Month: February 2015

undefined part 2

Sore ini, setelah beberapa pekan saya tak berani melangkahkan kaki menuju alun-alun, hari ini (ditengah ramainya tekanan batin yang menimpa saya selama beberapa hari dan menyebabkan saya seperti orang stress bipolar ) saya melangkahkan kaki kesana. Entah, keadaan apa yang sedang memaksa saya, saya hanya sedang merasa saya butuh untuk sekedar merenung seperti biasa. Sepertinya sejak pindah ke Bandung, saya berhasil menciptakan “Gua” untuk saya berfikir didalamnya.

Lama, saya duduk di bangku yang menghadap langsung ke lapangan utama alun alun. Sore ini, alun alun tak begitu ramai, hanya nampak beberapa anak muda seperti biasa sedang asyik berselfie ria, dan anak kecil serta beberapa pemandangan lain dan juga lantunan beberapa murattal dan nasyid yang tepasang keras di headset saya. Cukup sunyi menurut saya (karena cuaca mendung juga mungkin). cukup lama saya hanya menatap  lapangan, sambil mencari tahu, apa yang sedang orang-orang lakukan. Hingga, pandangan saya sempat terhenti pada anak kecil yang sedang belajar berjalan dipapah orang tuanya. Lalu saya berfikir, apa yang dirasakan anak kecil itu saat ini, tak ada ubahnya seperti apa yang saya rasakan hari ini. Belajar. Yap, saya sedang mempelajari sesuatu, mempelajari sesuatu yang menurut saya tak dapat saya kuasai hingga hari ini. Lalu saya berfikir lama, jika saya menjadi anak kecil ini, bagaimana perasaan saya ? Mengapa “disitu saya kadang sedih”? ketika anak kecil mempelajari sesuatu yang baru dengan semangatnya, sedangkan saya yang dewasa tidak.

Sekitar 1 jam saya hanya duduk dan diam memperhatikan anak kecil tersebut. Anak kecil itu, mungkin tak tahu kenapa dia harus berjalan, yang dia tahu orang tuanya telah membantunya untuk menggerakkan kaki kaki kecilnya, saya tidak tahu kenapa masalah ini terasa semakin sebagai tekanan, ketika amanah amanah hadir tidak disaat yang tidak tepat yang saya tahu, hanya ada Allah dan orang orang lain disekeliling kejadian kejadian tersebut. Setelah lama terdiam, Akhirnya saya rasa cukup, ada bagian bagian yang memang tidak akan kita mengerti lebih jauh, dan mungkin tidak akan pernah kita mengerti, tapi suatu saat in syaa Allah kita akan mengerti. Mungkin suatu hari

 

Bandung, 26 Februari 2015

 

Undefined

pernahkah kamu ketika mau mengungkapkan segalanya, namun tidak bisa, semuanya tercekat di kerongkongan. Terlalu tertekan, dan akhirnya lagi lagi hanya bisa diam, lalu menangis semalaman. entah karena apa, lalu ketika mengupayakan diri untuk dapat beristirahat sejenak, ternyata tekanan itu hadir lagi. Pernahkah? lalu kau menghabiskan seharian untuk memakai topeng yang seperti biasa kau kenakan, hanya saja kali ini tekanan itu tidak hilang. pernahkah?

 

 

#Celetuk random

#abaikan

Makna

Pernahkah kamu melihat matahari terbit dari sebuah tempat, lalu kamu terdiam. ya hanya terdiam, berusaha untuk mencerna apa yang sedang kamu lihat, seketika kamu bersyukur karena masih bisa melihat, masih diberi kesempatan mendengar, masih diberi kesempatan hidup? Jawabannya semoga pernah

Lalu pernahkah kamu melihat matahari terbit dari sebuah tempat, lalu kamu terdiam. ya hanya terdiam, kemudian kamu teringat dengan ribuan masalah yang tak kunjung selesai, dan pagi hari itu kamu habiskan dengan menggerutu kesal berharap masalah itu dapat selesai. pernahkah? sepertinya pernah.

Makna. Makna berbicara tentang pilihan dan sikap. Seperti kamu memilih antara A dan B, seperti bagaimana kamu menyikapi A dan B. kehidupan ini pun adalah pilihan, pilihan bagi mereka yang mau memaknainya dengan bersyukur, atau memaknainya dengan mengeluh. Ya hidup ini mengenai makna, mengenai menjalani hidup dengan menikmatinya atau menjalani hidup dengan segala keputus asaan.

tapi ada kalanya, kita hanya bisa terdiam. tak ada pilihan selain menikmatinya, menikmati seluruh proses yang ada. Sekalipun itu adalah hal yang melelahkan, menjengkelkan, membosankan, kita hanya perlu menikmati dan berusaha memaknai segala perjalanan yang ada. Dan kita tahu, memaknai pada akhirnya membuat kehidupan kita sangat berharga, setiap jamnya, atau bahkan setiap detiknya.

 

-Kita hanya sedang berbicara tentang makna-

SAM_5020

Bandung 25/02/2015

8 hari kerja lagi 🙂

 

 

Kagum

“Pernahkah kamu merasa kagum dengan bangunan lain? sesuatu?”

Begitu tanya bangunan pada lantai.

“Ya aku pernah”

“apa? siapa? apakah seperti sekelompok manusia itu (menunjuk sekelompok manusia di kerumunan  sudut kota)

” entah. Aku hanya mau mengagumi sesuatu yang tepat. Pun Jika harus mengagumi bangunan aku ingin mengagumi bangunan yang tepat.”

“maksudmu? Bahasa mu terlalu bertele tele lan.”

“Benarkah? Ahahaha. Ketika aku mengagumi pemandangan yang ada, aku ingin mengagumi karena pemandangan itu memang layak untuk dikagumi, sama halnya ketika aku mengagumi bangunan lain misalnya, aku ingin mengagumi bukan karena dari bentuk bangunannya, tapi seberapa kokoh ia ketika cuaca buruk datang, seberapa banyak manfaat yang telah diberikan, seberapa sering ia digunakan, pun jika sering, aku mau tahu, bangunan itu lebih sering digunakan untuk kebaikan atau tidak, dan bagaimana reaksinya ketika manusia mencoret-coret dirinya, mengotori sebaguiannya, apakah ia akan tetap terlihat indah atau tidak.”

“Hmm. I see. Lalu..”

“Lalu?”

“Apakah aku termasuk yang kau kagumi lan?”

” 🙂 kamu bisa menjawabnya nan, dari semua jawaban yang ada, apakah kamu termasuk bangunan yang aku maksud? 🙂 ”

“Entahlah”

“Tak penting sebenarnya kagum itu ada atau tidak lan, yang penting kamu bisa bermanfaat untuk manusia. Bahkan bisa jauh lebih bermanfaat dibandingkan aku.”

“Jika nanti ada sesuatu yang kamu anggap itu indah, wah maka kagumlah, namun ada yang kau sadari nan bahwa lantai lain, bangunan lain, pemandangan lain pasti ada kekurangan, dan saat ini kita hanya bisa melihat keindahannya saja. Mungkin jika kamu menetap dalam waktu yang lama, kamu akan menemukan sisi terburuk yang mungkin tak pernah kau lihat.”

 

 

 

 

Bandung, 24 Februari 2015

Ketika akhirnya penulis menemukan bangunan dan lantai yang lain disini. 🙂

 

 

 

Saya Merasa Gagal

Saya merasa gagal. Lebih tepatnya seperti itulah perasaan saya sekarang. Sore tadi, 16.20 di kota Bandung, ketika saya hendak berbelanja kebutuhan mingguan di salah satu Pasar Swalayan di dekat Alun-Alun Bandung, saya melihat sepasang muda mudi (Usianya antara SD-SMP awal) sedang (maaf) berciuman. Dan, jleb. seketika saya benar benar terhenti, dengan mulut setengah terbuka. Anak yang sedang melakukan “hal” tersebut pun kaget melihat saya, dan kemudian diam sambil salting, awalnya jujur, saya meyakinkan diri saya berkali kali dengan kalimat “Saya salah lihat.” Sambil tetap mata saya terbelalak ke arah mereka. Tapi sayang usapan tangan perempuan itu ke bibirnya menghancurkan husnudzan singkat saya. Tangan saya sudah siap menampar aktivitas tersebut, namun saya urungkan dan saya lebih memilih berlalu.

Sepanjang perjalanan, saya menangis. entah, tiba tiba saya ingat adik saya Rafi yang sekarang sedang duduk di kelas 2 SMP, juga Aufa adik saya yang terakhir yang masih berusia 7 tahun. Apa jadinya kondisi mereka ya, sampai saya membayangkan jika di posisi adik saya adalah disana. apa yang hendak saya lakukan? Perjalanan pun saya lakukan secepat mungkin, saya sudah tidak peduli orang orang disekitar sana yang melihat saya menangis. Saya hanya ingin cepat menyelesaikan urusan saya dan langsung pulang. Setelah membeli beberapa barang yang saya butuhkan, saya berjalan menunduk di sepanjang jalan.

Saya mengevaluasi semuanya, Perjalanan saya di kampus, amanah yang pernah saya terima, saya renungkan semuanya hingga mencapai satu titik kesimpulan ;saya telah gagal. Ternyata problematik dakwah kampus masih belum bisa bertindak sedikit saja terhadap problematika dakwah masyarakat. ini lho, kondisi masyarakat saat ini, Lalu saya berusaha berjalan tenang, sambil terus memikirkan apa yang saya lihat, seharusnya saya bertindak seperti apa, dan mengingat ingat kasus yang pernah saya kaitkan terkait hal ini.

Dalam bagian hati saya, jujur timbul pertanyaan, “Apakah Allah hendak menguji saya? karena saya mungkin tidak lulus dalam ujian ini.” dulu, Beberapa tahun silam, saya ingat dengan jelas sekali ikhwan-akhwat yang saya kenal berangkulan di sebuah tempat makan, dan saya shock dan berpura pura tidak melihat, lalu setelah saya menyelesaikan makanan saya, saya langsung bergegas pulang dan tak lupa saya mengatakan sesuatu kepada orang itu “ukh, dia siapa? kakaknya kah?” “bukan’ begitu jawabnya “hati-hati ya, anti akhwat.” dan selepas itu, saya pulang. Di tengah perjalanan sampai ketujuan, seperti biasa saya hanya menangis dan bingung harus berbuat apa. Dan mungkin, uijan inilah yang menyebabkan saya kembali diuji oleh Allah karena masih belum “lulus”.

Banyak hal, yang membuat saya kini lebih banyak merenung disini, entah itu di taman, di sudut kota, di tengah bangunan tua dan sebagainya. Mengenai apa yang telah saya lakukan selama ini, tentang masih kecilnya usaha saya untuk memberikan yang terbaik untuk dakwah ini, mengenai amanah saya “Apakah Allah ridha?” <tanyaku.

Saya merasa gagal, dalam hati saya mengerjap lebih dalam apakah saya masih layak meneruskan perjalanan ini, atau lebih baik mundur dan merapihkan catatan akhir saya. Entahlah, hanya saja sampai saat ini saya merasa gagal 😥

Semoga Allah senantiasa menguatkan 😥

Bandung, 15/02/2015

Pukul 22.01

Bandung

Akhirnya. setelah 13 hari saya tinggal di kota ini, saya bisa menulis. 🙂 Yeay

berhubung sudah lama tidak menulis, maka mohon maaf kalau tulisannya amburadul ya. ><

Bandung. Ketika mendengar nama kota itu, apa yang ada di fikiranmu? Gaya hidup hedon, walikota super kece dan sebagainya.

Ya, aku disini in syaa Allah selama 36 hari mendatang. untuk apa? Kepentingan akademikku, menyelesaikan salah satu syarat yang harusnya dilakukan oleh mahasiswa di fakultas;magang.

Saya tiba disini pada tanggal 1 Februari 2015. Sendiri. Dengan meninggalkan setumpuk pertanyaan tanpa jawab beberapa orang di tempat lain (Maafkan ya) “kenapa harus bandung?” dan selalu saya jawab “entah.”

Bandung, saya bersyukur bisa menapakkan kaki disini.

Berjalan aman sekalipun di malam hari, entah saya merasa aman dan nyaman disini. Kosan yang sangat dekat dengan kantor, menyebabkan saya lebih santai berjalan dan mengondisikan kosan saya dengan baik.

Pergaulan memang campur, kosan juga, tapi mereka menghargai saya dengan baik. Tanpa harus memendekkan jilbab atau mengubah style saya, di depan kosan ada pak satpam, saya hanya tinggal berpakaian rapih bukan saat keluar kamar, dan selesai. tidak ada masalah. alhamdulillah

Kenyamanan saat saya berjalan, keramahan orang orang disini. Setiap saya diam, pasti ditanya “Teh, bade kamana?” “Ka luhur a/pak” dan selesai.keramahan pegawai kantor ini sangat menyenangkan, saya adalah mahasiswi yang satu satunya menetap di lantai ini, di divisi ini, tapi mereka memperlakukan saya seperti saya adalah pegawai dan bagian keluarga disana. Acara makan- makan diajak, nonton di ruangan diajak #eh.

Saya suka berjalan disaat sore setelah pulang kantor, dan pulang malam hanya untuk mengetahui kehidupan mereka, dan tepat.. saya selalu takjub disini. ketika sore, saat lalu lintas sedang padat saya melihat ada ke “legowo”an yang masih kuat disini, tak seperti di Jakarta yang penuh dengan emosi. Disini, Alun-alun benar benar menjadi sebuah wahana bermain bagi anak-anak, orangtua rela untuk tidak terlalu asik dengan gadgetnya dan anak anak menikmati masa bermainnya. Dengan benda, bukan dengan smartphone. Sesuatu yang mungkin tidak akan saya temukan di Jakarta. Melanjutkan perjalanan, saya bisa menikmati suasana sore tanpa polutan banyak di sepanjang jalan, melihat pemulung sedang asik membaca koran harian, dan tentu saja bapak-bapak yang duduk untuk melihat batu akik sepulang kerja. -_-

Ketika malam menjelang, diperjalanan mulai muncul anak muda dan orang orang tuna wisma yang mulai mendiami beberapa lokasi. Tapi mereka terlihat tanpa beban, seringkali terlihat mereka sedang makan bersama dan berdiskusi di depan bank CIMB atau Gedung Merdeka, ada keluarga yang sibuk dengan anak-anaknya;ayah dengan anak perempuannya, ibu dengan dedek bayinya. Fikiran liar saya adalah “saya boleh gabung enggak ya? kayaknya tidur sehari di jalanan seru ya.” tapi fikiran liar ini saya urungkan, karena saya masih tidak kuat dengan dinginnya cuaca malam disini.

Berlanjut ke kuliner, disini saya menemukan makanan-makanan unik yang saya belum pernah coba di Jakarta. tapi bukan itu point kuliner yang mau dibahas disini, setiap saya makan/membeli makan dimanapun saya pasti diajak ngobrol oleh orang sebelah saya, atau oleh ibu ibu/bapak bapak yang menjual makanan. Disini, semua nya ramah, tukang makanan sudah seperti tempat curhat, menampung segala cerita, kekesalan yang dirasakan oleh para pengunjung nya seharian.

Usia. Disini, saya sudah dianggap setara dengan ibu ibu -_- agak kesel di awal awalnya, tapi saya menikmatinya, saya dihargai sebagai seorang wanita, dan tidak diganggu macam macam dibandung 🙂
Biasanya setiap saya dalam rangka kuliner saya, ditanya “teteh umurnya berapa?”

“21”

“udah nikah teh?”

” belum”

“udah punya pacar?”

“saya enggak niat pacaran bu/pak :)”

“kasihan ya”

“Teh, saya nikah 17 tahun lho”

“wah, bisa gitu ya teh”

“iya, disini mah nikahnya pada cepet cepet”

“ooh”

Lalu dilain waktu

“A, suaminya teh X ya?” tanyaku memberanikan diri saat itu

“Bukan”

“Oooh, saya kira suaminya”

“Istri saya berkerudung teh”

“ooh”

“Tapi dulu saya sempet nikah juga”

“Berarti umur aa sekarang 22 atau 23 ya”

“21 teh”

“ooh (kaget padahal), dulu nikah usia berapa?”

“Dulu 19 tahun”

“*speechless* terus cerai?”

“Iya cerai. Istri saya yang dulu beda agama teh”

“Ooh. kok nyari nya yang beda agama?”

“Terpaksa teh”

“Kok terpaksa? Nikah mah ulah dipaksakeun ”

“Udah hamil duluan teh”

“(saat itu saya shock, dan sempat diam sebentar) perempuannya dulu sama sama 19 tahun?”

“enggak teh”

“terus”

“17 tahun, dia masih sma teh”

“(tambah shock) lalu?”

“anak saya ditarik keagama ibunya teh, saya enggak mau akhirnya cerai”

“sekarang dimana mantan istri sama anaknya?”

“Udah dibawa ke Medan teh. Kalau yang jualan makanan ini baik banget teh, udah saya anggep saudara.”

“Oh gitu. yaudah saya duluan ya a, teh”

Lalu, pada suatu waktu yang lain ketika saya ditemani oleh bibi pemilik kosan

“Non niken, udah punya pacar?

“Enggak minat bu.”

“Udah tunangan?”

“Haha. saya mah belum kepikiran bu.”

“Umurnya berapa teh sekarang?”

“21 bu”

“Aduh kasihan atuh neng (bener bener muka nahan nangis)”

“Tenang bu, tenang aja. saya aja nyantai aja”

“Yaa Allah kasian.”

dan akhirnya saya mengajak beliau ke jalan yang belum pernah saya lewati sebelumnya. dan hari itu dilewati dengan cerita bagaimana pernikahan ibunya, dan anak anaknya

Tak disangka, sisa 3 pekan lagi saya disini 🙂 ditengah suasana kekeluargaan yang ada, Semoga Allah senantiasa memberikan kebaikan dan memberikan pelajaran yang terbaik selama disini 🙂

#Di sebuah lantai, dalam sebuah bangunan yang tak pernah saya ajak berdialog 🙂 15.15

*Foto Menyusul.*