Kita Hidup untuk Hidup, bukan untuk MATI

(essai ini sempat saya ikut sertakan pada sebuah lomba disebuah tempat pada suatu waktu)

Keberhasilan kita tidak diukur dari seberapa berharta dan tinggi kedudukan yang bisa kita capai, tapi terutama dinilai dari kebaikan dari jalan hidup kita. Apakah baiknya, menjadi kaya untuk dibuktikan sebagai pencuri, atau berkedudukan tinggi yang dihujat karena tak tegas mencegah penjahat melanjutkan kejahatan? Keinginan Tuhan itu sederhana. Jadilah jiwa baik yang mendatangkan kebaikan bagi sesama.

-Mario Teguh-

            Kehidupan yang dijalani oleh seluruh manusia hari ini, sebagian besar hanya memberikan gambaran pada runtutan fase kehidupan. Menjadi bayi, lalu anak-anak, dewasa , menua, hingga akhirnya wafat. Akhirnya, kehidupan yang kita jalani hari ini hanya terbatas pada target-target terbatas yang banyak dilakukan oleh manusia pada umumnya. Kehidupan hanya dijadikan sebagai sesuatu hal yang tidak menyenangkan dan tidak ada arti yang mendalam. Maka tak pelak, saat ini kasus-kasus akibat degradasi moral sudah marak terpampang dihadapan kita. Kasus bunuh diri, pemerkosaaan, pembunuhan dan lainnya merupakan pengejawantahan dari tidak adanya harapan dan mimpi yang menggantung serta tidak adanya visi dan misi yang hendak dicapai oleh mayoritas manusia hari ini.

            Kita Hidup itu bukan untuk MATI. Karena MATI berarti berhenti bergerak, berhenti menciptakan perubahan, berhenti menginspirasi kehidupan orang lain, berhenti bermanfaat untuk negara dan dunia. Lalu apa itu MATI?

M = Mencari

A= Alasan

T= Tidak

I = Inspiratif

            Jadi, dapat dikatakan kita HIDUP itu BUKAN untuk Mencari Alasan Tidak Inspiratif. Karena dengan MATI maka kita tidak bisa melakukan banyak hal. Tidak dapat membuat perubahan pada banyak hal. Berapa banyak pada hari ini kita harus menyaksikan Mahasiswa cerdas yang hanya bergantung pada hasil test-test kepegawaian, anak-anak kecil sudah asik bermain dengan gadgetnya, ibu-ibu hanya berfungsi sebagai penyambung gossip antar tetangga, bapak-bapak hanya sibuk mencari nafkah. Akhirnya maka sudah dapat ditebak, apabila contoh-contoh “MATI” ini dibiarkan, maka akan berdampak pada KEMATIAN atas rasa simpati dan empati kemanusiaan. Padahal, jika kita melihat berbagai potensi yang ada pada seluruh lapisan masyarakat, setiap orang memiliki macam-macam potensi menakjubkan yang apabila diasah dan terus digali akan sangat bermanfaat dalam kehidupan. Hal ini sangat berkaitan dengan sikap nasionalisme, karena sebagai seorang manusia yang berjiwa Nasionalis, kita harus memastikan bahwa terjadinya kemakmuran dan keadilan pada seluruh rakyat Indonesia dapat dirasakan oleh semua orang, tanpa harus saling tunjuk menunjuk siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas kasus yang sangat kompleks di negeri kita.

            Oleh karena itu, untuk melejitkan segala potensi agar hidup kita menjadi bermakna dan dapat dirasakan manfaatnya oleh banyak orang, kita harus HIDUP. Karena tujuan Hidup adalah untuk HIDUP. Lalu bagaimana caranya Hidup? Saya mempunyai kunci agar Hidup tetap HIDUP. Yaitu,

H = Hindari segala pemikiran, perkataan, perbuatan yang membatasi visi misi utama kehidupan kita sebagai ummat Islam yang rahmatan lil alamin. Ummat Islam yang rahmatan lil alamin adalah manusia yang senantiasa memaksimalkan potensi dan menjadikan visi misi kehidupan  tidak hanya pada menciptakan hal-hal yang kecil tapi juga pada hal-hal yang besar. Bagaimana caranya? Salah satunya, kita bisa mencoba untuk berhenti mengeluh, dan terus berusaha untuk memiliki mimpi dan targetan yang besar, serta yakin bahwa Allah lah yang akan mewujudkan mimpi kita apabila kita telah berikhtiar dengan penuh kesungguhan.

I = Insprasikan dirimu. Hidup didunia ini hanya sebentar dan tidak kita ketahui kapan batas akhir waktunya. Lakukanlah apa yang bisa kita lakukan hari ini secara maksimal. Maksimalkan segala potensi yang ada di dalam diri kita. Dalam hal ini, jangan pernah pedulikan respon orang-orang lain yang hendak menggembosi dan mentertawakan segala tindakan kita. Kita hanya perlu untuk mengeksplorasikan aktivitas-aktivitas kebaikan yang tidak hanya kita sukai, namun juga dapat diaplikasikan dan membawa perubahan bagi orang-orang disekeliling kita. Mahasiswa misalnya, bisa menginspirasi orang disekitarnya dengan cara mengikuti lomba-lomba keilmuan, seminar kepemudaan, membangun desa binaan, membuat komunitas sosial, dan sebagainya. Begitu juga halnya dengan yang sudah dewasa, bisa membuat Majelis Ta’lim, Karang Taruna, Komunitas – Komunitas yang bermanfaat lainnya. Intinya, jangan pernah jadikan peranan kita saat ini menjadi sesuatu hal yang tidak bermanfaat dan tidak dapat menginspirasi orang lain untuk turut serta membangun kemajuan bagi Negara dan Agama.

D = Dengarkan kejadian yang terjadi disekeliling kita. Kita harus menyadari bahwa dengan mendengar kita akan menjadi lebih peka terhadap apa yang terjadi pada kondisi manusia saat ini. Kita bisa lebih respect sehingga dapat melakukan berbagai macam solusi perubahan yang terjadi. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menyaksikan, sebagian manusia sudah tidak peka lagi terhadap kondisi orang lain, bahkan tidak lagi peka terhadap kondisi dirinya sendiri. sikap individualitas inilah yang sebenarnya lahir dari sikap menutup pendengaran kita secara terus menerus terhadap segala yang terjadi di sekeliling kita.

U = Ikuti segala petunjuk yang telah diberikan kepada kita sebagai petunjuk hidup untuk kebahagiaan di dunia dan di akhirat, yaitu dengan mengikuti petunjuk Al Qur’an dan As-Sunah. Kita harus yakin bahwa Islam adalah agama yang syumul (sempurna). Kehidupan di zaman Rasulullah dan sahabat-sahabatnya adalah salah satu contoh asli bagaimana cara menginspirasi, dan terus memotivasi tidak hanya untuk umat muslim, namun seluruh lapisan masyarakat di sekitarnya.

 P =  Perbaiki diri. Inilah hal yang sangat penting dalam proses kehidupan. Sebagai seorang manusia, kita harus senantiasa untuk terus memperbaiki diri setiap harinya. Jika kita mau menginspirasi orang lain, kita harus senantiasa menginspirasi diri kita dengan terus melakukan evaluasi atas sikap dan perilaku kita, serta adanya komitmen untuk memperbaiki diri.

            Apabila HIDUP itu sudah diaplikasikan dalam kehidupan kita, maka kita menjadi yakin dan optimis bahwa hidup tidak hanya sekedar hidup, tapi bagaimana melejitkan potensi yang kita miliki untuk bisa terus menginspirasi orang lain pada jalur kebaikan.

Anda tidak perlu menjadi makhluk yang lebih baik dari makhluk lain, anda hanya perlu membangkitkan asa dalam diri anda untuk menjadi lebih dari apa yang pernah anda bayangkan.

-Ken Venturi-

 

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s