Cita-Cita

Suatu kali pernah ada seseorang bertanya,
“Nanti S2 mau ambil peminatan apa?”
“Kesehatan Ibu dan Anak.”
“Dimana?”
“Di Inggris atau Jepang mungkin.”
“Kenapa Ambil Kesehatan Lingkungan S1 nya?”
“Terjebak.”
“emang habis s2 mau jadi apa?”
“Konsultan.”
“wah parah nih, ngapain ambil kesling kalau ujung-ujungnya mau jadi konsultan?”
“ahahahaha”

akhirnya pembicaraan ditutup dengan kalimat terabsurd seperti biasanya.

Sejenak saya sempat terfikir, untung beliau ga menanyakan cita-cita saya, kalau tau saya mau jadi astronot muslim, mau jadi apa responnya ya. -_-

Ah kali ini aku hanya sedang menulis cita, tentang mimpi ingin merubah peradaban. sama sepertimu, kita selalu punya cita, punya impian. hanya saja ketika dewasa, mungkin semuanya terlihat tidak mungkin, segalanya tidak sesuai kenyataan, namun menghidupkannya di sela-sela ketidakmungkinan seperti sebuah lilin yang menyala, ia bisa terus menyala selama kita menjaganya untuk menyala, namun bisa juga meredup ketika kita meniupkan gas CO2 kearahnya.

Aku memilih untuk menghidupkannya, menyalakannya untuk kehidupan. Menerangi sekeliling kehidupan,

Aku sedang menulis kepadamu tentang sebuah cita. Berharap selasar senja di tengah pantai menjadi pemandangan yang kan kita lihat bersama, mengubur dalam-dalam kekecewaan, kelelahan, karena kita telah menggapai cita.

Aku hanya sedang berharap tentang cita… Aku hanya sedang berfikir tentang harap..

Bekasi, 05 Juli 2014
Setelah menyelesaikan UAS disepanjang malam hingga pagi.

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s