Month: November 2014

Istiqomah itu sulit, Tapi….

Malam ini (pagi mungkin saya harus mneyebutnya) saya tak hendak memejamkan mata terlalu dini, setelah berkutat dengan aktivitas kampus, persiapan seminar profesi hingga ke tanah abang, dan membahas seminar profesi hingga pukul 10 malam. Alhamdulillah saya akhirnya bisa mengakhiri kegiatan dengan damai

Ketika tiba di Rumah Qur’an tercinta ada sesuatu yang membuat saya tersadar, apa yang telah saya lakukan selama beberapa bulan hari ini? apa yang telah terjadi selama beberapa bulan ini?

hingga akhirnya ketika saya mengetikkan rentetan barisan kata ini, fikiran saya tengah berkecamuk, perasaan saya tengah tak menentu.

saya sedang berfikir kedalam diri saya sendiri, dapatkah saya istiqomah dalam barisan dakwah ini? dalam jalan ini?

Pernah suatu hari saya bertanya kepada salah seorang ummahat shalihah  yang sangat sering menyapa saya dikala kesibukannya,

mi, sesulit itukah istiqomah?” tanyaku padanya.

iya niken, sesulit itu, sesulit saat dirimu akhirnya memutuskan akan diarahkan kemana jalan hidupmu,” jawabnya

lalu kenapa mi, banyak orang yang dulunya terlihat militan, terlihat wah, terlihat sangat tidak mungkin meninggalkan barisan ini tapi akhirnya meninggalkan barisan ini mi?” protesku

*sesaat kemudian hening, beliau hanya menyunggingkan senyum.*

kamu tahu, dulu ummi bukan apa-apa dalam barisan ini, bukan siapa-siapa. Doa ummi disetiap shalat adalah “Ya Allah, jadikanlah hambamu ini sebagai bagian dari orang yang istiqomah, bagian orang yang tetap bertahan, bukan yang menghilang apalagi meninggalkan.” Inilah hidup niken, kita tidak akan pernah tahu seperti apa takdir kita kedepannya, bisa jadi seseorang yang sangat militan di masa ini, menjadi barisan yang kecewa suatu saat nanti. Bisa jadi seseorang yang saat ini kamu ekspektasikan wah, di masa depan menjadi orang yang tak lagi kamu kenal sebelumnya. Bisa jadi seseorang yang sangat aktif pada dunia dakwah akhirnya meninggalkan barisan dan memilih untuk menjadi orang yang tidak tahu apa apa, seakan-akan tidak pernah mengalami sebelumnya. Oleh karenanya, jadilah orang yang biasa saja namun istiqomah.”

“Bagaimana caranya istiqomah mi?” tanyaku

Berdoalah pada Allah untuk minta dikuatkan, meminta diteguhkan, meminta untuk tetap diistiqomahkan dalam barisan ini.” jawabnya

Ummi, aku hanya takut jika suatu saat akhirnya aku akan meninggalkan barisan ini dengan alasan sakit hati, dengan alasan ukhuwwah yang compang-camping, aku takut ketika meninggalkan barisan ini hanya karena manusia mi, aku takut.” Tambahku sambil menahan tangis

Semua orang dalam dunia ini pernah mengalami kekecewaan, pernah tersakiti hatinya; ah tak hanya hati, tapi bisa jadi jiwaraganya juga. tapi mereka memilih untuk bersabar, memilih untuk menyediakan stok kesabaran yang lebih banyak, memilih lapangan pemakluman yang lebih luas, memberikan ruang untuk berbaik sangka disaat – saat terpahitnya, memberikan celah kemaafan disaat saat kekecewaannya. dan belajarlah ukh, in syaa Allah suatu saat kamu pun akan faham.”

itulah percakapan lama yang sempat melintas fikiranku beberapa pekan ini,

Aku tahu, membersamai orang shalih kadang rasanya lebih seperti terasa menyakitkan

Tapi aku tahu, kesalahannya bukan pada mereka

Karena aku tahu, Allah sedang mengujiku agar aku bisa layak membersamai mereka

Agar aku juga bisa belajar dari mereka

tak hanya kelemahannya

tapi juga kelebihannya

 

tak hanya disaat seriusnya

tapi juga disaat bercandanya

tak hanya disaat diamnya

tapi juga disaat berargumennya

 

Istiqomah itu sulit, sangat sulit akan tetapi ia dapat dihadapi dengan pemahaman yang menyeluruh

Ayat-ayat Al Qur’an yang banyak disebut selain shalat, yaitu sabar. Hal ini menandakan bahwa kesabaran adalah salah satu aspek yang sangat penting dalam kehidupan

maka bersabarlah dengan kesabaran yang baik.” – Qs. Al Maarij-

 

Di zaman rasulullah, kaum anshar pernah kecewa karena ghanimah diserahkan kepada kaum muhajirin, namun kemudian Rasulullah menghiburnya, dan kemudian mereka bersabar.

 

Karena istiqomah itu sulit, maka memintalah kepada Allah tak hanya untuk dibantu dalam menyelesaikan segala problema ummat hari ini, tapi memintalah semoga Allah turut mengistiqomahkan hati kita, mengistiqomahkan setiap langkah kita.

 

Lalu saya berfikir mendalam, dapatkah saya istiqomah dalam barisan dakwah? dalam perjalanan dakwah? ketika kuliah mungkin iya, ketika lulus? ketika bekerja? ketika menikah? ketika punya anak? lalu ketika menua?

Kita tak pernah tahu, semoga Allah senantiasa kuatkan pundak, semoga Allah senantiasa menyertai perjalanan

Yaa Muqollibal Quluub, Tsabit Quluubana ‘Alaa Diinik

 

Ciputat, 5 Mei 2014

*Selepas hujan di kota penuh cerita*

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA