Saya Merasa Gagal

Saya merasa gagal. Lebih tepatnya seperti itulah perasaan saya sekarang. Sore tadi, 16.20 di kota Bandung, ketika saya hendak berbelanja kebutuhan mingguan di salah satu Pasar Swalayan di dekat Alun-Alun Bandung, saya melihat sepasang muda mudi (Usianya antara SD-SMP awal) sedang (maaf) berciuman. Dan, jleb. seketika saya benar benar terhenti, dengan mulut setengah terbuka. Anak yang sedang melakukan “hal” tersebut pun kaget melihat saya, dan kemudian diam sambil salting, awalnya jujur, saya meyakinkan diri saya berkali kali dengan kalimat “Saya salah lihat.” Sambil tetap mata saya terbelalak ke arah mereka. Tapi sayang usapan tangan perempuan itu ke bibirnya menghancurkan husnudzan singkat saya. Tangan saya sudah siap menampar aktivitas tersebut, namun saya urungkan dan saya lebih memilih berlalu.

Sepanjang perjalanan, saya menangis. entah, tiba tiba saya ingat adik saya Rafi yang sekarang sedang duduk di kelas 2 SMP, juga Aufa adik saya yang terakhir yang masih berusia 7 tahun. Apa jadinya kondisi mereka ya, sampai saya membayangkan jika di posisi adik saya adalah disana. apa yang hendak saya lakukan? Perjalanan pun saya lakukan secepat mungkin, saya sudah tidak peduli orang orang disekitar sana yang melihat saya menangis. Saya hanya ingin cepat menyelesaikan urusan saya dan langsung pulang. Setelah membeli beberapa barang yang saya butuhkan, saya berjalan menunduk di sepanjang jalan.

Saya mengevaluasi semuanya, Perjalanan saya di kampus, amanah yang pernah saya terima, saya renungkan semuanya hingga mencapai satu titik kesimpulan ;saya telah gagal. Ternyata problematik dakwah kampus masih belum bisa bertindak sedikit saja terhadap problematika dakwah masyarakat. ini lho, kondisi masyarakat saat ini, Lalu saya berusaha berjalan tenang, sambil terus memikirkan apa yang saya lihat, seharusnya saya bertindak seperti apa, dan mengingat ingat kasus yang pernah saya kaitkan terkait hal ini.

Dalam bagian hati saya, jujur timbul pertanyaan, “Apakah Allah hendak menguji saya? karena saya mungkin tidak lulus dalam ujian ini.” dulu, Beberapa tahun silam, saya ingat dengan jelas sekali ikhwan-akhwat yang saya kenal berangkulan di sebuah tempat makan, dan saya shock dan berpura pura tidak melihat, lalu setelah saya menyelesaikan makanan saya, saya langsung bergegas pulang dan tak lupa saya mengatakan sesuatu kepada orang itu “ukh, dia siapa? kakaknya kah?” “bukan’ begitu jawabnya “hati-hati ya, anti akhwat.” dan selepas itu, saya pulang. Di tengah perjalanan sampai ketujuan, seperti biasa saya hanya menangis dan bingung harus berbuat apa. Dan mungkin, uijan inilah yang menyebabkan saya kembali diuji oleh Allah karena masih belum “lulus”.

Banyak hal, yang membuat saya kini lebih banyak merenung disini, entah itu di taman, di sudut kota, di tengah bangunan tua dan sebagainya. Mengenai apa yang telah saya lakukan selama ini, tentang masih kecilnya usaha saya untuk memberikan yang terbaik untuk dakwah ini, mengenai amanah saya “Apakah Allah ridha?” <tanyaku.

Saya merasa gagal, dalam hati saya mengerjap lebih dalam apakah saya masih layak meneruskan perjalanan ini, atau lebih baik mundur dan merapihkan catatan akhir saya. Entahlah, hanya saja sampai saat ini saya merasa gagal 😥

Semoga Allah senantiasa menguatkan 😥

Bandung, 15/02/2015

Pukul 22.01

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s