Post title

kecewa itu saat melihat segalanya stagnan, tak berjalan.
Diantara ketidakpentingan dan kepentingan masing-masing,

Hingga akhirnya satu persatu mulai menjadi lilin.
Menerangi sekitarnya dengan membakar dirinya sendiri.
Saat ia sadar, ia tak lebih hanya plastisin yang telah mencair,
lalu saat sadar ia sudah mati

Sedang yang lain, sibuk mencari aib,
Berteriak mencaci, tapi tak melihat rupanya pada cermin.
Merasa lebih ingin diperhatikan, lebih butuh penjagaan,
Tapi tak pernah mengajarkan bagaimana menjaga, bagaimana memperhatikan

Dunia ini lucu, aneh,
dan saya termasuk didalamnya.

Ketika alkohol tak lagi dapat mengeringkan luka
Ketika air tak dapat membersihkan kotoran luka
Ketika paracetamol tak dapat mampu menurunkan suhu yang diakibatkan oleh luka

Sebaiknya memang lebih baik menghilang
Menyendiri, menggali sesak dan kemudian menguburnya
Hingga luka itu perlahan dibiarkan membusuk atau mengering dan semakin kotor terkena udara
Atau ditutup dengan ramuan sederhana, kesabaran dan keimanan

Semuanya kembali pada pilihan kita

*Bekasi. tanpa tanggal, tanpa judul, tanpa rasa. *

Advertisements

4 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s