Karena Memang bukan Prioritas

Senja Sore ini mengundangku untuk berfikir lebih dalam,
Dibalik hawa Rumah Sakit,
Dalam gemuruhnya rintik-rintik hujan,
Dalam riuhnya pasien yang lalu lalang disepajang perjalanan
Ditengah percikan langkah anak-anak pengojek payung

Saya berfikir lebih dalam
tentang apa yang telah saya lakukan
tentang Apa yang selama ini saya impikan
tentang apa yang selama ini saya usahakan untuk realisasikan

Hingga saya sadar,
Seringkali dalam perjalanan ini saya kehilangan arah
Seringkali dalam perjalanan ini saya merasa telah salah melangkah
Seringkali dalam perjalanan ini saya telah merasa berdosa

Hingga saya tahu
Banyak agenda yang saya tinggal
Banyak rapat yang tak saya hadiri
Banyak tugas yang tertunda
Bahkan…. ada sebuah kepahitan disini

Banyak HAK saudaraku yang belum selesai tertunaikan. 😥

Sepanjang perjalanan
saya mengevaluasi semuanya
ternyata jawaban ini mengarah kepada sesuatu hal
“Karena saya belum pernah menjadikan Hal itu Prioritas..”

Saya ingat dengan jelas disaat dahulu, dalam sebuah forum,
Guru saya pernah berkata

“Apa yang salah dengan kelompok ini, Apakah Pengetahuan? tidak, kalian adalah orang-orang yang sudah lama tertarbiyah, lalu apa?”

dan saya hanya bisa terdiam, sambil menghela nafas saya berkata dalam bisik “mungkin agenda ini belum memiliki urgensi untuk mereka mi”

dan dirimu menjawab “Karena Agenda ini belum menjadi Prioritas untuk yang lain. Usia tarbiyah tidak menentukan apakah ia memiliki manajemen waktu yang semakin baik.”

Yap. Benar. Prioritas.

Berapa banyak agenda dakwah yang telah saya tinggal?
Berapa banyak syuro yang tidak saya hadiri?
Berapa banyak tugas yang saya lalaikan?

Banyak.

Lalu berapa banyak hak atas saudara saya yang telah saya lalaikan? T.T

Status Whatss App mu telah mengubah segalanya
Menyadarkanku bahwa tak seharusnya saya sibuk dengan diri sendiri
Tak seharusnya saya membiarkanmu untuk menanggung beban itu sendiri
Menyadarkan saya bahwa kamu adalah salah satu saudara saya yang harus dipenuhi haknya

 

Prioritas, membuat semuanya terlihat real
Kadang membuat semuanya terlihat menyenangkan
Namun, saya masih terlalu sulit membaginya

Lalu saya berfikir,
Ketika nanti di akhirat kelak,
Ketika Milyaran manusia
Menonton aktivitas apa yang telah saya lakukan selama hidup
Berapa banyak kedzaliman yang telah saya lakukan
Berapa banyak hal-hal prioritas -yang membawa banyak manfaat bagi banyak orang- saya tidak lakukan secara optimal

Apakah yang akan dijawab di akhirat kelak?

– Sibuk?
– Tidak ada waktu luang?
– Ada hal prioritas lain? lalu kenapa harus melalaikan yang lain?

Hal itu sendiri yang masih belum bisa saya jawab.

 

Hanya saja renungan itu membuat saya mengambil kesimpulan

Bahwa “dijalan ini” semuanya adalah prioritas, No. 1,1,1,1
Bukan seperti No. 1,2,3,….

Bahwa Kegiatan dakwah adalah prioritas
Bahwa Kontribusi amal kita sekecil apapun adalah prioritasBahwa memenuhi hak saudara kita adalah prioritas

Dan semoga Allah melindungi kita dari sikap menyianyiakan waktu dengan hal tidak bermanfaat.

-Bekasi, dikala Buku Tazkiatun Nafs Said Hawwa, Laptop, handphone dan Instrumen Menyatu di satu tempat-Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s