Month: January 2015

LDK Syahid :)

Kali ini saya akan bercerita mengenai sebuah tempat, sebuah tempat dimana say a akhirnya bisa menemukan sebuah keluarga. Jalan Masuk ini dimulai tanggal 09 Nopember 2011 ketika itu saya mengikuti sebuah kegiatan yang dilaksanakan di salah satu UKM. Ekspressi namanya. Tempatnya di villa As Salam,Puncak. Saat itu, jujur saya sama sekali tidak ada tujuan sama sekali kenapa saya harus ikut. Akhirnya menambah pengalaman, sekedar ingin tahu menjadi salah satu alibi saya. (ahahaha. Bisa)

Menjalani 3 hari perjalanan disana, dan akhirnya terbentuklah sebuah Forum Angkatan 2011 dimana saya dan teman teman mengarungi perjalanan. Kaku, saklek, canggung, menjadi pembuka dari sifat saya saat itu, bahkan waktu itu ketika ikhwan meminta  sempat meminta uang kegiatan dari akhwat saya memberikannya di tanah (masih sangat malu saat itu, walaupun akhirnya pada agenda rapat yang lain ikhwannya bilang, “jangan ditaruh tanah lagi ya uangnya.”)

Tapi lucu, bahagia ketemu saudara baru juga menjadi jejak jejak awal persaudaraan kita. Oh iya saya sampai lupa memperkenalkan nama Forum Angkatan saya, namanya adalah Al Qolam (Pena), berdasarkan hasil syuro pada tanggal 16 Nopember 2011 di aula SC. Al Qolam, ketika saya mendengarnya, saya mengingat nama surat di Juz 29. Yap, Al Qolam namanya. Berharap dari angkatan ini dapat terukir peradaban islami yang lebih baik di Universitas.

Kegiatan kami? Seperti yang telah kakak kakak kelas lakukan dan lihat Kegiatan kami hanya 2, Jalan-jalan dan makan. Ahaha. Dimulai dari rihlah ragunan, mengadakan training motivasi, rihlah ke pulau Untung, ke rumah Rani. Pokoknya keren abis.

walaupun ditengah perjalanan, mas’ul kami alhamdulillah terpilih ke mesir dengan beberapa anak al qolam yang lain, dan akhirnya estafet ke mas’ulan (halah bahasanya) digantikan oleh saudaranya yang lain. da Al Qolam tetap melanjutkan perjalanan.

Dan disinilah akhirnya saya belajar mengenai ukuwah, komunikasi, dan mimpi mimpi yang hendak diraih bersama 🙂

Dan selanjutnya(selanjutnya ada di Syahid Part 2)

SAM_1647 SAM_1671IMG_1864IMG_1861IMG_1683DSCF4559DSCF5881

Percaya

“Hai bangunan, mau kah kau kuberitahu satu hal? celetuk lantai saat itu,

“ada apa lan? ”

“Aku ingin memberitahumu tentang percaya.”

“Ahahaha, aku sudah tahu lan, apa itu percaya.”

“Benarkah?”

“Benar.”

“Lalu, apa itu percaya?”

“Menurut ku ketika dua orang saling bergandengan tangan, itulah percaya”

“ah sempit sekali pikiran kau ngan.”

“hah? apa maksud kau?”

“Percaya lebih dari sekedar itu.”

“Lalu?”

“Adalah ketika dalam persahabatan, kamu tak perlu risau sahabatmu akan menyakitimu atau menyerangmu atau mengambil sisi terbaikmu, karena mereka tak butuh semua itu. karena percaya adalah keyakinan, kepastian.

Adalah, ketika kamu menemukan cela dalam kesempurnaan persahabatanmu, kamu tak hendak meninggalkannya, atau menyebarkan aibnya, karena kamu tahu, dengan penerimaanmu cela cela itu menjadi ritme harmonik yang hendak mendekapmu dalam indahnya persaudaaraan. Karena percaya adalah menerima, tak pernah memaksa.

Adalah, ketika kamu merasa tak sabar dengan perbuatan temanmu, kamu tak hendak meninggalkannya, tapi merangkulnya, merangkulnya seperti saat tangan memeluk hangatnya cangkir berisi susu di pagi hari. Karena itu percaya adalah kehangatan,

Adalah, ketika kamu merasa jalan saudaramu terlalu lambat, kamu tak hendak menjauhinya, tapi kamu menunggunya atau bahkan bisa jadi menghampirinya, karena kamu tahu, sekalipun perjalanan semakin lambat tapi selalu ada nikmat untuk bersabar. karena itu, percaya adalah kesabaran.”

“Sedalam itukah?”.

“Iya ngan. Bahkan lebih dalam dari itu.”

“Lalu, apakah kamu percaya padaku lan?”

“iya :)”

“sekalipun kamu tahu? mungkin aku akan rubuh suatu saat dan menimpa dirimu, meretakkan bagian bagian indahmu, bahkan membuatnya jadi cacat.”

” 🙂 terlalu melankolik sekali kau ngan. aku akan tetap percaya, bahwa kamu tak pernah hendak menyakitiku. sekalipun itu terjadi, aku dan kamu juga akan memiliki bagian yang cacat bukan?” 🙂

*Pembicaraan bangunan dan lantai, disuatu waktu, disuatu tempat.”