Month: May 2015

Someone :’)

dakwah tak membutuhkan kita. tapi aku?

aku membutuhkanmu untuk menemani perjalanan

dalam tulisan ini, izinkan aku memanggilmu senja (bagiku senja adalah bagian terbaik :))

dirimu ingat tidak? pertemuan kita pertama kali, ketika itu dirimu memakai pakaian berwarna hitam bergaris lurus. Pertemuan kita sederhana,hanya berkenal nama dan asal, dalam sebuah kegiatan pengembangan yang dilaksanakan oleh senior kita. Perlahan, selama 6 bulan, kita ditempa dengan tensi, materi dan penugasan yang sama. perlahan juga, kulihat gaya pakaian mu mulai berubah 🙂 jauh lebih baik, jauh lebih baik. Hingga akhirnya, kita terikat dalam sebuah forum angkatan. dirimu banyak membantu dari segi pengelolaan keuangan forum angkatan kita. Takkah kau ingat?

Agenda, demi agenda, kegiatan demi kegiatan akhirnya berlalu. aku dan dirimu di amanahkan dalam posisi yang sama, sebagai kepala keputrian di tingkat fakultas. takkah kau ingat?

Amanah yang sama, membuat kita merasa senasib seperjuangan. Hampir setiap hari, kita selalu bersama, entah itu makan malam bersama, ngobrol, atau mabit bersama diakhir pekan. tak kah kau ingat?

atau seringkali disepanjang perjalanan aku bertanya, “senja, masih adakah nasihat yang tersisa untukku hari ini? senja, adakah kiranya perbuatanku yang tak mengenakkan saat syuro tadi? senja, ingatkan aku terkait kekuranganku yang harus ku perbaiki.”

hingga kepengurusan terus berlanjut, dan amanah baru dimulai.

kamu tetap dengan amanah mu sebagai kepala, dan aku mendampingi sebagai teman yang berusaha tetap disampingmu.

Masa masa sulit, aku mulai melihat perubahan pada wajahmu, dirimu terlihat lebih sedikit murung, lebih banyak diam, dan sesekali berkata, “Niken, aku sedih.”

kemudian sikapmu mulai berubah, aku melihat tekanan itu ada, hanya kita tahu, menyembunyikannya dalam hati mungkin akan jadi lebih baik.

waktu pun terus bergulir, terus berputar sampai aku sadar, dirimu mulai menghilang, meninggalkan jejak tanpa suara, yang terlihat hanya bayangan hitam perlahan memudar

Senja,

tak pernah ku temukan sahabat sekuat dirimu

yang memberikan hawa kesejukan, yang memberikan kesungguhan dalam hal apapun, sekalipun kau tahu, teman bodoh mu ini tak bisa menyaingimu

Senja,

Belum pernah kutemukan sahabat sepertimu

yang mendekapku lebih dalam, mendekapku lebih erat atau lebih sering kita habiskan waktu dengan menangis bersama. Sekalipun kau tahu, teman bodohmu ini tak selalu percaya dengan makna sahabat

Senja,

Belum pernah kutemukan sahabat sepertimu

yang mempercayaiku, ketika keadaan sama sekali tak mendukung ku kala itu

Senja,

Belum pernah ku temukan sahabat sepertimu

yang mengeja kata demi kata, yang membaca secara lamat lamat sebuah rasa, sekalipun dirimu tahu, teman bodohmu ini menggunakan sebagian besar logikanya dibanding perasaannya ketika bertemu orang lain

Senja,

Belum pernah kutemukan sahabat sepertimu

yang bersama tertatih berjalan, sambil seling demi seling harap tertanam, semoga generasi selanjutnya jauh lebih baik dari apa yang telah kita kerjakan saat ini

Senja,

tak kah kau ingat?

kita berjanji untuk bisa mengenakan toga bersama,

aku menunggumu.

Senja,

tak kah kau ingat?

kita selalu bercanda tentang siapa yang akan menggenapkan agama nya terlebih dahulu

aku kah? atau kamu?

dan aku selalu berharap jawabannya kamulah terlebih dahulu

agar aku merasa bahagia, karena dirimu akan senantiasa dalam kebaikan kebaikan lainnya

Senja,

Aku sedih

kata mereka dirimu hilang, semangatmu mati

aku tak mempercayainya,

semangatmu hanya sedang koma saja, sedang tertidur lelap, sedang melangkah berjalan berputar disekeliling kehidupan

dan aku yakin, semangatmu akan ada :’) ia akan hadir lagi

Senja,

Aku takut, aku takut ketika aku tak lagi mempercayai siapapun, takut ketika aku tak lagi membutuhkan siapapun, takut ketika aku akhirnya akan mematikan seluruh indera perasaku dan mengedepankan seluruh logikaku

Senja,

Aku mulai untuk tak lagi mengerjakan tanggung jawab akhirku di akademik;sama sepertimu, aku mulai mengundurkan diri di beberapa amanah yang lain, aku mulai menutup diri untuk tidak terlalu sering berkomunikasi dengan siapapun, dan perlahan aku mulai untuk tak bercerita apapun kepada siapapun

Senja,

Semoga Allah memberikan semangat lebih untukmu, untuk terus berada disini, bersama disini, setidaknya sebelum mungkin aku yang harus pergi.. :’)

Bekasi, 19 Mei 2015

Dibalik Senja ada sinar kehidupan

Menunggu

Lagi-lagi sebuah kata yang dibenci sebagian besar orang, yang akhirnya saya tuliskan hari ini.

Menunggu itu tentang menanti. Duduk dengan sabar atau terkadang berdiri dan menggerutu kesal, bisa jadi karena orang lain, atau hal lain yang sekiranya dianggap penting

Menunggu adalah sebuah peristiwa dimana, setiap orang diajarkan bersabar, bertahan, dan berprasangka baik tentang apa yang ditunggunya.

Menunggu melelahkan memang, sangat melelahkan. Tapi bukankah ketika apa yang telah kita tunggu selama ini telah hadir, mendekat dalam penglihatan kita, maka hilanglah segala lelah disambut dengan kesyukuran yang terucap dalam lisan lisan kita.

Pernahkah kamu melihat peristiwa seperti ini?

Seorang wanita yang menunggu kehadiran bayinya selama 9 bulan; Orang tua yang menunggu sang bayi hingga mengucapkan “papah” “mamah”; Seorang Ibu yang harus terjaga setiap malam menunggu anaknya terbangun, merengek minta diberikan ASI; Seorang Ayah yang menunggu anaknya menjadi sesosok pria dewasa yang tangguh yang kelak meneruskan perjuangan orang tuanya; Seorang mahasiswa yang menunggu dosen selama hampir seharian hanya untuk sebuah tanda tangan,

atau, kita melihat dari alam yang ada

Matahari yang menunggu sang bulan, atau sebaliknya; Bunga yang menunggu kumbang menghampirinya; Rerumputan yang menunggu angin mengibas dedaunannya; Batu yang menunggu air mengikis dirinya menjadi serpihan-serpihan kecil, dan sebagainya

Bagi aktifis dakwah, menunggu adalah sebuah ikhtiar yang pasti akan dijalankan dengan penuh kesabaran, atau bahkan ekstra kesabaran. Kemenangan adalah sesuatu yang takkan pernah diraih dalam waktu yang sebentar, bisa jadi dalam jangka waktu yang sangat panjang, atau mungkin saja bukan pada masa kita. dan itulah adil-Nya, Dia tak pernah melihat hasil akhir dari Ikhtiar maksimal kita, tapi dari proses apa yang telah kita lakukan, menyeluruh, sempurna dan Adil.

Bagi Aktifis Dakwah, menunggu adalah sebuah keniscayaan, ketika kalimatNya sudah di sampaikan dengan lisan, sudah diamalkan dalam perbuatan, maka menunggu adalah tindakan yang diambil selanjutnya, menunggu seluruh lapisan manusia dibukakakan hidayahNya, menunggu dan bersabar. untuk kemudian sambil melanjutkan perjalanan.

Maka menunggulah, selagi kita masih bisa menunggu, karena ada satu hal yang takkan pernah menunggu kita :Kematian, hanya itu. entah kapan 🙂

Bekasi

31 Maret 2015

Wanita Itu..

Ada seorang wanita yang sangat saya hormati saat saya menjejakan kaki di Bandung. Seorang wanita dengan usia yang tak  jauh beda dari almh.nenek saya, seorang wanita dengan kelainan tulang yang menyebabkan beliau jalan dalam keadaan bungkuk dan kondisi tubuh yang sangat kurus. Sebut saja Nyonya Senja, Aku memanggilnya ibu, wanita yang kusapa setiap pagi sebelum beranjak ke tempat penelitian, saat istirahat dan ketika pulang hendak menuju kosan.

Beliau adalah seorang Asistent Rumah Tangga yang baru saja dipekerjakan di kosan saya tempat saya menginap. Saya belajar banyak, sangat banyak dari beliau,

Setiap saya menemaninya belanja atau sekedar berjalan, beliau akan bertanya kepada saya terlebih dahulu “non, enggak malu jalan sama saya?”, dan saya selalu menjawab dengan setengah bercanda “enggak bu, santai aja, kalau ada yang nanya, jawab aja Ibu saya, kan mereka juga enggak bayarin jalan kita. hehe” dan setelah itu kita berjalan sangat lama sambil berdiskusi dengan banyak hal.

Dirimu adalah wanita yang sangat lembut, seorang tulang punggung bagi keluarga dan anak, cucu dan juga saudaramu yang usianya tak jauh terpaut dengan dirimu

Saya ingat, ketika tangisan tangisan mu didepan saya hampir setiap siang, disetiap perbincangan simpel kita, disitulah saya menyadari tentang perempuan, tentang wanita, tentang cinta. Yap, sebuah cinta yang sering masih saya tak bisa pahami dengan logika saya, dan terkadang sering membuat saya bingung apa yang sedang dilakukan.

Saya ingat kepanikan dan ketakutanmu, ketika tetanggamu melihatmu sedang berjalan dengan saya, sambil bertanya ulang “Non, enggak malu kalau sampai banyak yang tahu, kalau non sering jalan sama saya?” dan saya hanya tertawa, sambil menjawab singkat “biarin aja lah bu, biasa tetangga mah”

Atau ketika dirimu melihat anak anak muda berjalan sendirian, dan dirimu bertanya dengan polosnya “Non, itu orang kasep, non suka sama orang juga enggak disana?”, lalu dirimu terdiam dan sedih, sedangkan saya  selalu menjawab “Ahaha, saya enggak kepikiran bu, tapi kalau ibu mau ngenalin mungkin bisa nanti saya tulis #eh” dan akhirnya saya selalu berhasil membuat dirimu tertawa.

Akhirnya ketika masa perpisahan tiba, ketika saya harus kembali, “non mau dibawain barangnya?” sambil tertawa simpel saya bilang “anak muda mah jangan dibantuin bu, biarin supaya enggak manja.”

terakhir “non, kalau saya dateng ke bekasi, saya diaku enggak?”

“Ahahaha, jangan kebanyakan nonton sinetron ah bu, keluarga saya bukan tipe yag kayak gitu.hehe” “beneran? sekalipun saya enggak bawa apa apa gitu?”

“santai aja bu, ibu datang aja kerumah juga aku udah seneng banget. hehe, nanti kita muter muter bu, aku yang jadi petugasnya.” dan dirimu menangis sambil tertawa.

tapi sepertinya itu pertemuan terakhir saya ya :’)

Tadi saat saya menyelesaikan semua misi saya di Bandung, saya berkunjung ke kosan, cukup lama menunggu dirimu keluar. Ketika didepan rumah, saya melihat sandal jepit yang berbeda, biasanya yang dirimu pakai adalah warna hitam dengan tali kuning dan alas agak tipis (mungkin karena sering dipakai jalan, dan setiap hari terseret seret dalam aspal dari naripan-otista), lalu saya menunggu di ruang depan. cukup lama. saya memberanikan diri menuju mushalla kecil dimana dirimu terbiasa membawa bungkusan plastik yang berisi alat shalat dan botol air yang bisa diisi ulang. tapi sayang, hari ini tidak ada. Lalu saya mencoba duduk, hingga terdengar derap langkah kaki yang mendekat, aku kira dirimu, ternyata bukan. aku kemudian langsung bergegas keluar untuk menunggu seseorang yang dapat memberikan saya informasi tentang dirimu. tiba-tiba ada seorang penghuni kos, seorang lelaki yang kemudian saya tanyakan mengenai dirimu

“A, aya Ibu Senja di ditu teh (A, Ibu Senja disitu kah)?”

“teu aya, bu Senja teh pindah kerjana (enggak ada, Bu senja pindah kerjanya).”

“kamana A (Kemana A)?”

“teu teurang teh (enggak tahu).”

dan kalimat ini seperti menghujani saya dengan banyak cerita. dengan langkah gontai, saya akhirnya berjalan menyusuri jalan Asia -Afrika.

Sedih, marah dan semuanya bercampur menjadi satu, tapi ketika saya yakinkan, Allah menunjukkan sesuatu untuk sesuatu, akhirnya setelah menghela nafas panjang saya memutuskan untuk kembali ke Bekasi (setelah sempat duduk diam lama di pelataran alun – alun masjid )

“Tak ada lagi alasan untuk saya pergi kesini lagi sepertinya.” sahutku

Ibu Senja, terima kasih atas segalanya, semoga Allah membalas kebaikan Ibu Senja :”)

 

Bekasi, 1 April 12:07 AM

Ini tentang Cinta :)

Jangan suka memaksakan diri”

Begitulah marahnya suatu ketika dan seperti biasa respon ku hanya diam atau tertawa cengengesan.. Sepertinya bukan pertama kali nasihat ini sampai kepada saya, dan seperti biasa respon saya selalu sama.; diam atau tertawa..

tak beberapa lama, fikiranku jauh menerawang ke teriknya matahari siang di “luar planet” ini, “benarkah apa yang telah dikatakannya?” atau hanya sebuah pendapat yang berlebihan saja?

Kemudian, aku bertanya jauh ke dalam diri, siapalah aku?

aku hanyalah seorang manusia biasa, yang ingin sedikit mengecap lelahnya perjuangan seperti mereka.

Aku hanyalah seorang manusia biasa, yang ingin sedikit memiliki ilmu untuk dapat bertanya dan belajar ilmu lebih banyak dengan mereka

Aku hanyalah seorang manusia biasa, yang dengan jahil nya masih sering merasa terluka, merasa kecewa, merasa tertekan, walaupun aku tahu rasa itu semua sudah jauh lebih dalam dirasakan oleh mereka

Aku hanyalah seorang manusia biasa, yang ingin bisa menangis selepas mereka, menghela nafas dalam dalam kemudian menutup mata untuk selanjutnya meneruskan perjalanan

Aku hanyalah seorang manusia biasa, yang ingin bisa menghargai setiap waktu bagi kehidupannya seperti mereka.. Bahkan dengan berhasil membagi waktu mereka untuk totalitas dimanapun berada, karena itu, dari mereka aku mengetahui makna totalitas

kemudian fikiranku jauh kembali menerawang ke belakang. Dulu, jauh sebelum aku mengenali semua, aku pernah bertanya, apa yang membuat mereka bisa berbuat demikian?

“CINTA” begitu katanya

cukup lama aku tak percaya, ini tak seperti makna cinta yang pernah saya lihat di televisi atau di kisah kisah pendogeng lainnya

Hingga akhirnya, saya memberanikan diri untuk masuk kedalamnnya, mempelajari setiap langkahnya, dan akhirnya saya pun melakukan hal yang sama

“Mencintai”

dan akhirnya saya mulai sedikit demi sedikit mengerti, ini yang disebut..

“CINTA”

ini bukan mengenai penerimaan, ini mengenai komitmen, mengenai keberlangsungan untuk memberi yang dapat diberikan

memberikan sebanyak banyaknya, dan menjaga sebaik baiknya. seorang Ustadz pernah menyampaikan sebuah nasihat dalam tulisannya. seperti inilah ucapannya :

Memang seperti itulah dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu.. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yg kau cintai..

Lagi-lagi memang seperti itu Dakwah, menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu. Tubuh yg luluh lantak diseret-seret. . Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari..

– (Alm.) Ust. Rahmat Abdullah-

dan kini, untuk mu yang masih bertanya tanya tentang apa yang ku lakukan, mungkin seperti inilah makna CINTA yang kufahami dari makna yang ada

ketika selepas daurah, dengan tenaga yang tersisa setelah mengendarai selama 10 jam, masih harus pergi dalam suatu rapat, kemudian harus ke tempat lain untuk agenda rutinan. walaupun saya tahu, selepas semua agenda itu, saya tak mampu bergerak sejengkal pun dari ruang tamu

atau saat menikmati kesendirian, saya menikmati masa masa penerimaan kekecewaan, tekanan dan lain hal, saya menikmatinya sama seperti 15 tahun silam. ketika saya menikmati masa-masa menghapus air mata sendirian sepanjang perjalanan

atau saat saya menikmati kebersamaan, duduk ditengah kumpulan manusia manusia hebat yang tak dikenal di bumi, tapi terkenal di seantero langit (In syaa Allah) dengan setiap doa dan harap kelak saya dapat seperti mereka setiap harinya

dan saya menyukainya ketika saya dapat menyebutnya : “CINTA”

Bekasi, 11 Mei 2015