Pilpres atau Tempat “Tinju”?

Untuk beberapa saat ini izinkan saya menjadi “pengamat” politik dadakan. Kurang dari 1 minggu lagi kita akan berhadapan dengan pesta demokrasi terbesar selama 5 tahun. Pilpres. Kenapa saya katakan ini hebat? karena disinilah ditentukan pemegang tinggi kebijakan negara dan arah negara selama 5 tahun mendatang. Akan tetapi miris rasanya, Ketika petinggi-petinggi diatas berdebat dengan otak, kita orang orang “grass root” berdebat dengan otot. Otot mulut, otot tangan, hingga otot tindakan. Sedih rasanya, untuk pertama dalam pemilihan Pilpres yang saya nikmati saat ini, ulama dihinakan oleh simpatisan capres, miris rasanya. Yaa rabbi ada apa dengan negara ini hari ini? Jika memang sudah punya pilihan, yasudah enggak usah repot dengan pilihan orang lain. Hobbinya nyebarin negative campaign hingga black campaigne tapi giliran dikasih website tandingan bilangnya “Lo terlalu percaya media, kemakan media.” lah, selama ini emang situ upload berita darimana? Jika ada yang berseberangan, maka hal yang dilakukan adalah “gob***, capres kayak gitu dipilih,…” “Mafia blablablabla” “Mon***,… kita lihat aja nanti.” padahal katanya ini negara demokrasi, kok beda pilihan, langsung diserang?? ya suka-suka dong, tiap orang bebas milih, dan ga semua pilihan harus sama kayak yang lain, kalau ada yang di “right side” kenapa ga boleh ada yang “garuda merah” dan sebaliknya? Dan, tata bahasa juga perlu diperhatiin.. kalau di keluarga saya ngomong “bodoh” itu udah kasar banget sedunia, lah ini ngehidupin juga enggak, ngelahirin juga enggak, ga ada kontribusi dalam kehidupan, berani-beraninya ngomong “mon…, be..,to..” cuma gara-gara pilihan beda. Dewasa dikit lah. Sekalinya A update berita langsung ditimpalin sama B, inget masbro mbabro. Capres tuh manusia bukan malaikat, Ampe ada kalau ga milih A masuk neraka” Dih, surga neraka hak pregrogrative Allah, bukan capres. Intinya, kalau emang kalian udah punya pilihan, yaudah ga usah ngejelek-jelekin yang lain lah, capres yang kita mau pilih ntar itu manusia, punya sisi positif dan sisi negatif, itu yang harus diterima. Yang kita pilih itu yang kemungkinan paling sedikit mudharanyatnya. Ga usah sampe adu otot, dan yang paling penting, harus siap kalah. iyalah udah masuk ke dalam tahap seleksi harus siap kalah, kalau ga siap kalah main aja sendirian di taman kota. Jadi inget perkatannya Buya Hamka ketika orang-orang pada saat itu memperdebatkan Qunut itu wajib atau enggak. Buya Hamka bilang “Qunut itu wajib apa sunnah?” Mereka yang berseteru menjawab ” Sunnah” Buya Hamka bertanya lagi “Menjaga ukhuwwah itu wajib apa sunnah? Mereka menjawab “Wajib buya” Lalu Buya Hamka menutup pertanyaannya dengan pernyataan terbaik seorang ulama “Kalau begitu, kenapa kalian mendahulukan perkara yang sunnah diatas perkara yang wajib?” Intinya, membela capres berlebihan itu bukan sebuah kewajiban atau sunnah, tapi menjaga persatuan dan persaudaraan adalah kewajiban. Siapapun yang nantinya menjadi presiden, tugas kita adalah menjaga kebhinekaan, menjaga persatuan dan persaudaraan serta toleransi antara umat beragama. Dan ga usah ngotot-ngototan nunjuk siapa yang paling benar,, kita punya pilihan, berrarti kita sudah siap bertanggung jawab.

Ciputat, 04 Juli 2014 Di tengah-tengah menunggu ujian dan kuliah

Advertisements

2 thoughts on “Pilpres atau Tempat “Tinju”?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s