Month: June 2013

Keluarga Dakwah

(tulisan ini dibuat sebagai sebuah konsekuensi atas ketidakhadiran dalam sebuah agenda pada suatu tempat di suatu waktu. hehe, jangan berfikiran enggak-enggak ya)

“Dan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” [Ar-Rum 21].

Bismillah

Saat ini izinkan saya membuat sebuah tulisan apa itu keluarga dakwah.. (Namun dikarenakan penulis masih belum “berpengalaman” maka maaf jika terjadi banyak kesalahan,)

saat membicarakan mengenai kata “keluarga” apa yang ada di benak kita?

  • Sebuah struktur yang terdiri dari ayah dan Ibu
  • Sebuah hubungan yang terdiri dari pembinaan, penjagaan dan hal-hal yang berkaitan dengan kerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan?

tak pernah ada kesepahaman yang jelas mengenai apa itu keluarga..

sekarang jika tulisan ini ditambahkan dengan kata “Da’wah” setelah kata “Keluarga” lalu bagaimana jadi definisinya? apakah :

  • Keluarga yang setiap harinya diluar rumah seharian untuk terus mengurusi masalah ummat, namun anak dirumah sering ditinggalkan
  • Keluarga yang kerjaannya mendidik anak. tok. hanya itu, agar sang anak menjadi Anak yang telah dicita-citakan sejak awal
  • Keluarga yang suami dan istrinya alumni kepengurusan di organisasi islam di kampus atau sekolah?
  • keluarga yang dimana telah terjadi pembagian masa kerja, Kepala Keluarga menjaga rumah, Istri berkutat pada Rumah tangga
  • Keluarga yang hobinya Rapat terus (eh ini sih organisasi ya. hehe)
  • Keluarga yang Mau suami mau istri kerjaannya mencari nafkah, mencari penghasilan.

Lalu yang mana menurut anda keluarga dakwah itu? 🙂
Izinkan penulis menuturkan pendapatnya mengenai apa keluarga dakwah itu,
Keluarga da’wah itu tak hanya berbicara mengenai kondisi setelah pernikahan? 🙂 namun sejak dari proses,, dari sejak awal pertemuan, dari niat, dari visi misi yang dilontarkan,

keluarga da’wah itu, menjadikan kesatuan wadah yang ada adalah sebagai sarana untuk mencapai tujuan dengan tenaga yang super duper menjadi 2x lipat. pernah pada suatu waktu saat mengikuti sebuah agenda, pada suatu tempat, pada suatu materi, seorang ustadzah menyuruh kami berhitung, saat itu jelas kami ingat 2 x 20 + 15 +30+ 3 = 88, namun jawaban ini selalu ustadzahnya bilang “Salah” beliau tetap keukeuh jawabannya adalah 176, ketika kami menyerah beliau berkata “kalau kalian bisa meraih 2x lipat? kenapa tidak? seperti itulah menikah, menjadikan seharusnya yang hasilnya 1 bisa dikalilipatkan lebih banyak.”

Yap, tepat. Keluarga da’wah adalah saat kita tergabung menjadi sebuah keluarga, bukan kefuturan, bukan keluhan atau bukan terasa seperti beban yang dirasakan, tapi kekuatan baru, semangat baru, kawan seperjuangan baru yang akan mendukung kita selama yang Allah izinkan, menjadikan kehadirannya menjadi kenyamanan bagi kita, menjadikan diri saling bisa mengoptimalkan peranan  dimasing-masing tugas, menjadikan diri seharusnya semakin dapat bermanfaat bagi orang lain di setiap ranah yang mampu kita lakukan. itu keluarga dakwah

Menjadikan Mujahid-mujahidah yang nantinya dilahirkan adalah penerus penerus rabbani yang akan meneruskan jejak-jejak rasulNya, dengan segala kasih sayang, dengan pendidikan dan pembinaan yang kuat, yang berasal dari ketersatuan orang tua, yang dihasilkan dari segala usaha-usaha dalam jangka waktu yang panjang. itulah Keluarga da’wah

Keluarga yang senantiasa bisa saling melengkapi peran tak hanya sebagai suami-istri, ayah-ibu, tapi juga sebagai da’i yang senantiasa bermanfaat untuk sekitarnya. yang masih di kampus bisa aktif lagi di kampus, yang masih kuliah semakin semangat untuk menyelesaikan masa studinya, yang sedang kerja semakin semangat untuk menyelesaikan masa kerjanya (lho? hehe.. kacau)

Keluarga da’wah itu yang aku tau selalu menempatkan sesuatu sesuai porsinya. sesuai. tidak kurang, dan juga tidak terlalu berlebihan 🙂

Nah sekarang, bagi yang belum menikah tapi sudah siap? sok atuh dihantarkan saja “amunisi” ketempat yang dipercaya, dan bertawakallah untuk diberikan yang terbaik

bagi yang belum?

selain berdoa, yuk kita maksimalisasikan keluarga kita yang ada saat ini. dari mulai keluarga yang kita punya; keluarga Formal, dkknya.

yap. Miniatur keluarga. ada Ketua Sebagai Kepala Keluarganya, penentu pengambil kebijakan. ada Kepala Keputrian yang berfungsi untuk menjaga keutuhan internal, ada koordinator-koordinator yang berfungsi sebagai kakak yang bertanggungjawab membimbing adik-adiknya..

-Semoga kelak jika sudah masanya, semuanya dipermudah oleh Allah s.w.t-

Mohon maaf jika dalam tulisan ini terdapat banyak sekali kekurangan, karena tujuan tulisan ini dibuat bukanlah sebagai bahan diskusi panjang ataupun perdebatan, hanya menyampaikan apa yang sempat difikirkan mengenai apa itu keluarga da’wah. Kebenaran datangnya hanya dari Allah.

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi pelindung (penolong) bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah ; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. At Taubah (9) : 71).

*bingung fotonya mau menaruh foto apa, alhasil setelah googling yang panjang, terpilihlah foto ini, semoga tidak ada prasangka prasangka negatif.”

Image

Ketika Keberhasilan hanya diukur secara Kuantitas

Bismillah..
Saudaraku apa kabar hari ini?? bagaimana dengan iman? masihkah iman itu meletup letup dalam bingkai semangat menebar kebaikan? ataukah masih enggan bersembunyi dibalik karang-karang kehidupan? 🙂 semoga Allah senantiasa melindungi dan menancapkan cahaya-cahaya hidayah itu dalam jiwa jiwa kita. aamiin

Ikhwatifillah yang karena Nya kita dipersaudarakan

Apa kabar hari ini? Masihkah seluruh agenda-agenda kita  berorientasi pada Nya? ataukah agenda ini berorientasi karenanya? 🙂 Sungguh, adalah suatu kekerontangan dan kekeroposan apabila agenda ini sudah berubah tak lagi karenaNya

Ikhwatifillah yang karenaNya kita diibaratkan sebagai satu tubuh,
Jumlah bukanlah indikator keberhasilan suatu program dakwah kita telah diterima dalam suatu wilayah, sekalipun seringkali jumlah menjadi salah satu pertimbangan utama terambilnya keputusan-keputusan, namun ketika jumlah dijadikan sebagai indikator keberhasilan suatu program, indikator penerimaan kita, bukankah sama saja kita seperti event organizer tanpa makna?

hanya kelelahan, hanya evaluasi berkesinambungan, hanya rapat-rapat dan juga kejenuhan yang ada.

ah, benar ketika Imam Ghazali berbicara “marilah kita duduk untuk beriman sejenak.”

duduk, beriman, bukankah suatu makna yang dalam..

Ketika kelelahan, rasa pesimis mulai menghinggap, bukankah memang sebaiknya kita kembali ke awal, dimana jalan ini bermula..

kau ingat saudaraku? ketika Nabi Nuh menyeru kepada Manusia untuk menyembah Rabb, Tuhan Yang Maha Esa? kau tahu berapa lama? Lebih dari 900 tahun,.. kau tahu berapa banyak yang menjadi pengikutnya? tak lebih dari 100… lalu, apakah berarti dakwah nabi Nuh gagal saudaraku? 🙂

 

Kau ingat saudaraku? ketika di awal-awal risalah kenabian, bukankah banyak sekali yang mendustakan? bukankah banyak sekali rintangan? lalu apakah saat itu Rasulullah telah gagal saudaraku? 🙂

Kau ingat saudaraku? ketika dulu Nabi Ibrahim berjuang untuk memecahkan berhala-berhala yang dahulu pemuka-pemuka kaumnya sembah, berapa banyak orang yang mendampingi beliau saudaraku? berapa banyak? Lalu apakah berarti dakwah nabi Ibrahhim as. gagal saudaraku? 🙂

Lalu saat ini, jika program-program yang telah dijalankan tak banyak mengambil banyak orang, apakah berarti kita telah gagal saudaraku? 🙂 wallahu’alam

Mungkin kembali kepada awal adalah pilihan yang tepat,

ketika mungkin kita harus mulai mengevaluasi ibadah kita, tarbiyah kita, mungkin disitulah letak kelemahannya..

mungkin ketika tarbiyah tak lagi dijadikan sebagai kebutuhan, namun hanya sekedar kewajiban, sebagai penggugur agar tidak dibilang pengangguran. 🙂
ketika seharusnya masa membina dilakukan, namun kita masih tetap diam dan berkata “ana belum sholeh, masih ada yang lain”
Ketika seharusnya komitmen jama’ah dipertanyakan, namun kita masih bertanya “kenapa si a? kenapa si b? kapan?”
ketika seharusnya amanah dijalankan, kita masih enggan menjalankan dengan alasan  “tidak terasa ukhuwwahnya, belum dewasa,dsb”

Mungkin disitulah letak kelemahannya,,

Maka, mungkin saat inilah, saat-saat dimana kita harus kembali merapatkan barisan-barisan kita, merapatkan kembali lingkaran-lingkaran kita, karena sejatinya seperti inilah jalan yang telah kau pilih, “tak banyak yang bersamanya, namun kesungguhan dan perbaikan yang terus menerus selalu diupayakan”

Ikhwatifillah,

Teruslah bekerja,, karena kita tak pernah tahu, apakah selama ini amalan-amalan ibadah kita dapat menutupi segala maksiat kita

“Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga RasulNya dan orang-orang mukmin, dan kami akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang ghaib dan yanng nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telaah kamu kerjakan” (At-Taubah : 105)

teruslah berdo’a, seperti Rasulullah saw., yang ketika ditentang keras di Tha’if, yang apabila ia berdoa maka tak ada lagi halangan untuk segera dikabulkan, namun beliau membalas dengan sebaik-baik do’a, sebaik baik ucapan

Dalam sumber lain, Aisyah r.a. berkata, “Wahai Rasulullah, pernahkah engkau mengalami peristiwa yang lebih berat daripada peristiwa Uhud?”

Nabi Muhammad Saw menjawab, “Aku telah mengalami berbagai penganiayaan dari kaumku. Namun, penganiayaan terberat yang pernah aku rasakan ialah pada hari ‘Aqabah ketika aku datang dan berdakwah kepada Ibnu Abdi Yalil bin Abdi Kilal, tetapi tersentak dan tersadar ketika sampai di Qarnu’ts-Tsa’alib. Lalu aku mengangkat kepala dan pandanganku. Tiba-tiba muncul Jibril memanggilku seraya berkata, ’Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan dan jawaban kaummu terhadapmu, dan Allah telah mengutus malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan sesukamu.” Rasulullah Saw. melanjutkan, “Kemudian malaikat penjaga gunung memanggilku dan mengucapkan salam kepadaku. Ia berkata, ’Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu. Aku adalah malaikat penjaga gunung. Rabb-mu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu. Jika engkau suka, aku bisa membalikkan Gunung Akhsyabin ini ke atas mereka.” Jawab Rasulullah, “Aku menginginkan Allah berkenan menjadikan anak keturunan mereka generasi yang menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (HR Bukhari Muslim)

dan subhanallah hasilnya? kau tahu bukan lanjutan kisahnya? 🙂

semoga Allah senantiasa melindungi hati-hati kita dari ketidaksabaran, dari kekecewaan, dari kelelahan, dari segala hal yang dapat mengotori niat-niat kita. Semoga Allah senantiasa menuntun kita untuk lebih bersabar, serta menguatkan pundak-pundak kita yang sudah semakin berat, karena hanya Allah lah sebaik-baik pelindung.  Aamiin 🙂

Bekerjalah, Beramallah, sesungguhnya Allah, Rasul dan orang-orang Mukmin yang melihat tindakan kita.

Pahala tidak pernah diukur dari penerimaannya, namun dari proses, dari segala upaya yang telah kita usahakan secara maksimal, Teruslah membina, teruslah menguatkan, maksimalkan sumber daya yang ada, dan, teruslah bertahan. Wallahu’alam

Teruslah berjuang, karena sesunggunya Allah selalu bersama kita 🙂

 

Untukmu Komisariat Dakwah Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan 2013 -2014 🙂
Image