Aku dan Bertahan

Kau tahu kawan?

Ada masa-masa dimana semua terasa begitu berat,

 begitu sulit

begitu terjal

 

ah, rasa-rasanya ingin menghindari segala perjalanan

mengingkari segala keputusan

pemikiran untuk berhenti pun mulai dilontarkan

dari mulai sementara, hingga selamanya

 

Ah andai,

Kita mempunyai suhu yang sama pasti tak akan begini bukan?

Ah andai,

Jika orang lain merasakan apa yang kita rasakan ia akan tetap berada disini bukan?

 

Bolehkah ku jawab?

Tidak!!

Imperium ini tidak harus tegak dengan suhu yang sama

Tidak harus mereka semua merasakan hal yang sama

 

Lalu kau bilang, karena Allah

Yakinkah karena Allah?

Ataukah karena diri sudah mulai jenuh, sudah mulai pongah, sudah mulai lelah dan menyerah dengan keadaan yang ada?

 

 

Allah tak pernah memerintahkan kita untuk berhenti kawan,

 aku pun tak pernah menemukan ijtihad para ulama untuk menghentikan langkah kita di jalan ini.

 

Biarlah kau akhirnya bilang

aku angkuh,

Keras Kepala

Dan Sebagainya

 

Tidak mudah rasanya berada di posisi ini kawan

Ketika kau harus tetap mengusahakan dirimu terus tersenyum untuk terus mempertahankan dan menguatkan yang ada

namun disisi lain kau harus menahan respon tangis ketika mendengar kondisi kehilangan

 

Aku ingat, ketika diri lelah, Allah selalu mengingatkan

“Maka Sesungguhnya bersama kesulitan ada Kemudahan”

Bahkan Allah mengulang lagi dalam surat yang sama

“Bersama kesulitan ada kemudahan”

 

“Seonggok kemanusiaan terkapar, siapa yang mengaku bertanggung jawab? Bila semua menghindar. Biarlah saya yang menanggungnya. Semua atau sebagiannya.” (KH. Rahmat Abdulloh)

 

Maka aku insya Allah akan tetap bertahan dijalan ini

Dengan atau tanpa orang lain yang membersamai disini

Karena,

Tanpa aku sebenarnya perjalanan ini akan terus berjalan

Akan terus terisi dengan orang-orang yang lebih hebat

Namun,

Biarlah

Orang-orang yang masih tertatih-tatih sepertiku bergabung dalam barisan ini,,

Karena

Bukan karena kamu, kamu dan kamu yang lain aku berada di jalan ini

Bukan.

Karena impianku bukan disini.. bukan disini

Tapi di tempat yang lain..

Selama ini belum teraih, maka biarkan aku terus berada disini

Untuk memperjuangkan ini.

 karena,,

aku yakin,,

akan sangat banyak saudari yang istiqomah yang tetap berada di jalan ini

“Bukannya seorang dai, mereka yang mengeluh tentang sulitnya merubah kondisi masyarakat. Ia bukannya dokter, ia hanya orang yang berpakaian dokter tapi jijik melihat luka besar yang harus diobatinya”. (KH. Rahmat Abdullah)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s