Month: October 2013

Dimana posisi saya hari ini?

Seringkali ketika masa-masa kelelahan hinggap, saya sering bertanya
Dimana posisi saya hari ini?
Pembela kah? Atau menjadi penentang?

Lalu saya melangkahkan kaki, dan melangkah sejenak
Kemudian tanpa sengaja kaki tersandung pada kerikil-kerikil perjalanan
Saya kemudian menegur diri dalam hati
Dimana posisi saya hari ini?
Pembela kah? Atau menjadi penentang?

Lalu saya sadari, mungkin bukan barisan ini yang berjalan begitu cepat
Tapi sayalah yang berjalan begitu lamban
Seringkali menerka, atau mungkin saya hanya bisa terdiam
Maka pantas saja jika hari ini terlontar pertanyaan
Dimana posisi saya hari ini?
Pembela kah? Atau menjadi penentang?

Kemudian saya berlari, untuk mengejar ketertinggalan
Namun saya sadar, bukan mereka yang tak kompak
Tapi sayalah yang menyalahi barisan,
Terkadang keluar dan masuk seenaknya
Maka apakah layak, jika saya bertanya pada orang lain
Dimana posisi antum hari ini?
Pembela kah? Atau penentang?

Rasa-rasanya saya perlu duduk sejenak untuk merasakan angin lembut berhembus
Atau mendengar cicit burung yang telah lama tak ku dengar nyanyian merdunya
Atau mungkin melihat hijaunya dedaunan atau gelapnya malam
Mungkin aku perlu duduk sejenak, untuk memikirkan semuanya

Siapakah yang lebih sering menyalahi aturan barisan?
Mereka? Atau sebenarnya jawaban itu ada pada diri saya?
Atau sebenarnya duri, luka nanah, itu berasal dari dalam diri saya?
Mungkin memang demikian adanya….
Maka saya berharap ketika angin berhembus
Sesegera mungkin jawaban itu berharap ku dengar
“Dimana posisi saya hari ini?
Pembela kah? Atau penentang?”

Yaa Muqollibal Quluub… Tsabit Qulubanaa ‘ala diinik

Rumah Qur’an

Alhamdulillah,, Allah mengabulkan salah satu mimpi terbesar saya, akhirnya ditahun kedua ini dengan IzinNya, telah berdirilah sebuah rumah, yang insya Allah menjadi awal kebangkitan gerakan dakwah fakultas. rumah yang pada awalnya kita jadikan sebagai Rumah Dakwah Komda FKIK sekaligus bekerjasama dengan Rumah Qur’an Daarut Tarbiyah, akhirnya rumah ini kita beri nama Rumah Qur’an Ciputat. Alhamdulillah segala puji bagiNya, rumah ini dapat menjadi basis pergerakan akhwat dakwah fakultas kami.

pada awalnya, ingat sekali bagaimana mimpi itu hanya tertulis dalam secarik kertas, yang kutulis “bisa mendirikan rumah dakwah” ternyata Allah mengabulkan mimpi itu, bahkan tak hanya itu, rumah ini diberi kelebihan, tak hanya sebagai markas dakwah tapi juga markas Al Qur’an. selanjutnya mimpi itu tertuang dalam lisan, tersebar dalam isu, dan akhirnya terkelola dalam sebuah strategi dan visi misi yang jelas.

Masa Pencarian rumah, pencarian dana, pencarian orang, tak pelak menjadi tempat seleksi alam yang sangat jelas bagi kami, dari yang awalnya lebih dari 11 orang dengan ghirah yang sama, kini Allah menyeleksinya langsung menjadi 8 orang. hingga pada akhirnya saat nostalgia pertemuan kita disuatu malam ada seseorang al ukh yang berkata ” Allah yang langsung menyeleksi kita,ya.”

dan kau tahu, ternyata Allah pun memudahkan dalam proses, bagaimana sampai akhirnya rumah ini menjadi rumah Qur’an. bagaimana visi yang tertuang dalam proposal adalah ” Menjadi tenaga Kesehatan yang Hafal Al Qur’an” semakin nyata, bagaimana ustad menyambut kita dirumahnya, bagaimana akhirnya seorang musyrifah yang (alhamdulillah) sudah hafidzah menjadi pengajar di rumah kita. bagaimana akhirnya targetan tilawah 3-5 juz/hari, QL, almatsurat jama’i, shalat sunnah, memasak, jadwal piket menjadi sebuah keharusan agar rumah ini adalah “rumah kita”

menjadi sebuah kesyukuran ketika setiap pekan ustad datang dan memberikan kajian rutin dirumah, lalu menanyakan mutabaah kami dan memotivasi jika belum memenuhi targetan, adalah sebuah hadiah yang subhanallah,, sangat terasa atmosfer kenyamanan dalam rumah ini..

tak jarang kita temukan, saudari kita yang tertidur sambil memeluk mushafnya, atau mushaf selalu terletak didekatnya. dan celotehan kita adalah “jangan biarkan saudari kita tertidur di jalan dakwah, bangunkan” ahaha, lucu tapi benar.. atau rasanya saat berusaha untuk tidak tidur terlelap,  maka kasur hanya akan jadi pajangan. suara saat ustad sudah hadir pada jam 05.00 untuk memberikan kajian, pun tak jarang kita jumpai sindiran ustad “anti jangan jadi AS, Ahlul Syuro tapi ga bisa masak.” ahaha, dari situ kami belajar bahwa memasak adalah hal yang sangat urgent karena darisana kami belajar untuk memilah makanan-makanan yang halal dan benar-benar thayyib bagi diri kita sebagai asupan menghafal Al Qur’an (walaupun masih suka juga iseng cari makanan luar)

atau bagaimana, saat jam efektif Al Qur’an akan banyak suara yang ditemukan di ruang tamu, di kamar, di dapur, ruang atas, ah aku rindu 🙂

semoga Allah senantiasa mengistiqomahkan langkah kita di jalan ini ya ukh,

menjadi rumah yang selalu dirindu penghuninya, insya Allah 🙂

*terima kasih sudah membersamai 2 bulan ini. 🙂 semoga mimpi-mimpi untuk menjadi hafidzah Al Qur’an pun dipermudah oleh Allah s.w.t. sekalipun ditengah-tengah kesibukan menghadapi kuliah dan organisasi ^^. uhibbukunna fillah

Bekasi, 15-10-2013
Image