Month: March 2013

aku rindu

aku rindu, pada dering dering pesan handphone yang bertuliskan namamu di alamatnya,

aku rindu, ketika ku buka handphone itu, isinya tidak hanya sekedar tausiyah, tidak hanya sekedar kata-kata, tapi sebuah dorongan, sebuah kekuatan, sebuah teguran, nasihat atau bahkan seringkali menjadi penguat dikala fisik tak dapat berhadapan..

Aku rindu, ketika derai derai candaan, lantunan tilawah, serta ilmu baru disetiap pekan mengisi keheningan masjid di tempat itu.

Aku rindu, ketika selalu ada tangan-tangan yang mengulur, selalu ada bahu yang menopang, selalu ada telinga yang siap mendengar, selalu ada lisan yang menjadi pengingat, ketika diantara kita terjadi masalah.

 

ah aku (memang) rindu,. entahlah. mungkin aku masih terlalu anak kecil, tapi , bukankah itu yang selalu dirindukan? ketika fisik tak lagi dapat berjumpa, ketika mata tidak lagi dapat saling bertatap, maka kenangan dengan mu disaat saat getir seperti ini, menjadi penguat tersendiri bagiku.. entah, jika kamu mengalami hal yang sama, apakah kamu juga akan memikirkan masa-masa yang sama? 🙂

maka ku katakan aku rindu.. dan kuharap dirimu juga begitu, dalam balutan kesamaan aqidah, persamaan rasa, celupan celupan kebaikan, aku rindu…

“Sesungguhnya Engkau Tahu, bahwa hati ini telah berpadu, berhimpun dalam naungan cintaMu, bertemu dalam ketaatan, bersatu dalam perjuangan, menegakkan syariat dalam kehidupan..
Kuatkanlah ikatannya

Kekalkanlah cintanya

tunjukilah jalan-jalannya

terangi dengan cahayaMu

yang tiada pernah padam..

ya Rabbi bimbinglah kami.”

 

*Khusus untukmu yang sedang menuntut ilmu disana, berjerih payah dalam menghadiri pekanan itu setiap pekannya dengan segudang aktivitas keislamanmu yang tak kalah banyaknya, namun masih terlalu sering untuk menyapaku di jejaring sosial, mentausiyahiku melalui telepon genggam, aku rindu..

semoga Allah senantiasa menjagamu, memberikan bahu-bahu, tangan tangan lain yang lebih kuat untuk membantumu menguatkanmu,, semoga.. Image

 

ciputat, 21 Maret 2013

buku?

dulu saat kecil, aku bukanlah pecinta atau pengoleksi buku, hobi ku berkutat pada praktikum praktikum kecil di sekolah dasar, yang menyebabkan aku lebih sering tinggal diluar kelas dan menghabiskan waktu seharian di depan kelas hanya untuk mengamati “kenapa pletekan itu kalau ditaruh di air akan pecah?” atau pertanyaan pertanyaan seputar kecebong (anak katak, dalam istilah biologi disebut berudu).

 

hingga suatu hari (cielah,) ketika aku kelas 4 SD, kakakku membawakan komik. yap Komik adalah buku bacaan pertamaku, ahahaha.. judulnya DORAEMON. ah biarlah namanya juga anak kelas 4 sd, mau baca buku apaan lagi..!!

aku buka bukunya, setelah dibaca, wah ternyata seru juga ya, hehe. mulailah sejak saat itu, aku menyukai buku (komik lebih tepatnya). dari masih jamannya sepeda mustang sampai bentuk sepeda perempuan, aku dan kakakku hampir setiap pekan mengayuh sepeda menuju sebuah rental komik. “Anita” nama rentalnya, perjuangan kami pun tak mudah.. Ayahku, bukanlah seorang penggiat pembaca buku komik, novel ataupun buku non akademik. baginya, buku yang boleh dibaca anak-anaknya, adalah buku pelajaran. Titik. akhirnya, setiap buku yang kami pinjam kami sembunyikan dibalik jaket ataupun dirak buku di kamar, hal ini berlangsung kurang lebih 1-2 tahunan.

singkat cerita aku masuk ke sekolah Menengah Pertama di kota Bekasi. kesibukan di beberapa organisasi sempat membuatku vakum mengunjungi tempat itu.. setelah beberapa bulan, alhamdulillah, nemu lagi rental komik, lupa namanya.. tempatnya bagus dan enggak hanya menyewakan komik, tapi juga novel. yap Novel, disinilah pertama kalinya aku membaca dan menyukai novel. hehe

Novel yang dibaca pun masih yang lucu-lucu, semacam lupus, terbitannya bang Boim Lebon dkk.. buku “Does My head Look Big At this ” juga sempat ku baca, karena isinya cukup inspiratif. 🙂

kemudian, lama -lama akhirnya aku sampai pada titik jenuh membaca komik, membaca novel, dan hal-hal lainya terkait buku. bukan, mungkin bukan membacanya, namun kategorinya, dari dulu aku kurang menyukai hal-hal yang berbau cinta-cintaan atau romantisme masa muda yang terlalu picisan namun novel yang ku tahu tentang cinta-cintaan terlalu banyak disana, ah tidak tahulah sampai sekarang pun masih seperti itu. akhirnya aku mengganti kategori buku-buku yang aku baca, kebetulan kakakku sudah kelas 1 sma, saat aku masih kelas 2 smp, jadi… ya sudah, aku lebih baik lihat-lihat buku yang beliau punya saja..

sepertinya baru SMA , kami diizinkan untuk membeli buku selain buku pelajaran. itupun sudah melalui proses lobbying dan blablablanya.. ah biarlah, sepertinya itu jadi alasan tersendiri bagi kami untuk semakin menghargai apa yang kami punya, khususnya buku..

memasuki masa SMA, buku-buku yang kugemari berkisar pada buku2 psikologi dan majalah An Nida. Jadi ingat, dulu saat masuk ke perpus sekolah ada buku yang ku pinjam selama 1 bulan, judulnya “Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan” isinya…. (maaf ya Pak Salim A. Fillah) bagus, tapi aneh aja, “kok bisa buku kayak gini dipajang di perpus umum punya siswa?” ahh ku teliti saja saat itu, background penulisnya, latar belakangnya, dan kesimpulannya : “buku ini sebenarnya berat, namun karena menggunakan bahasa yang ringan dan santai , isinya jadi tidak terlalu berat. Great.. penulisnya pun menuliskan pengalaman pribadinya, wah harus cari buku yang gaya bahasanya seperti ini nih..”

dari perpustakaan lah, mulai ku cari buku-buku yang memeiliki gaya  bahasa yang sangat memiliki keindahan sastra dan kedalaman cerita yang bagus diluar sekolah, diantaranya “Dibawah Lindungan Kabah” Buya Hamka, novel tere Liye, Novel Andrea Hirata, buku-buku penyakit psikologi hingga buku mengenai psychopat, majalah tarbawi, dan buku-buku motivasi sempat menjadi buku-buku yang sangat kugemari saat itu, barulah di kelas 3 saat kepengurusan, aku diperkenalkan dengan buku-buku bahasa lain, seperti buku Pak Anis Matta, buku Hasan Al Banna dkk. pak Solihin, serta buku-buku lain.

kenapa harus buku? tidak tahulah, aku bukan orang yang terlalu perhatian pada pakaian yang aku pakai, pada sepatu yang dikenakan,pada tas yang kugunakan dan sebagainya selama itu masih rapih dan tidak rusak parah, maka tidak ada alasan untuk menggantinya. tapi kalau buku, sekalipun sudah membacanya, buku itu masih bisa memberikan manfaat, bisa dijadikan referensi, bisa dipinjamkan, dll lah.. lebih banyak manfaatnya 🙂 hehe

alhamdulillah, akhirnya sekarang. setiap ada agenda IBF  aku bisa membeli buku  dengan uang ku sendiri, walaupun saat membeli buku harus siap dengan kata “IRIT TOTAL SAMPAI AKHIR BULAN”. hehe

Insya Allah ada banyak manfaat saat kita memilikinya. 🙂

makanya kalau nemu pameran buku tiba tiba hati selalu bilang “Paris, Books I’m in Love”

#CintaBuku

Image