Month: June 2014

Perpisahan

Tepatnya di awal bulan September 2013, dirimu hadir dengan naik taksi dan beberapa koper.
lalu, malamnya aku mengantarmu untuk mengambil lemari di suatu tempat

Selama hampir setahun aku menghabiskan waktu untuk tinggal serumah dengan dirimu, 
Makan bersama di satu tempat, keliling ciputat dan lainnya. bagiku dirimu adalah orang yang menyenangkan, engkau adalah orang yang terbuka, banyak bicara, ramah dan terus terang serta frontal. 

banyak teman-teman rumah bilang engkau galak, bagiku tidak, dirimu hanya tegas, menjalankan tugas dan kewajiban sebagai selayaknya musyrifah, sebagai selayaknya sahabat, dan sebagai seseorang yang dituakan. 

Aku menyukai saat-saat dirimu memanggilku dari bawah ke atas, dan jawabanku lebih sering “Iya kaa, murajaah duluu..”
Atau disaat engkau menegurku ketika saat itu aku hampir lupa 1 halaman hafalanku di tempat itu.

Dirimu menyenangkan, ketika aku mempunyai masalah, dirimu tahu selama hampir 2 minggu aku tidak bisa menghafal sama sekali, dan engkau tetap memaksaku duduk.. Aku suka, ketika di belakangmu aku dengan lancar bisa melafalkan ayat, namun dihadapanmu aku sama sekali diam. saat itu engkau sangat peka, bahwa saat itu aku sedang bermasalah. Nasihat, semangat bahkan penerimaan masih sempat dirimu berikan. Padahal aku tahu, bahwa kewajiban menghafal bagi santri sepertiku adalah keharusan, tidak peduli bagaimanapun kondisinya.

Aku suka ketika dirimu mengingatkanku piket, ketika aku harus menulis mimpi, mengerjakan tugas

Tanpa akhirnya aku tahu, dirimu menjadi bagian dari semangatku dalam menghafal al Quran

hingga hari ini,

Sebuah kata “Ila Liqo” masuk melalui chat wa, rasanya bagai tersambar petir, kilat dan blablabla lainnya ditengah hujannya ciputat,
dirimu mengatakan setelah liburan ini tidak akan di RQ lagi
pikiranku kosong, 
sampai di RQ aku hanya diam, berputar, tidur, berbicara kepada boneka. ah entah semuanya kosong. sama seperti saat aku menulis ini, aku terdiam. semangatku hilang, saat bertilawah semuanya terasa hambar, hatiku seper sebagiannya telah terbawa jauh. hilang. 

Ciputat, ketika sebagian semangat ku hilang.

tak terasa, sekarang sudah menginjak tanggal 25 Juni 2014

Berlari

Aku tak tahu, engkau tak pernah suka ketika diajak berlari,,
Aku tak kenal, aku tak paham
Aku hanya tahu, kita sepertinya pernah beririsan, pernah bersinggungan
Entah dibagian belahan bumi mana,
Aku hanya yakin pasti kita sempat beririsan

Lambat laun aku dan dirimu juga melihat,
Orang-orang disekeliling kita yang awalnya berlari
Mulai lelah, Mulai berjalan cepat
Lalu kadang kita temukan mereka menjadi diam
Mereka tak lagi berjalan

Aku hanya sedang berusaha menahanmu
untuk tidak ikut berguguran, untuk tidak ikut terdiam

Ketika nanti dirimu merasa lelah, 
aku hanya ingin melihat dirimu berjalan cepat
atau paling akhir adalah berjalan santai
yang paling penting adalah dirimu tidak diam

Entah nanti dipertemukan dimana, 
aku berharap kamu adalah termasuk orang-orang yang bertahan
aku berharap dirimu termasuk yang dikuatkan pundaknya, diberikan kelapangan kesabaran, ketahanan kekuatan, kelembutan dan penerimaan

Ketika perjalanan ini terasa menyesakkan,
aku dan kamu paham, 
memang seperti inilah adanya

Ketika nanti engkau berkata “Berlari itu melelahkan…”
Dirimu benar
Tapi, bukankah jika bersama segalanya terasa menakjubkan?
Ketika dirimu akhirnya bisa bercerita tentang lelahnya perjuangan, berkisah tentang perjalanan yang panjang
Bukankah dirimu tahu? akan ada secangkir susu putih hangat dan semangkuk senyum yang membuat otakmu tenang, hatimu rileks seperti sedia kala,

Istirahat kita bukan disini
kau sudah paham bukan?

Namun, tetap saja aku sangat suka ketika dirimu lupa
membuatku bercermin , bahwa aku juga sama
membuatku harus menulis lagi setiap saat
membuatku harus membaca buku lagi setiap saat
dan aku harap dirimu juga sama
entah di belahan bumi mana

suatu hari, disaat rambut kita memutih
usia semakin tua
kita tak akan mampu lagi berlari bersama
tapi aku harap
kita bisa menciptakan pelari-pekari tangguh selanjutnya
entah dibelahan bumi mana

dan disaat perpisahan itu datang
semoga Allah mempertemukan kita di JannahNya

Semoga Allah senantiasa menguatkan

Ciputat, 20 Juni 2014, memandang pantulan diri didepan laptop. *tulisan ini untukku*
Image

Perasaan

Banyak orang dari awal SMA- Sekarang yang selalu menanyakan, “kamu itu ga punya perasaan ya? terlalu logika ya?” tahukah kamu, aku bukan tidak berperasaan, hanya saja menyimpan apa yang dirasakan itu jauh lebih baik.

 

tapi sekarang aku jadi bertanya, “benarkah aku tidak punya perasaan?”¬†

tanya saja pada derai bising di sudut kota

Aku Bukan (lagi) Pemimpi

Sejak dulu mengiinjak bangku Sekolah dasar, aku dikenal sebagai pemimpi ulung. Jika seseorang bersamaku, maka ia akan kuajak dalam khayalanku, aku bermimpi untuk bisa menjadi ilmuwan, dan selama hampir sebulan aku menghabiskan waktuku untuk meneliti diluar kelas selama jam sekolah, aku bermimpi untuk menjuarai renang 50 m tingkat nasional dan aku mendapatkannya walaupun hanya tingkat sekolahan, aku bermimpi menjadi seorang pelari handal dan aku mendapatkannya walaupun hanya dalam tingkat sekolah, ah rasanya aku hanya sedang bermimpi…

Ketika SMP, aku diterima di sebuah dengan standar internasional, saat itu aku dengan santai tidak belajar selama 6 bulan karena kecewa tidak bisa masuk ke sekolah yang terkenal karena sering tawuran, setelah melewati masa 6 bulan akhirnya aku baru bisa bermimpi saat kelas 2, tepatnya saat terpilih masuk kelas khusus dengan nilai tertinggi saat itu, disanalah aku bermimpi untuk bisa mengikuti lomba dibidang akademik, walaupun pada akhirnya tak ada seorang guru pun melirik ku untuk menjadi peserta dalam lomba akademik dan lebih tertarik menjerumuskanku pada dunia organisasi..

ketika SMA, aku diterima lagi disebuah kelas SBN yang hanya menerima 160 orang, disana aku merasakan semangat mimpi, dan rasa-rasa untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik. walaupun sering sekali guru menyebut saya sebagai pemberontak kecil, ataupun sering dipanggil murid kesayangan babe ****** . ahahah. Disana rasanya semuanya begitu mudah, begitu seperti mimpi.

 

Hingga akhirnya, saya memasuki dunia kampus. Disana saya pun masih dapat bermimpi, ingin A, B, C yang selalu saya gantung di samping tempat tidur asrama, berharap setiap saya bangun tidur saya masih bisa bermimpi. Meskipun ketika teman-teman kampus yang bermain ke kamar asrama selalu menertawakan  dan protes pada beberapa mimpi saya, ujung-ujungnya mereka tetap mengaminkan bukan? hehee..

 

ketika pertengahan semester 3, saya hanya merasakan saya sudah mulai tak lagi bermimpi. Dunia terasa terlalu real, semua orang terlihat ambisius, semua nya terlihat tak ideal, akhirnya lama kelamaan saya tak lagi bermimpi. saya merasa penerimaan menjadi sesuatu yang lumrah, yang terllau biasa, hingga saya tidak tahu, mana yang harus diterima, ma yang oerlu diupayakan. 

Pada awal semester 4, saya hampir tidak belajar selama 1 semester, dan saya pernah sampai di titik down dimana saya hanya berdiam diri di sebuah masjid dan bertanya “Untuk apa saya ada disini?” Hasilnya? nilai saya jatuh turun drastis dan saya hanya bersikap datar. -_-

Pertengahan semester 5 dan 6 saya suka iseng mengikuti test test psikologi yang ada di Internet, walaupun validitas nya tidak jelas, namun dari sana tergambar bahwa saya sekarang menjadi seorang yang realistis, Miris dan menyedihkan bagi saya. Saya hanya memandang sekitar sebagai sebuah keadaan yang saya pun tak mampu mengutarakan solusinya. Setiap saya memandang sekitar saya hanya bisa menghela nafas jauh lebih dalam, karena sekarang saya menjadi si Realistis yang tak punya mimpi. 

Ketika melintasi jalan malam di Bekasi, saya hanya menjadi si pengendara motor yang sunyi, bukan lagi seorang Aku yang sering menghabiskan malam dengan anak jalanan yang sedang bertengkar kecil disudut jalan atau sekedar berhenti menyapa manusia gerobak di pinggiran jalan, aku hanya menjadi “normal”. Namun benarkah aku menjadi “normal”?

 

Semakin berjalan, semakin sadar, bahwa mungkin penyebabnya adalah pada diri saya. Keinginan itu hilang, lalu bagaimana menghidupkannya lagi?

Ingin pergi dimana tempat banyak mimpi, adakah? atau cukup saya tertidur lagi dalam jangka waktu lebih lama untuk dapat bermimpi indah? atau saya harus mencari kertas yang hilang itu?

 

Ah entah, hanya saja saya tak pernah paham.

Ciputat, 6/6/2014

-Ketika mata itu tak lagi mengenal, siapa yang sedang ia pandang didepan cermin kaca itu?-