Wanita Itu..

Ada seorang wanita yang sangat saya hormati saat saya menjejakan kaki di Bandung. Seorang wanita dengan usia yang tak  jauh beda dari almh.nenek saya, seorang wanita dengan kelainan tulang yang menyebabkan beliau jalan dalam keadaan bungkuk dan kondisi tubuh yang sangat kurus. Sebut saja Nyonya Senja, Aku memanggilnya ibu, wanita yang kusapa setiap pagi sebelum beranjak ke tempat penelitian, saat istirahat dan ketika pulang hendak menuju kosan.

Beliau adalah seorang Asistent Rumah Tangga yang baru saja dipekerjakan di kosan saya tempat saya menginap. Saya belajar banyak, sangat banyak dari beliau,

Setiap saya menemaninya belanja atau sekedar berjalan, beliau akan bertanya kepada saya terlebih dahulu “non, enggak malu jalan sama saya?”, dan saya selalu menjawab dengan setengah bercanda “enggak bu, santai aja, kalau ada yang nanya, jawab aja Ibu saya, kan mereka juga enggak bayarin jalan kita. hehe” dan setelah itu kita berjalan sangat lama sambil berdiskusi dengan banyak hal.

Dirimu adalah wanita yang sangat lembut, seorang tulang punggung bagi keluarga dan anak, cucu dan juga saudaramu yang usianya tak jauh terpaut dengan dirimu

Saya ingat, ketika tangisan tangisan mu didepan saya hampir setiap siang, disetiap perbincangan simpel kita, disitulah saya menyadari tentang perempuan, tentang wanita, tentang cinta. Yap, sebuah cinta yang sering masih saya tak bisa pahami dengan logika saya, dan terkadang sering membuat saya bingung apa yang sedang dilakukan.

Saya ingat kepanikan dan ketakutanmu, ketika tetanggamu melihatmu sedang berjalan dengan saya, sambil bertanya ulang “Non, enggak malu kalau sampai banyak yang tahu, kalau non sering jalan sama saya?” dan saya hanya tertawa, sambil menjawab singkat “biarin aja lah bu, biasa tetangga mah”

Atau ketika dirimu melihat anak anak muda berjalan sendirian, dan dirimu bertanya dengan polosnya “Non, itu orang kasep, non suka sama orang juga enggak disana?”, lalu dirimu terdiam dan sedih, sedangkan saya  selalu menjawab “Ahaha, saya enggak kepikiran bu, tapi kalau ibu mau ngenalin mungkin bisa nanti saya tulis #eh” dan akhirnya saya selalu berhasil membuat dirimu tertawa.

Akhirnya ketika masa perpisahan tiba, ketika saya harus kembali, “non mau dibawain barangnya?” sambil tertawa simpel saya bilang “anak muda mah jangan dibantuin bu, biarin supaya enggak manja.”

terakhir “non, kalau saya dateng ke bekasi, saya diaku enggak?”

“Ahahaha, jangan kebanyakan nonton sinetron ah bu, keluarga saya bukan tipe yag kayak gitu.hehe” “beneran? sekalipun saya enggak bawa apa apa gitu?”

“santai aja bu, ibu datang aja kerumah juga aku udah seneng banget. hehe, nanti kita muter muter bu, aku yang jadi petugasnya.” dan dirimu menangis sambil tertawa.

tapi sepertinya itu pertemuan terakhir saya ya :’)

Tadi saat saya menyelesaikan semua misi saya di Bandung, saya berkunjung ke kosan, cukup lama menunggu dirimu keluar. Ketika didepan rumah, saya melihat sandal jepit yang berbeda, biasanya yang dirimu pakai adalah warna hitam dengan tali kuning dan alas agak tipis (mungkin karena sering dipakai jalan, dan setiap hari terseret seret dalam aspal dari naripan-otista), lalu saya menunggu di ruang depan. cukup lama. saya memberanikan diri menuju mushalla kecil dimana dirimu terbiasa membawa bungkusan plastik yang berisi alat shalat dan botol air yang bisa diisi ulang. tapi sayang, hari ini tidak ada. Lalu saya mencoba duduk, hingga terdengar derap langkah kaki yang mendekat, aku kira dirimu, ternyata bukan. aku kemudian langsung bergegas keluar untuk menunggu seseorang yang dapat memberikan saya informasi tentang dirimu. tiba-tiba ada seorang penghuni kos, seorang lelaki yang kemudian saya tanyakan mengenai dirimu

“A, aya Ibu Senja di ditu teh (A, Ibu Senja disitu kah)?”

“teu aya, bu Senja teh pindah kerjana (enggak ada, Bu senja pindah kerjanya).”

“kamana A (Kemana A)?”

“teu teurang teh (enggak tahu).”

dan kalimat ini seperti menghujani saya dengan banyak cerita. dengan langkah gontai, saya akhirnya berjalan menyusuri jalan Asia -Afrika.

Sedih, marah dan semuanya bercampur menjadi satu, tapi ketika saya yakinkan, Allah menunjukkan sesuatu untuk sesuatu, akhirnya setelah menghela nafas panjang saya memutuskan untuk kembali ke Bekasi (setelah sempat duduk diam lama di pelataran alun – alun masjid )

“Tak ada lagi alasan untuk saya pergi kesini lagi sepertinya.” sahutku

Ibu Senja, terima kasih atas segalanya, semoga Allah membalas kebaikan Ibu Senja :”)

 

Bekasi, 1 April 12:07 AM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s