Month: July 2014

Kabar iman

Tadi pagi, ketika saya mengantar mamah berbelanja di pasar, Allah sedang menegur saya dengan selembut-lembutnya cara yang membuat saya tersadar

“Saya melihat 2 sosok abi-abi (bapak-bapak) yang satu wajahnya sudah beberapa kali saya lihat dalam beberapa agenda kajian di suatu tempat, yang satu lagi saya belum pernah lihat, sebut saja A dn B.. Saat itu saya sedang memarkir motor, dan A baru keluar dari pasar sedangkan yang B baru sampai di Pasar, setelah mereka bersalam-salaman ((laki-laki dengan laki-laki) (perempuan dengan perempuan)) akhirnya mereka terlibat sebuah pembicaraan singkat :

A : Assalamu’alaikum bang
B : Wa’alaikumussalam
A : Udah selesai bantu data-data pilpres bang?
B : In syaa Allah udah, ini juga baru belanja
: Apa kabar iman antum akh?
A : Alhamdulillah, abang gimana?
B : Alhamdulillah, gimana liqoannya?
(Bahas-bahasan kayak gini di tempat umum -_-)

A : Alhamdulillah masih aktif bang, abang gimana?
B : Iya alhamdulillah, cuma ada si ****** liqonya 2 pekan sekali, katanya lagi sibuk
A : Si ****** lagi sibuk apan emang bang?
B : katanya lagi sibuk di ******. hehe

(kata saya, ini kan lanjutan dari mahad saya dulu, berarti….)

A : Yaudah bang, semoga aktif lagi deh orangnya, pamit duluan ya bang, Assalamualaikum
B : Wa’alaikumussalam hati-hati ya”

*Kejadian ini mengingatkan saya mengenai sebuah nasihat dalam lingkaran beberapa waktu lalu, pertanyaan yang sering ditanyakan di masa Rasulullah dan para sahabat, namun menjadi tabu di masa sekarang. Saat saya mendengar kata “Apa kabar iman antum akh?” saya yang awalnya menunduk ngeliatin speedometer yang tak bergerak langsung menatap tajam kearah mereka berdua dan tidak bergeming sampai percakapan selesai #Faghfirlii Yaa Rabb#

pertanyaan yang membuat saya menyadari, inilah yang harus dibiasakan diantara kita, diantara ukhuwwah kita. Jika bukan kita yang memulainya, lalu siapa yang akan memulainya?

“Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, saling nasehat-menasihati di dalam kebenaran, dan saling nasihat-menasihati di dalam kesabaran.” -Qs. Al Ashr :1-3 –

Bekasi, 01 Syawal 1435H-

*saya disini hanya menonton

Ramadhan.. engkau telah pergi

Kudengar dari berita setempat bahwa dirimu akan pergi,
Sebagian ku dengar banyak yang berbahagia ketika dirimu pergi,,
Tapi bagiku tidak..
Ramadhan kali ini merupakan ramadhan terburuk selama beberapa tahun terakhir

Apa kabar dengan tilawah ku selama ramadhan?
Sudah kah 5 kali khatam?
Belum, ia hanya mencapai kuadrat dari jumlah capres yag mendaftarkan diri tahun ini

Apa kabar dengan tambahan hafalan?
Apakah sudah mencapai 2 juz?
Belum, bahkan memurajaah hafalan-hafalan sebelumnya saja masih belum selesai hingga hari ini

Apa Kabar dengan buku tazkiatun nafs yang hendak dibaca?
Ah ia tak lebih baru setengah buku yang kubaca
Setengahnya kuletakkan ia di tumpukan rak buku seperti biasa

Lalu, bagaimana dengan tafsir qur’an ibnu katsir?
Jangan kau tanyakan.
Bahkan ia masih kubiarkan tergeletak sendu, dipojok file yang seharusnya kubaca

Apa kabar, dengan amalan sunnah?
……………………………………………………………………

Lalu bagaimana dengan dosa?
Sudahkah ia berkurang,
Atau semakin menumpuk karena semakin banyaknya

Sepertinya momentum akhir ramadhan ini
Tak pantas bagiku untuk diisi dengan tertawa ria
Seakan melepas beban

Namun evaluasi diri
Untuk bertahan selama 11 bulan selanjutnya

Ramadhan, kini dirimu beranjak pergi
Apa semangat akan terus semakin baik?

Ramadhan,
Bisakah aku menemuimu lagi di tahun depan?

Semoga Allah menerima puasa dan segala amalan di bulan ramadhan ini..

Bekasi, 01 syawal 1435H

Ukhuwwah di Selembar Kertas

Ukhuwwah kita hanya di selembar kertas
Ia muncul dan hilang bersamaan dengan hadir keuntungan dan kerugian
Lalu aku bertanya
Apakah ia hadir karena iman atau tidak?

Aku sedang menulis
Ketika Ukhuwwah ini hanya diatas selembar kertas
Nasihat diterima hanya sebagai sayatan
Nasihat hanya dianggap kritikan menjatuhkan
Ia membekas, tapi yang terasa hanya menyakitkan

Ketika nasihat sesama muslim, teguran sesama muslim
dengan entengnya kita bantah mentah mentah
Tanpa kita fikirkan lebih dalam sebelumnya

Hanya karena,
Merasa kita lebih tersakiti
Merasa kita lebih merasa lelah
Merasa kita lebih lama berjuang
Merasa kita lebih menderita dengan keadaan yang ada
dan berfikir kalau saudara kita tidak merasakannya

Pantas saja ketika kufikirkan
Ukhuwwah ini hanya selembar kertas
Ketika husnudzan tidak dikedepankan
Yang ada hanya suudzan dan kedengkian

Padahal bisa jadi
Saudara kita menarik nafas dalam-dalam untuk lebih bersabar
Mengistirahatkan desah kelelahan di tengah-tengah kesunyian
Membersamai luka dan perihnya perjuangan di sepanjang perjalanannya
Merogoh lebih dalam kantung uangnya untuk keberlangsungan agenda dakwah
Bekerja lebih sendirian dari pada kita
tapi ia tak seperti kita..
Ia hanya tak mengeluh dan menuntut seperti kita

Sedih rasanya
Ketika ukhuwah ini hanya diatas selembar kertas
Ketika dakwah tiba-tiba menjadi beban
Ketika seharusnya itu menjadi nikmat

Miris rasanya
Ketika Ukhuwwah ini hanya karena selembar kertas
Padahal Allah menjamin semuanya
Hanya karena prasangka semuanya menjadi berantakan
Apakah ukhuwah ini lebih murah dari selembar kertas?

Hanya karena selembar kertas Ukhuwwah menjadi rusak
Lalu bagaimana kita bakar saja kertasnya
Agar ukhuwwah ini hadir bukan karena ada atau tidaknya kertas
Agar prasangka tak harus melulu mengenai kertas
Agar kesehatan hati tak tergerus karena prasangka
Karena Ukhuwah telah hadir karena iman

Jangan salahkan ketika kita merasa simbol itu,
hanya sebuah simbol tanpa nyawa
Karena kita tak pernah menghidupkannya dengan iman
Kita (mungkin) memulai kebersamaan hanya karena kertas

Jangan salahkan yang lain
Salahkan diri kita masing-masing
Karena kita lah (mungkin) justru penyebab kesalahan
Hanya saja kita enggan
Merasa kita itu benar
Dan yang lain salah

apa yang harus kita lihat?
Bagaimana tilawah kita?
Bagaimana ibadah wajib kita?
Bagaimana Kapasitas keilmuan kita?
Bagaimana kondisi halaqoh kita?
Bagaimana dengan amalan sunnah kita?
Bagaimana dengan muhasabah kita?

Rindu rasanya membedah lebih dalam kisah Rasulullah dan para Sahabat, serta para muharik dakwah sebelumnya..
Rasanya sirah yang ada masih terlalu tipis
Masih terlalu ringkas untuk kita dalami lebih dalam

Atau jangan-jangan
sampai saat ini
sirah nabawiyah dan sahabiyah
belum tuntas juga kita baca

Maka pantas
Ukhuwwah kita tak lebih seperti selembar kertas

Lalu ilmu darimana yang selama ini kita jadikan landasan ukhuwwah?
Al qur’an dan Assunah kah?
Atau hanya lewat novel-novel fiktif saja?

Maka saya hanya bisa menunduk lebih dalam
“Ukhuwah ini seperti selembar kertas”

Ingin rasanya memperjuangkan ukhuwwah seperti yang dicontohkan para pendahulu sebelumnya
Tapi itu tak bisa sendirian
Tapi itu tak bisa jika harus menanggungnya sendirian
Tapi itu takkan bisa jika kerjasama itu hanya sendirian

Selalu butuh yang lain.
Selalu butuh yang lain
Selalu butuh yang lain

Seperti Rasulullah dengan Abu Bakar
Seperti Mushab bin Umair dengan Abdullah bin Ummi Maktum
Seperti Musa as, dan Harun
Seperti Umar dan Utsman
Seperti kisah para Ashabul Kahfi
Seperti kisah para generasi sebelumnya

Maka aku harap itu tak hanya aku, tapi juga kamu, hingga kata “Kita” dan “Kertas” itu tak menyatu, karena “Kita” telah lebih dulu bersatupadu karena “Iman”

“Sesungguhnya Engkau tahu, bahwa hati ini telah berpadu, berhimpun dalam naungan cinta-Mu, Bertemu dalam ketaatan bersatu dalam perjuangan, Menegakkan syariat dalam kehidupan. Kuatkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya, tunjukillah jalan-jalannya, terangilah dengan cahaya-Mu yang tiada pernah padam. Ya Rabbi, bimbinglah kami.”

Bekasi, 23.07

Sudut hati dijantung malam

DSC00048

Memahami Rasa

ada masa-masa dimana saya ingin sekali bisa bersama dengan semua saudari saya, diseluruh masa kehidupannya; dibagian tersedihnya hingga dibagian paling membahagiakannya.

Seringsekali aku ingin bisa menerka apa yang sedang saudariku fikirkan, apa yang membuatnya kesulitan hanya lewat matanya, bukan kata-katanya.

Ingin sekali aku bisa berada di sampingnya ketika semua nya menjauh di sekelilingnya, atau hanya sekedar menuliskan kata semangat di layar handphonenya..

Aku ingin menjadi yang percaya, ketika semua ragu akan pendapatnya,
Aku ingin ia bercerita tentang keluhnya, lelahnya, kecewanya, sehingga aku bisa membantu meluruskan, sehingga aku dapat berbagi rasa
maka tolong ajari saudarimu ini cara untuk memahami rasa, menyimpan rahasia.

Bekasi, 05 Juli 2014

Cita-Cita

Suatu kali pernah ada seseorang bertanya,
“Nanti S2 mau ambil peminatan apa?”
“Kesehatan Ibu dan Anak.”
“Dimana?”
“Di Inggris atau Jepang mungkin.”
“Kenapa Ambil Kesehatan Lingkungan S1 nya?”
“Terjebak.”
“emang habis s2 mau jadi apa?”
“Konsultan.”
“wah parah nih, ngapain ambil kesling kalau ujung-ujungnya mau jadi konsultan?”
“ahahahaha”

akhirnya pembicaraan ditutup dengan kalimat terabsurd seperti biasanya.

Sejenak saya sempat terfikir, untung beliau ga menanyakan cita-cita saya, kalau tau saya mau jadi astronot muslim, mau jadi apa responnya ya. -_-

Ah kali ini aku hanya sedang menulis cita, tentang mimpi ingin merubah peradaban. sama sepertimu, kita selalu punya cita, punya impian. hanya saja ketika dewasa, mungkin semuanya terlihat tidak mungkin, segalanya tidak sesuai kenyataan, namun menghidupkannya di sela-sela ketidakmungkinan seperti sebuah lilin yang menyala, ia bisa terus menyala selama kita menjaganya untuk menyala, namun bisa juga meredup ketika kita meniupkan gas CO2 kearahnya.

Aku memilih untuk menghidupkannya, menyalakannya untuk kehidupan. Menerangi sekeliling kehidupan,

Aku sedang menulis kepadamu tentang sebuah cita. Berharap selasar senja di tengah pantai menjadi pemandangan yang kan kita lihat bersama, mengubur dalam-dalam kekecewaan, kelelahan, karena kita telah menggapai cita.

Aku hanya sedang berharap tentang cita… Aku hanya sedang berfikir tentang harap..

Bekasi, 05 Juli 2014
Setelah menyelesaikan UAS disepanjang malam hingga pagi.

Pilpres atau Tempat “Tinju”?

Untuk beberapa saat ini izinkan saya menjadi “pengamat” politik dadakan. Kurang dari 1 minggu lagi kita akan berhadapan dengan pesta demokrasi terbesar selama 5 tahun. Pilpres. Kenapa saya katakan ini hebat? karena disinilah ditentukan pemegang tinggi kebijakan negara dan arah negara selama 5 tahun mendatang. Akan tetapi miris rasanya, Ketika petinggi-petinggi diatas berdebat dengan otak, kita orang orang “grass root” berdebat dengan otot. Otot mulut, otot tangan, hingga otot tindakan. Sedih rasanya, untuk pertama dalam pemilihan Pilpres yang saya nikmati saat ini, ulama dihinakan oleh simpatisan capres, miris rasanya. Yaa rabbi ada apa dengan negara ini hari ini? Jika memang sudah punya pilihan, yasudah enggak usah repot dengan pilihan orang lain. Hobbinya nyebarin negative campaign hingga black campaigne tapi giliran dikasih website tandingan bilangnya “Lo terlalu percaya media, kemakan media.” lah, selama ini emang situ upload berita darimana? Jika ada yang berseberangan, maka hal yang dilakukan adalah “gob***, capres kayak gitu dipilih,…” “Mafia blablablabla” “Mon***,… kita lihat aja nanti.” padahal katanya ini negara demokrasi, kok beda pilihan, langsung diserang?? ya suka-suka dong, tiap orang bebas milih, dan ga semua pilihan harus sama kayak yang lain, kalau ada yang di “right side” kenapa ga boleh ada yang “garuda merah” dan sebaliknya? Dan, tata bahasa juga perlu diperhatiin.. kalau di keluarga saya ngomong “bodoh” itu udah kasar banget sedunia, lah ini ngehidupin juga enggak, ngelahirin juga enggak, ga ada kontribusi dalam kehidupan, berani-beraninya ngomong “mon…, be..,to..” cuma gara-gara pilihan beda. Dewasa dikit lah. Sekalinya A update berita langsung ditimpalin sama B, inget masbro mbabro. Capres tuh manusia bukan malaikat, Ampe ada kalau ga milih A masuk neraka” Dih, surga neraka hak pregrogrative Allah, bukan capres. Intinya, kalau emang kalian udah punya pilihan, yaudah ga usah ngejelek-jelekin yang lain lah, capres yang kita mau pilih ntar itu manusia, punya sisi positif dan sisi negatif, itu yang harus diterima. Yang kita pilih itu yang kemungkinan paling sedikit mudharanyatnya. Ga usah sampe adu otot, dan yang paling penting, harus siap kalah. iyalah udah masuk ke dalam tahap seleksi harus siap kalah, kalau ga siap kalah main aja sendirian di taman kota. Jadi inget perkatannya Buya Hamka ketika orang-orang pada saat itu memperdebatkan Qunut itu wajib atau enggak. Buya Hamka bilang “Qunut itu wajib apa sunnah?” Mereka yang berseteru menjawab ” Sunnah” Buya Hamka bertanya lagi “Menjaga ukhuwwah itu wajib apa sunnah? Mereka menjawab “Wajib buya” Lalu Buya Hamka menutup pertanyaannya dengan pernyataan terbaik seorang ulama “Kalau begitu, kenapa kalian mendahulukan perkara yang sunnah diatas perkara yang wajib?” Intinya, membela capres berlebihan itu bukan sebuah kewajiban atau sunnah, tapi menjaga persatuan dan persaudaraan adalah kewajiban. Siapapun yang nantinya menjadi presiden, tugas kita adalah menjaga kebhinekaan, menjaga persatuan dan persaudaraan serta toleransi antara umat beragama. Dan ga usah ngotot-ngototan nunjuk siapa yang paling benar,, kita punya pilihan, berrarti kita sudah siap bertanggung jawab.

Ciputat, 04 Juli 2014 Di tengah-tengah menunggu ujian dan kuliah