Speak Up

Beberapa minggu kemarin hingga hari ini,aku mempunyai hobby tambahan, hobby ku adalah memperhatikan orang lain, yap, observer mungkin lebih sering disebutnya, dari pengamatan tersebut ada suatu hal yang menarik perhatianku..

bersuara.

berapa banyak orang yang tidak bisa menunjukkan apa yang dia sukai ? seperti apa dia ingin diperlakukan? sejauh apa orang-orang mengetahui tentang dia? ya dari bersuara.

lihat saja anak kecil, kalau diperhatikan, pasti kalau mau apa-apa bersuara, mau makan bersuara, minum, apalagi kalau jajan, pasti bersuara

kalau anak dewasa, kok jadi kadang-kadang kebalikannya ya? suka sama sesuatu hal enggak bersuara, benci sama sifat seseorang enggak bersuara, ngeliat sesuatu yang enggak baik diem aja, sekalinya ngomong , ya cuma di sosmed atau enggak di belakang layar. itupun tanpa tindakan.

memang semua itu harus ada kadarnya, entah itu diluar atau di dalam, tapi kalau semuanya dipendam terus, dan enggak disuarakan? apa jadinya?

ya tapi bukan berarti ngomong aja enggak ada tindakan, anak kecil aja pas lagi minta makan, minta minum, jajan, dll. mereka akan melakukan tindakan agar pesan yang disampaikan olehnya bisa diterima dengan baik kepada penerima. maka seharusnya sudah seperti itu juga kita, kalau ada yang tidak disukai, sampaikan, jika tidak ada maka diam. tapi ingat bukan berarti kita harus seperti anak kecil juga yang merengek rengek, guling-gulingan, narik narik baju, cukup dengan perkataan yang baik, karena mengajak kepada kebaikan itu tidak perlu hujatan, cacian lhoo. masa mahasiswa yang katanya “agen perubahan” kerjaannya nangis nangis galau cuma gara-gara masalah abstrak. Dewasa dong, orang diputusin nangis sampai mau bunuh diri, orang nilainya jelek merasa jadi mahasiswa terbodoh sedunia, orang ga makan sehari aja sudah uring-uringan enggak mau gerak. Move on lah.. Masalah kalau udah dewasa itu bukan itu lagi teman, masih banyak hal yang menyangkut masalah banyak orang yang seharusnya menjadi perhatian kita. we are not “ababil” person guys 😀

Mahasiswa/ pemuda itu bisa melakukan banyak cara, bergam kreativitas, bisa dengan aksi, enggak harus dengan demo di jalan, bisa lewat pembuatan film, ikut long march, pengajuan RUU, ikut seminar2, gabung di organisasi profesi, banyak lagi deeh. Namun yang paling penting ya itu, enggak hanya asal bersuara tong kosong tanpa data, ya dengan data yang valid dan bisa dipertanggungjawabkan.. selain itu totalitas dalam menyuarakan suatu yang benar khususnya atau minimal yang kita anggap benar, ya itu sudah seharusnya menjadi alasan kita bersuara, jangan sampai ya, kehadiran kita disana justru hanya menjadi pelemah bagi teman-teman kita.

enggak punya data?

           Internet terhampar luas kok, google dengan beratus juta data-data bisa dicari, jurnal internasional bertebaran, Al Qur’an juga sudah dijabarkan kok, terus masih menjadikan tidak ada informasi sebagai alasan?

sebenarnya pertanyaan itu cukup dijawab dalam diri diri kita, benarkah informasi yang menjadi hambatannya? ataukah diri kita lah sebenarnya masih enggan bersuara? wallahu’alam

ggg

Advertisements

2 thoughts on “Speak Up

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s