikuti Gladi Resik di lapangan utama.

saat kami duduk dan berbincang bincang, datanglah seseorang bapak-bapak (kami memanggilnya Pak ce) yang tiba-tiba menawari kami jeruk Nabire (jeruk Nabire terkenal di Papua sebagai salah satu Jeruk yang memiliki rasa yang enak dan khas), wah kami ambil dengan suka cita. hehe, bapak itu merupakan salah satu penggerak muslim di wilayahnya, saat sedang ngobrol-ngobrol dengan beberapa Pak Ce, tiba-tiba 3 orang mahasiswa dari UNCEN yang menjadi Sangga Kerja, ikut bergabung bersama kami, mereka berasal dari 3 pergerakan mahasiswa, ada PMII, IMM, dan KAMMI. PMII namanya ka Huda, IMM saya lupa dan KAMMI namanya Ka Safrul. karena saya juga mengikuti salah satu organisasi ekstern mahasiswa, maka saya ikut bertanya mengenai kondisi disana, dan juga bagaimana perjuangan disana. subhanallah, malu rasanya jika mengeluh di depan mereka, atau menceritakan kondisi kami yang lebih nyaman, dan aman namun banyak juga yang terlena dengan kenyamanan itu… setelah selesai ngobrol ngobrol, kami sempat protes dengan tidak adanya adzan yang berkumandang, dan juga jadwal shalat disana. Alhamdulillah ternyata direspon baik. Alhasil adzan Maghrib berkumandang, dan kami baru tau kalau jadwal shalat disana cukup berbeda

Subuh 04.03

Dzuhur 11.30

Ashar 14.30

Maghrib 17.30

Isya jam 18.30 (kurang lebih jadwal shalat seperti ini)Image

setelah shalat maghrib, mentoring sebentar kami kembali ke base camp kami. 🙂

Image

danau sentani setelah hujan

Image