Keluarga Dakwah

(tulisan ini dibuat sebagai sebuah konsekuensi atas ketidakhadiran dalam sebuah agenda pada suatu tempat di suatu waktu. hehe, jangan berfikiran enggak-enggak ya)

“Dan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” [Ar-Rum 21].

Bismillah

Saat ini izinkan saya membuat sebuah tulisan apa itu keluarga dakwah.. (Namun dikarenakan penulis masih belum “berpengalaman” maka maaf jika terjadi banyak kesalahan,)

saat membicarakan mengenai kata “keluarga” apa yang ada di benak kita?

  • Sebuah struktur yang terdiri dari ayah dan Ibu
  • Sebuah hubungan yang terdiri dari pembinaan, penjagaan dan hal-hal yang berkaitan dengan kerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan?

tak pernah ada kesepahaman yang jelas mengenai apa itu keluarga..

sekarang jika tulisan ini ditambahkan dengan kata “Da’wah” setelah kata “Keluarga” lalu bagaimana jadi definisinya? apakah :

  • Keluarga yang setiap harinya diluar rumah seharian untuk terus mengurusi masalah ummat, namun anak dirumah sering ditinggalkan
  • Keluarga yang kerjaannya mendidik anak. tok. hanya itu, agar sang anak menjadi Anak yang telah dicita-citakan sejak awal
  • Keluarga yang suami dan istrinya alumni kepengurusan di organisasi islam di kampus atau sekolah?
  • keluarga yang dimana telah terjadi pembagian masa kerja, Kepala Keluarga menjaga rumah, Istri berkutat pada Rumah tangga
  • Keluarga yang hobinya Rapat terus (eh ini sih organisasi ya. hehe)
  • Keluarga yang Mau suami mau istri kerjaannya mencari nafkah, mencari penghasilan.

Lalu yang mana menurut anda keluarga dakwah itu? 🙂
Izinkan penulis menuturkan pendapatnya mengenai apa keluarga dakwah itu,
Keluarga da’wah itu tak hanya berbicara mengenai kondisi setelah pernikahan? 🙂 namun sejak dari proses,, dari sejak awal pertemuan, dari niat, dari visi misi yang dilontarkan,

keluarga da’wah itu, menjadikan kesatuan wadah yang ada adalah sebagai sarana untuk mencapai tujuan dengan tenaga yang super duper menjadi 2x lipat. pernah pada suatu waktu saat mengikuti sebuah agenda, pada suatu tempat, pada suatu materi, seorang ustadzah menyuruh kami berhitung, saat itu jelas kami ingat 2 x 20 + 15 +30+ 3 = 88, namun jawaban ini selalu ustadzahnya bilang “Salah” beliau tetap keukeuh jawabannya adalah 176, ketika kami menyerah beliau berkata “kalau kalian bisa meraih 2x lipat? kenapa tidak? seperti itulah menikah, menjadikan seharusnya yang hasilnya 1 bisa dikalilipatkan lebih banyak.”

Yap, tepat. Keluarga da’wah adalah saat kita tergabung menjadi sebuah keluarga, bukan kefuturan, bukan keluhan atau bukan terasa seperti beban yang dirasakan, tapi kekuatan baru, semangat baru, kawan seperjuangan baru yang akan mendukung kita selama yang Allah izinkan, menjadikan kehadirannya menjadi kenyamanan bagi kita, menjadikan diri saling bisa mengoptimalkan peranan  dimasing-masing tugas, menjadikan diri seharusnya semakin dapat bermanfaat bagi orang lain di setiap ranah yang mampu kita lakukan. itu keluarga dakwah

Menjadikan Mujahid-mujahidah yang nantinya dilahirkan adalah penerus penerus rabbani yang akan meneruskan jejak-jejak rasulNya, dengan segala kasih sayang, dengan pendidikan dan pembinaan yang kuat, yang berasal dari ketersatuan orang tua, yang dihasilkan dari segala usaha-usaha dalam jangka waktu yang panjang. itulah Keluarga da’wah

Keluarga yang senantiasa bisa saling melengkapi peran tak hanya sebagai suami-istri, ayah-ibu, tapi juga sebagai da’i yang senantiasa bermanfaat untuk sekitarnya. yang masih di kampus bisa aktif lagi di kampus, yang masih kuliah semakin semangat untuk menyelesaikan masa studinya, yang sedang kerja semakin semangat untuk menyelesaikan masa kerjanya (lho? hehe.. kacau)

Keluarga da’wah itu yang aku tau selalu menempatkan sesuatu sesuai porsinya. sesuai. tidak kurang, dan juga tidak terlalu berlebihan 🙂

Nah sekarang, bagi yang belum menikah tapi sudah siap? sok atuh dihantarkan saja “amunisi” ketempat yang dipercaya, dan bertawakallah untuk diberikan yang terbaik

bagi yang belum?

selain berdoa, yuk kita maksimalisasikan keluarga kita yang ada saat ini. dari mulai keluarga yang kita punya; keluarga Formal, dkknya.

yap. Miniatur keluarga. ada Ketua Sebagai Kepala Keluarganya, penentu pengambil kebijakan. ada Kepala Keputrian yang berfungsi untuk menjaga keutuhan internal, ada koordinator-koordinator yang berfungsi sebagai kakak yang bertanggungjawab membimbing adik-adiknya..

-Semoga kelak jika sudah masanya, semuanya dipermudah oleh Allah s.w.t-

Mohon maaf jika dalam tulisan ini terdapat banyak sekali kekurangan, karena tujuan tulisan ini dibuat bukanlah sebagai bahan diskusi panjang ataupun perdebatan, hanya menyampaikan apa yang sempat difikirkan mengenai apa itu keluarga da’wah. Kebenaran datangnya hanya dari Allah.

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi pelindung (penolong) bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah ; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. At Taubah (9) : 71).

*bingung fotonya mau menaruh foto apa, alhasil setelah googling yang panjang, terpilihlah foto ini, semoga tidak ada prasangka prasangka negatif.”

Image

Advertisements

2 thoughts on “Keluarga Dakwah

  1. topik yang menarik.. 🙂
    pernah ana mendengar cerita, setelah berkeluarga, seorang istri yang awalnya aktivis semasa lajang menjadi seorang yang terbatas geraknya karena keluarga. Bahkan statemen yang populer “setelah menikah kok sifulan ndak pernah ikut liqo’ lagi ya?” 🙂

    dimana yang salah?

    1. sebenernya enggak ada yang perlu disalahkan kak menurut ana,, mungkin kita bisa telusuri perjalanannya sampai pernikahan, pada saat proses seharusnya sudah ada pembahasan yang mendalam mengenai porsi istri setelah menikah, Kondisi Halaqoh tarbawi seorang istri, dan aktivitasnya pasca pernikahan. mungkin di bagian itu, atau bisa jadi juga saat pasca menikah, ada kondisi-kondisi ternyata (kebetulan) akhwat tersebut jarang mengikuti agenda pekanan.
      guru ana juga pernah bilang “sebenarnya adalah hal yagn sulit dalam pernikahan membagi waktu antara keluarga dan dakwah halaqoh.” tapi In syaa allah jika semuanya sudah dikomunikasikan sejak awal dan sudah di azzamkan in syaa Allah rintangan seperti ini dapat dilewati. wallahu’alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s