Month: May 2014

Teman Bermimpi :)

Tulisan ini dipersembahkan khusus hanya untuk seorang teman saya yang bertambah usianya pada tanggal 30 Mei 2014 kemarin, semoga Allah senantiasa menguatkan, mengistiqomahkan jalan dakwah yang telah beliau pilih, serta Allah memudahkan dalam proses pernikahannya yang berlangsung pada tanggal 08 Juni 2014

Bismillah..

Aku mengenalmu kira-kira pada akhir bulan Agustus, menjelang masa Orientasi Pengenalan Akademik dan Kebangsaan (OPAK) tahun 2011. Saat itu aku sedang berdiri di depan pintu asrama nomor 518, menunggu seseorang yang memegang kunci pintu itu. Lalu akhirnya aku tahu, dirimu lah yang bernama FA itu. 🙂

Masa-masa opak berlalu, kita tinggal dalam satu kamar, bersebelahan disaat tidur.Dahulu, sangat sering di malam-malam, kita menghabiskan waktu berdua, menceritakan cerita rahasia kita, tentang keluarga, saudara, dan semuanya. Sering engkau bertanya kepadaku, ketika aku sedang mengerjakan tugas atau saat membaca buku sebelum tidur. Kamu adalah sosok yang menyenangkan menurutku, orang yang lucu, polos, apa adanya, dan Open minded, aku menyukaimu saat engkau mengatakan sesuatu yang engkau anggap tidak sesuai, atau saat dirimu bermimpi besar.

Hingga di semester 2, dirimu mengajukan untuk bergabung dengan kami, Komisariat Dakwah FKIK, sebuah Lembaga Dakwah yang berada di Fakultas. Dirimu adalah seorang hijabers unik, pakaian yang dirimu pakai sangat syar’i, kerudungmu menutup dada, sering aku merasa malu karena semangatmu sangat besar untuk mempelajari sesuatu 🙂

Sebelum masa regenerasi komda, saat itu kita mengadakan mabit, dimana ada ayat Al Qur’an yang cukup banyak yang harus dirimu hafal, aku melihatmu dengan gigih berusaha menghafal, sepertinya tidak ada dalam kamusmu untuk tidak mengikuti agenda ini, padahal aku tahu bagaimana rasa takutmu saat engkau terpilih menjadi calon ketua keputrian tingkat fakultas saat itu.

Aku sangat suka ketika engkau benar-benar membersamaiku, engkau adalah koordinator keputriannya, aku adalah kepala keputriannya. Koordinasi dikala itu terasa sangat mudah, entah mengapa, aku merasa aku dapat memimpikan dakwah fakultas tanpa beban, tanpa halangan, tanpa perlu pikir panjang, karena aku merasa kita adalah partner yang sangat tepat. dan dimanapun aku dan dirimu bertemu, yang menjadi bahasan kita adala bagaimana untuk terus menghidupkan mimpi dalam organisasi ini. 🙂

Perubahnmu menjadi seorang akhwat muslimah pun akhirnya terjadi disini, ketika engkau hampir setiap hari menanyakan kepadaku mengenai bagaimana jika tampilan kerudungnya berubah menjadi kerudung segi empat sepertiku, rasa haru bahagia rasanya diri ini setiap saat ketika engkau mengatakan ingin berubah menjadi lebih baik. dan akhirnya engkau berubah menjadi muslimah anggun, semoga Allah senantiasa menancapkan hidayah dan keistiqomahan pada kita 🙂

Dirimu adalah seorang yang loyal, yang menyumbangkan harta dan jiwanya untuk kemajuan dakwah fakultas, dan aku adalah seseorang yang senantiasa menghalangimu agar dirimu tetap menyisakan uangnya untuk dirimu dan untuk mimpi umroh mu yang seharusnya cepat tercapai. (afwan yaah..). namun walaupun begitu, dirimu tetap berbelanja, menyiapkan hal-hal terbaik tanpa sepengetahuanku.

Aku rindu, ketika setiap hari senin engkau pasti akan meneror ku untuk segera menghubungi pembicara keputrian, membuat sertifikat, dan dirimu pasti sibuk dengan design publikasi dan jarkoman. setiap ada dirimu selalu ada kejutan, selalu ada ketertarikan yang akhirnya membuat dakwah ini mudah diterima oleh muslimah. dirimu bukanlah orang yang malu-malu, namun sebaliknya, dirimu adalah orang yang sangat terang-terangan dalam mengajak orang lain menuju jalan dakwah ini.

Hingga bulan Juni, ketika engkau memutuskan untuk kembali ke Sulawesi lebih awal, aku berhusnudzan bahwa sedang ada sesuatu yang hendak dirimu selesaikan, lama menunggu, dirimu mengirimkan kue pie bali ke rumah. Aku tak pernah tahu, bahwa itu adalah ucapan perpisahan yang tak sempat dirimu sampaikan kepadaku sebelum dirimu pergi.

Di pertengahan Juli-Agustus, saat dirimu seharusnya sedang mengurus ospek jurusan, dirimu mengatakan kepadaku bahwa dirimu tak akan kembali lagi kesini. Saat itu rasanya seperti ada petir, kilat dan hal-hal yang menyeramkan lain yang menyerangku. Kamu tahu? entah mimpiku terasa hilang saat itu, rasanya semua perasaanku hanya untuk menangis, entah karena apa. Dan ternyata itu memakan waktu hingga 3 hari.

Namun aku sadar, ada atau tidak adanya dirimu, dakwah fakultas harus tetap berjalan. Dan tahukah? aku benar-benar menutup perasaanku rapat-rapat agar tidak semua orang mengetahui sedalam apa rasanya ditinggal sahabat terbaik sepertimu saat itu. Regenerasi pun berlanjut, aku mencari pengganti dirimu untuk membantuku mengurus masalah teknis dalam struktur Komda.

Cukup lama tidak ada komunikasi diantara kita, lebih sering aku menghubungimu dan tidak ada nomor yang aktif, sampai akhirnya nomor telkomselmu menghubungi kembali. Kamu tahu? betapa sangat senangnya diriku ketika akhirnya kamu kembali hadir.

Bulan-bulan selanjutnya, ketika permasalahan fakultas yang tak bisa ku tanggung sendirian, aku selalu menghubungimu, dan kamu pasti langsung menelfon ku “Niken kenapa?” seperti itulah pertanyaanmu. dan seperti biasa, aku hanya bisa menangis lama sekali saat itu, aku menceritakan semuanya, dan seperti biasa jawabanmu selalu lebih menguatkan. Aku selalu melihat mimpi itu ada, bahkan lewat suaramu aku tahu bahwa mimpi itu masih ada..

Aku sangat takjub ketika dirimu bilang “Niken, kalau ada kurang uang atau makanan apa2 di komda, bilang ya, siapa tau aku bisa kirim pie itu setiap acara keputrian, atau aku transfer aja ya” dan jawabanku tetap “aku butuh kamu kesini, uangnya dipakai buat pesawat aja supaya FA bisa kesini. 😥 ” Aku hanya sering sekali merindu, berharap seperti yang engkau katakan padaku pada tanggal 20 Januari 2012 silam, bahwa engkau akan selalu membantuku disampingku.

Sekarang aku sudah di semester 6, memasuki tahun-tahun terakhir dalam dunia perkuliahan. Dirimu juga sudah semakin expert dalam berbagai ilmu agama yang dirimu pelajari disana, namun bagiku polos dan ceriamu itu masih sama, cara berbicaramu pun masih sama.  dan dirimu masih tetap Sahabat yang selalu dirindukan.

Usiamu sudah bertambah, dirimu semakin dewasa, semoga Allah memberikan keberkahan dalam menjalani kehidupanmu ya, memberikan yang terbaik, melindungi dirimu dari kejahatan dengan cinta Kasih Nya, dan semoga kita dapat berkumpul di JannahNya kelak,

 

*Mencintai saudariku yang ini setulus sifatnya, mencintai saudariku ini selembut hatinya, mencintainya karena Allah.*

 

Bekasi, 31 Mei 2014 -Disaat menunggu hari-hari menjelang pernikahan dirimu

Bagimu diriku cukup mengagumkan, namun bagiku engkau sangat menakjubkan

 

 Image

Foto diambil pada tahun 2011

Two deaths one hour, thirteen minutes, and thirty-nine seconds apart

Sixteen Minutes to Palestine

In his final moments, Muhammad Abu Daher, 16, clutches the right hand of a man desperately shouting for help. Muhammad would die in that position, exactly one hour, thirteen minutes, and thirty-nine seconds after Nadeem Siam Nuwara, 17, was gunned down by Israeli soldiers the very same way.

One down. It’s about 1:30 now. This will teach them a lesson they won’t forget.

Nakba Day demonstrations are normally sore experiences. Commemorating decades of mass displacement, land theft, and military occupation is mentally excruciating. But the physical toll was put on display during this year’s protests in the West Bank village of Beitunia when three teens took bullets to the torso one after the other. Three attacks, all isolated, systematic. Two dead, families torn. One in stable condition. Luck was on his side today. The hole in his left lung will heal.

It’s almost 3:00 in the afternoon. They haven’t forgotten but let us remind…

View original post 239 more words

Saya Memilih Mundur, Bolehkah?

 Allah Swt. Berfirman: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”

-Qs. Ali Imran : 103-

Bismillah,

            Hari ini izinkan saya kecewa, pada segerombolan oknum yang tangan kanannya tengah menunjuk orang lain yang dituduh mencuri, sedangkan di balik saku kirinya tergenggam barang curian. Atau pada segerombolan oknum yang kalimat dari mulutnya terlafalkan bacaan Al Qur’an, tapi disaat yang lain ayat-ayat itu digunakan untuk menyerang saudarinya. Atau pada manusia-manusia yang senantiasa pindah berecramah dari masjid ke masjid, namun ia tak dapat menahan dirinya, dari kata-kata kotor ataupun aktivitas yang tidak bermanfaat.

            Hari ini izinkan saya berteriak kecewa, pada segerombolan oknum, yang telah lama berkecimpung di dunia dakwah, namun lebih sering meninggalkan teman di dunia dakwah sendirian. Atau pada barisan-barisan yang berteriak bahwa kita itu satu tubuh, namun tak pernah tahu kondisi tentang saudaranya

            Hari ini izinkan saya menunduk pilu, pada kelemahan yang terjadi. Ketika, umat islam terlalu takut untuk berdialog dengan ilmunya, dan memilih merenung diam dibalik maraknya kebhatilan. Atau pada kondisi umat islam yang semakin tergerus dengan degradasi moral yang tak terkendalikan yang akhirnya membuat segalanya lebih terlihat abu-abu daripada hitam atau putih.

            Hingga mungkin hari ini, saya memutuskan sebuah hal : Saya Keluar dari Barisan Ini. Kelelahan ini membuat semuanya terasa terpura-pura, lebih terasa seperti ketidaksesuaian dengan idealism yang telah saya perjuangkan selama ini. Seperti inikah barisan yang disebut barisan dakwah itu? Benarkah saya harus meninggalkan barisan ini?

            Seketika semua menjadi hening, detik jam tak lagi terdengar detakkannya, alunan murattal Al Qur’an tak lagi terdengar, bahkan suara tertawaan manusia di sekitar tak dapat mengalihkan pendengaran dari suara yang hanya bisa saya dengar saat ini : Suara Tangisan. Keluhan atas Kelelahan. Lalu benarkah pilihan ini?

Tidak!!

            Secara kemanusiaan mungkin bisa jadi, saya merasa lelah, merasa tertinggal, merasa sendirian. Namun, bukankah Allah telah memberikan pertolongannya lewat manusia-manusia lain yang berada di sekitar? Bukankah Allah telah sedikit demi sedikit membukakan hati kepada saudari-saudari yang lain untuk perlahan demi perlahan ikut membantu dakwah saya? Lalu mengapa saya tidak bersyukur? Allah lah yang akan memberikan pertolongan.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pastinya Aku akan menambah nikmat kepada kamu, dan sesungguhnya jika kamu kufur, sesungguhnya azabKu adalah benar-benar pedih. –Qs. Ibrahim :7-

            Secara kemanusiaan bisa jadi saya merasa kecewa. Akan tetapi, Hei, untuk apa saya disini selama ini? Bukankah untuk menegakkan kalimatNya? Bukankah takkan pernah saya temukan barisan yang sempurna? Takkan pernah ada barisan yang ideal? Takkan pernah ada.

            Mungkin selama ini pemikiran saya yang salah, menganggap mereka adalah malaikat, sehingga saya sering lupa, bahwa mereka adalah manusia, sama seperti saya, yang perlu dinasihati ketika salah, yang perlu didukung ketika benar. Mereka hanyalah manusia yang sama-sama berjuang seperti saya, namun sayalah yang salah kaprah menganggap mereka bak malaikat, tanpa dosa, tanpa celah.

            Kemudian saya mengingat kembali, mengapa akhirnya saya bergabung dalam barisan ini. Bukankah dahulu cara-Nya sangat indah dalam mempertemukan saya dengan jalan kebaikan? Bukankah rasa-rasanya itu masih terjadi beberapa hari sebelumnya? Tak dapatkah saya rasakan lagi hawa-hawa ketenangan, aura kesejukan itu? Bukankah sejak saat itu saya selalu punya mimpi yang ingin diwujudkan dimanapun saya berada? Tak ingatkah saya mengenai mimpi indah itu? Bukankah saya masih ingin berusaha agar orang-orang dapat merasakan udara ketenangan dan kesejukan atas indahnya Islam? Lalu mengapa hari ini saya harus mundur hanya karena tindakan beberapa oknum saja?

            Pun Jika saya akhirnya memilih mundur, lalu akan kemanakah saya? Siapakah saya apabila seorang diri? Siapkah saya ketika harus melawan derasnya arus kebhatilan sendirian? Nabi Musa saat berdakwah saja meminta Harun sebagai sahabatnya, lalu dengan siapa saya harus berjuang jika harus sendirian?

            Apakah pernah ada jaminan bahwa saya akan lebih baik jika sendirian? Takkan pernah. Yang bersama dalam barisan saja bisa saja mundur dan berguguran, lalu jadi apa saya jika sendirian?

            Bergabung dalam jamaah mungkin bukan sebuah kewajiban, namun itu adalah sebuah kebutuhan. Karena saya takkan bisa pernah bertahan dalam kesendirian.

Berjamaah mungkin seringkali menyakitkan, tapi  berjamaah lebih sering memberi kita arti yang mengagumkan mengenai persaudaraan.”

Maka saya akhirnya faham, bahwa meninggalkan barisan bukanlah sebuah solusi pilihan yang sempurna, bisa jadi ia hanyalah sebuah pelarian yang membuat kita menjauhi barisan, membuat kita merasa bahwa kehidupan ini hanya lah memikirkan diri kita sendiri, membiarkan pikiran kita idealis sendirian, membiarkan tindakan kita seidealis pemikiran kita. Bertahan mungkin bukan pilihan yang menyenangkan, namun bisa jadi itu adalah sebuah pilihan yang menguatkan, sebuah pilihan mengenai Kesabaran, Kepasrahan dan Tanggung Jawab.

Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Taubah [9]: 105)

Sebagai penutup, izinkan saya menyampaikan pesan singkat dari seseorang yang sangat saya hormati dalam perjalanan dakwah saya hingga hari ini

“Antunna, jangan pernah mengira bahwa cara Allah menyingkirkan orang-orang yang tidak pantas berada di barisan ini adalah dengan memutar balikkan sifat orang itu 180o, karena bisa jadi Allah akan membuat orang tersebut perlahan-perlahan semakin menjauh dengan barisan, dan akhirnya memutuskan sendirian karena merasa dirinya lebih baik sendiri, dan akhirnya ia akan gugur seperti pohon yang tak pernah berbuah, hanya bisa meneduhkan sesaat tanpa ada kebermanfaatan lebih selanjutnya.”

Semoga Allah senantiasa menguatkan kita untuk senantiasa berpegang teguh pada Tali ikatan (Agama) Allah,

 

Bekasi, 17-05-2014
#Sebuah tulisan yang ingin sekali ditulis sejak beberapa tahun lalu, namun baru berani menulisnya di blog hari ini 🙂Image

Perjalanan

senja itu memaksaku untuk terdiam lebih dalam, ditengah sesak udara perjalanan, di cipratan-cipratan embun yang mengering di dedaunan, dan aku memaksa diriku berjalan. Jika seseorang menemuiku di kala sesak, ingin rasanya berlari menuju kumuhnya pinggiran kota. tapi kau tahu, bahwa aku tak hendak menemui, tak hendak berhenti, tak hendak beristirahat, pikiranku seluruhnya hanya untuk menyelesaikan perjalanan ini dengan apa yang aku mampu. jika kau bertanya tentang rasa, perasaanku hanya bagaimana agar aku bisa menghadapi segala rasa sakit duri di perjalanan batu-batu kerikil yang menmbuatku terkejut atau bahkan sampai terjatuh.

aku hanyalah seorang penikmat jalanan,perjalanan yang telah diambil ini, entah aku memutuskannya untuk apa. Namun, sesekali aku masih sering melihat kebelakang, untuk memastikan bahwa aku sempat mempunyai kenangan, sempat mempunyai masa kelam. Lalu terlebih sering aku mengadahkan wajahku untuk melihat langit, untuk melihat bintang-bintang yang bersinar menerangi perjalanan, atau pada awan-awan tebal yang kerap kali menururunkan airnya untuk membersihkan jalan. dan aku menjadi yakin, bahwa Rabbku masih memberikan harapan untuk meneruskan perjalanan.

Dalam perjalanan, aku sangat suka ketika menemui orang-orang dalam perjalanan, terkadang menyulitkan memang, namun lebih sering mereka lah yang memberi arti dalam perjalanan. lalu saya sadar, terkadang ingin sekali rasanya beristirahat. namun orang-orang dilingkaran yang kutemui setiap persimpangan, mereka selalu menguatkan.

 

Pun tak jarang kutemui orang-orang yang memalaikatkan dirinya, dan menganggap rendah orang lain, menunjuk orang lain seakan-akan hina, lalu kemudian menyematkan tanda “kemalaikatannya” lewat kata-kata meninggi nan tak berdasar, tapi saya tahu mereka bukanlah malaikat, justru mereka lah yang sedang mencari pengakuan atas dirinya yang tak bisa ditemukan melalui dirinya.

Bagaimanapun, bagi saya perjalanan ini terasa menakjubkan. ia hadir dengan seluruh ekosistem yang menyemai mewarnai perjalanan. Semoga Allah senantiasa kuatkan langkah, senantiasa kuatkan bahu , senantiasa menjaga dalam pendengaran dan penglihatan

Ciputat, 13 Mei 2014, ditengah menikmati bagian dari perjalanan

Image

Alhamdulillah Selesai

Akhirnya Persiapan 5 bulan itu selesai sudah, 🙂
Berawal dari sebuah group yang dibentuk untuk memungkinkan kita syuro online, hingga kopdaran di peristiwa walimahan dan syuro akbar. Rasanya melegakan..

Alhamdulillah,

acara tadi berjalan dengan sangat lancar, (walaupun kacamata lupa ditaruh dimana. hehe) dan akhirnya perlu untuk terus ngomong panjang hanya untuk tahu dimana kondisi yang lain dengan jelas, tapi Allah menunjukkan kemudahan..

 

Dimulai dari agenda H-1, dimulai dari syuro persiapan, rasanya antara cemas, dan benar-benar mengevaluasi ulang segala persiapan, mengurus tempat tidur, hingga rasanya tengah malam dan syuro masih terus dilanjutkan ( afwan ustadz ga bisa memenuhi tugas untuk bisa tilawah 30 juz dalam satu hari saat itu, hanya bisa setengahya sajaa 😥 )

berlanjut pada hari H tadi, istirahat 1,5 jam, ngantri mandi 1 jam lebih, dan Allah menunjukkan kemudahan lagi, dimulai dari penjemputan odoj termuda dan tertua dari jam 05.00-08.30 dan alhamdulilah tepat sesuai kehadiran….  muter-muter nyari kupon, kacamata hilang, hp ngehang, mantap lah sudah, dan alhamdulillah Allah menunjukkan kemudahan, battery HT yang digunakan tidak habis, sehingga bisa mudah mengunakan untuk komunikasi,

hingga siang persiapan dalam salah satu acara tv,, saya ingat, saya melewati teman2 saya dan saya mengira itu dari divisi lain, dan saya lewat seenaknya, haha. padahal saya sudah mencoba menggunakan HT, namun tidak ada yang respon (mungkin karena mengira saya bercanda)

Berlanjut naik turun antara VIP dan Ruang Utama hanya untuk nyari odoj termuda dan tertua, minta kertas ke orang  ga dikenal, ikut serta menjadi perwakilan pembaca deklarasi, dan alhamdulillah, Allah memberikan kemudahan

 

diakhir acara, saat sedang beristirahat, diajak foto oleh teman2 tim acara, namun karena “itu” belum ditemukan, maka saya mengira teman2 saya sudah berganti kerudung bebas, dan sudah mau pulang. ternyata bukan. ahaha, ternyata mereka tepat diposisi belakang. acara evaluasi dan perpisahan ternyata Allah mudahkan

 

saat sedang beres2 di ruangan panitia akhirnya kacamata dapat ditemukan,al qur’an masih tergeletak di luar tas, buku2 berserakan, dan akhirnya HT tercinta harus dikembalikan (terima kasih HT, kau begitu canggih :p )

 

alhamdulillaaah, walaupun hari ini rasanya absurd, tapi membersamai mereka dalam kondisi apapun adalah sebuah kebahagiaan. sebuah kesyukuran, hingga tak terasa diakhir perpisahan kita mengungkapkan apa yang selama ini dirasakan.. dan ditutup dengan akhir yang baik. In syaa Allah

Mencintai tim ini karena Allah , Mencintai nya dalam jalanNya.. 🙂

#Bekasi, antara lelah, sedih, bahagia, dan campuran rasa lain dalam ukhuwwah ini

#EfekTimAcaraGLODOJ2014

*In syaa Allah akan bikin cerita sambungan yang lebih baik 🙂 *

Image

 

 

 

Bagaimana Nasib Anak Kita Kelak?

“Tertangkapnya seorang pelaku yang mencabuli 47 anak-anak di daerah Sukabumi”

Itulah sepenggal berita yang kudengar dari sebuah stasiun televisi. Deg. Antara kesal, sedih, ingin menangis rasanya ketika mendengar berita ini. bayangkan saja, pelaku hanya 1 orang, dan tempat kejadian bejat itu adalah di rumah kosong. Innalillahi. ada apa ini? kasus JIS saja belum selesai, sudah muncul kasus ini.. 😥

ketika ditanya alasannya mengapa ia tega berbuat hal sekeji itu, jawabannya simple “Karena saya dulu pernah dilakukan demikian.” Just it. bisa dibayangkan, apa salah anak-anak itu? apakah dulu orangtuanya yang melakukan perbuatan itu kepada pelaku sehingga pelaku tega melakukan hal itu kepada anak-anak mereka?

saya hanya mencoba menerka, jika 1 orang bisa melakukan hal itu kepada 47 orang. lalu dari 1 orang bisa melakukan hal tersebut kepada beberapa orang lainnya, dan seterusnya, bagaimana nasib anak-anak kedepannya? Perlu ada tindakan preventif sebelum kejadian ini semakin parah, perlu ada aksi nyata sebelum penyakit ini bisa jadi menimpa lingkungan kita. naudzubillahimindzaliik.

 

apa yang bisa kita lakukan?

1. Preventif mereka dengan pengetahuan agama dan moralitas yang memadai. tidak hanya sekedar materi tapi juga sudah diaplikasikan dalam kehidupan.

Saya ingat, beberapa hari lalu saya berkunjung ke rumah salah seorang Ummahat di daerah Mampang. ketika saya ngobrol dengan umminya mengenai anaknya yang sudah punya banyak hafalan di usia 7 tahun ternyata kuncinya adalah sang ibu membiasakan anak untuk tilawah sejak 3 tahun lebih, minimal sehari sudah dapat 1 juz, dan juga diberikan pemahaman mengenai agama dan pengetahuan. Great. saya dapat kuncinya. dekatkan anak kita sedini mungkin dengan Allah (kalau sudah ada anak. hehe, kalau belum ikhtiar dan terus berdoa)

1. Kurangi menonton Film-Film yang tidak bermanfaat

Ini adalah prinsip jelas yang harus bisa dilakukan dalam keluarga. jangan menonton film-film cinta-cintaan anak-anak, dan sebagainya, bukan berarti melarang semua film, namun saringlah film yang bisa ditonton untuk anak dan keluarga

1. Berikan waktu yang cukup untuk memberikan perhatian penuh terhadap Keluarga

Kalau point ini in syaa Allah yang sudah menikah lebih faham ya. hehee

 

trus peran mahasiswa apaa?

1. Lindungi keluarga yang kita punya.

1. Ketahui pergaulan adik/kakak kita,

1. Berikan pemahaman agama yang cukup

1. Berikan panggilan khusus saat-saat bersama adik-adik/anak-anak binaan, buat seseorang merasa nyaman dengan kehadiran kita

1. Berikan waktu khusus untuk mendengarkan.

1. Berikan pemahaman mengenai pergaulan yang baik di sekolah, rumah, dimana saja

 

Lakukan apa yang kita bisa, selama kita bisa, Mampukan seluruh potensi yang bisa kita mampukan selama kita mampu, kita tidak akan berbicara hasil. inilah Ikhtiar kita, dan biarkan Kehendak Allah yang akan memberikan balasan sebaik-baik balasan.

 

Karena pelecehan anak-anak = Tindakan Kekerasan

 

 

Saya (belum) Mencintai Biologi

Siapa sangka sampai saat ini saya (belum bisa) mencintai biologi. Dahulu saya adalah orang yang sangat tidak menyukai pelajaran hafalan, yang saya suka adalah pelajaran menghitung dan logika. Sejak SMP, saya menyukai lomba-lomba mengenai matematika dan sejenisnya, Olimpiade, Pesta Sains, Olimpiade se Jawa-Sumatera, semua saya lakukan dalam bidang matematika, dan hanya lomba net quiz saja yang saya lakuka dalam bidang IT. Tahun-tahun berlalu, namun saya semakin tidak mengerti, setiap pelajaran biologi saya pasti tertidur, izin, sibuk mengerjakan tugas matematika, atau seperti biasa, latihan soal saja, hal ini semakin parah karena saya selalu tertidur hingga 1-1,5 jam setiap ujian Biologi dan Bahasa Indonesia. Dan itu terjadi selama 3 tahun. Aneh Memang,

 

Perjalanan menuju kelas 3 SMA, saya masih berada dikelas yang sama, dengan subyek yang sama, hingga akhirnya saya ikut SNMPTN undangan. Tak pernah terbayangkan saya akan memilih jurusan yang memiliki pelajaran biologi terbanyak dalam mata kuliahnya. Pilihan pertama dan kedua jatuh pada ITB, Teknik Industri, begitu pula di UGM pada Teknik Industri. Ketika saya belum berhasil, saya memilih hal yang sama pada SNMPTN tertulis (parah ya. hehe) dan Alhamdulillah Allah belum menakdirkan saya disana. Kemudian saya ikut Ujian Mandiri dan SPMB, dan Alhamdulillah saya lulus di dua universitas, UNS dan Unsoed pada Prodi yang sangat saya Impikan. jauh sebelumnya saya mengikuti program scholarship ke Malaysia, dan Alhamdulillah Allah meluluskan saya pada salah satu kampus pada Jurusan Teknik Telekomunikasi.

dan disinilah saya merasakan kuasa-kuasa Allah, mamah saya tiba-tiba tidak ingin saya kuliah di Luar Jawa Barat, alhasil keberangkatan ke UNS, dan Malaysia pupus sudah, Saya berusaha melobby untuk tetap bisa kuliah di Unsoed, ketika sudah di UNSOED (kesana sendiri ala backpackeran), sudah menyewa tempat untuk ngekost, sudah jaulah fakultas, sudah mempersiapkan semuanya, sudah daftar ospek, Qadarullah, beliau menunjukkan jalanNya melalui perantara ‘beliau’, akhirnya saya langsung menghubungi keluarga dirumah “Mah, kita tunggu pengumuman UIN aja ya. Niken In syaa Allah enggak jadi di sini, kayaknya lebih baik niken nunggu.” ah entah kalimat itu datangnya dari mana, tapi tiba-tiba itu keluar begitu saja, dan membuat mamahku bertanya “kenapa memang, bukannya Niken mau banget di sana? udah disana aja ya, gapapah”  dan jawaban saya simple “Niken supaya bisa balik ke sekolah” deg. entah apa yang sudah saya katakan. semuanya berkecamuk, di UIN belum tentu diterima, dan saya tidak suka biologi. sedangkan di Unsoed saya tidak akan bisa kembali ke sekolah.

 

perlu rasanya selama 2 hari saya harus pulang pergi sekolah hanya untuk konsultasi saya harus dimana, dan seorang guru menasihati saya pada sesuatu hal yang akhirnya “bismillah, in syaa Allah di UIN, kalau keterima, kalau enggak fokus menghafal dulu”

 

Unsoed lewat, masa penantian itu alhamdulillah membuahkan hasil, dan butuh supply yang sangat kuat supaya bisa mencintai biologi, 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun, entah hati saya masih belum disini. ada yang punya cara kah? supaya saya bisa mencintai pelajaran ini?
karena sampai saat ini saya (belum) mencintai biologi

 

#Ciputat, 02-02-2014 dilantai dimana saya selalu bisa melihat alam. 🙂