Month: August 2014

Cantik

Beberapa hari ini saya berjalan diantara kerumunan orang “cantik”,

Ada yang memakai high heels, wedges (atau apalah namanya itu), tas sampingan, baju mahal, baju fashionable (katanya)

wajahnya, hmm. jangan tanya make up, soft lens, rambut halus lembut, lipstick, dan sebagainya menghiasi rona wajah mereka

 

Lantas,sempat terlintas dalam benak saya (sering sebenarnya) cantik itu seperti apa?

 

ketika mencari dalam berbagai perjalanan, akhirnya saya menemukan apa itu definisi cantiik sebenarnya

Ternyata ia tak harus saya temukan dalam gemerlapnya wajah, mahalnya kosmetik dan perhiasan yang menghiasinya. akan tetapi ia hadir dari kesederhanaan, penerimaan, kesabaran.

Ia yang cantik itu, tak harus menambahkan apapun pada wajahnya untuk membuatnya diakui sebagai wanita cantik, karena kecantikannya selalu terlihat ketika ia berfikir, bertindak dan bersikap.

Yang cantik itu tak harus berlari lari kecil untuk mendapat perhatian lawan jenis, karena yang cantik itu tahu Allah menciptakan segalanya berpasangan, maka ia tak harus menggalau sendu di tengah malam, atau disaat hujan

Yang  cantik itu tahu, bahwa kesabaran adalah kunci paling tepat dalam meghadapi problema rumah tangga, maka ia memilih untuk mengindahkan rumahnya dengan lantunan Qur’an dan kesabaran. aku menyadari dia cantik, ketika aku melihat dia dan aura kesabaran itu masih melekat dalam wajah tuanya

 

Bagi saya cantik itu sederhana, 
Sama seperti langit yang tak perlu menunjukkan kalau ia tinggi
Atau seperti bumi yang tak perlu memamerkan diri kalau ia keras

Ia cukup menjadi sebuah makna. tentang sifat dan kekaguman.

 

Post title

kecewa itu saat melihat segalanya stagnan, tak berjalan.
Diantara ketidakpentingan dan kepentingan masing-masing,

Hingga akhirnya satu persatu mulai menjadi lilin.
Menerangi sekitarnya dengan membakar dirinya sendiri.
Saat ia sadar, ia tak lebih hanya plastisin yang telah mencair,
lalu saat sadar ia sudah mati

Sedang yang lain, sibuk mencari aib,
Berteriak mencaci, tapi tak melihat rupanya pada cermin.
Merasa lebih ingin diperhatikan, lebih butuh penjagaan,
Tapi tak pernah mengajarkan bagaimana menjaga, bagaimana memperhatikan

Dunia ini lucu, aneh,
dan saya termasuk didalamnya.

Ketika alkohol tak lagi dapat mengeringkan luka
Ketika air tak dapat membersihkan kotoran luka
Ketika paracetamol tak dapat mampu menurunkan suhu yang diakibatkan oleh luka

Sebaiknya memang lebih baik menghilang
Menyendiri, menggali sesak dan kemudian menguburnya
Hingga luka itu perlahan dibiarkan membusuk atau mengering dan semakin kotor terkena udara
Atau ditutup dengan ramuan sederhana, kesabaran dan keimanan

Semuanya kembali pada pilihan kita

*Bekasi. tanpa tanggal, tanpa judul, tanpa rasa. *

Angin

Ia hadir menjelma menjadi sebuah hempasan kesejukan
Mendinginkan yang panas
Mengaburkan yang sesak

Terkadang diantara semilir angin terdapat butiran air mata
Atau terlebih sering ia adalah sisa embun dari kemarahan
Atau bisa jadi bekas dari kekecewaan

Angin mengantarkan sebuah rasa yang dirasakan oleh yang ditujunya
Rasa sakit, 
Rasa Sedih,
Rasa Rindu
Atau mungkin bisa jadi rasa kehilangan yang menyerbu

Tak jarang ditemukan gelak tawa menyeruak melalui hembusan angin disekeliling telinga
Ia adalah kebahagiaan
Penerimaan
kesyukuran
dan Kepercayaan

Memilih menitipkan cerita pada angin
sama saja membiarkan yang lain tahu
Pohon, jalan, tanah, bebatuan,
tapi tak membiarkan manusia tahu

Dan aku memilih itu…..

Bekasi, 06/08/2014
22.55

Silaturahim

Silaturahim tak hanya sekedar pertemuan fisik, tapi pertemuan hati. Tak hanya mendekatkan fisik yang sebelumnya jauh, Tapi juga melembutkan hati yang dulunya retak.

Selama sepekan ini, kurang lebih saya menikmati perjalanan ciputat, Cilandak, bintaro, bogor, depok lama, jakarta, depok, rasanya menyenangkan. Namun, tidak semuanya sependapat . ada yang bilang “Gak cape apa ken, keliling terus udah di rumah aja.” dan jawaban absurd saya “ahahah.”

sebenarnya ada yang saya sukai setiap saya berjalan ke rumah rumah orang, hal yang saya sukai adalah makanan dan THR keterbukaan. setiap keliling, saya selalu dibuat takjub perjalanan, baik jalananya, maupun keluarga nya. Saat bersilaturahim saya menemukan karakter asli dari teman-teman saya, yang seringkali tak muncul saat di perkuliahan atau dibangku sekolah. mempelajari pola pendidikan perilaku yang diterapkan orang tua, dan sebagainya.

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Rahim (tali persaudaraan) itu digantungkan pada arsy, ia berkata: Barang siapa yang menyambungku (berbuat baik kepada kerabat), maka Allah akan menyambungnya dan barang siapa yang memutuskan aku, maka Allah pun akan memutuskannya. (Shahih Muslim No.4635)

 

bagi saya, selain hal-hal diatas, hal yang saya sukai juga dalam silaturahim adalah, memperbaiki hati, memperbaiki keadaan. well, saya sedang absurd banget hari ini. dicukupkan saja dulu tulisannya, in syaa Allah lanjut lagi