Pahlawan

Bagian terbaik dari seorang Pahlawan adalah, kita menjadi bagian dari dunianya.

Aku menyebutnya Pahlawan. Sebuah gelar yang tak melulu dinisbatkan kepada seseorang pada masa lampau. Bagiku beliau tetap kupanggil Pahlawan. Pahlawan ini adalah seorang Guru yang sangat saya kagumi saat saya menginjak bangku SMA. Beliau adalah orang yang tegas, cerdas, berkharisma dan juga religius. Sosok salah satu guru ideal di sekolah saya.

Pertama kali saya melihatnya, saat saya lolos Olimpiade Matematika kelas X. Beliau dengan sabar membimbing kami terlebih saya, dengan kesabarannya akhirnya saya dapat mengerti pelajaran matematika sampai kelas XII dalam waktu satu bulan. Perlahan beliau mengajarkan tahap demi tahap, dari pertanyaan termudah hingga ke bagian tersulit dalam soal. Bagian yang paling saya suka setiap beliau mengajar adalah, kami diajarkan bagaimana rumus itu bermula,, kenapa rumus itu harus digunakan, dan pada bagian apa saja rumus itu boleh digunakan.

Beliau adalah orang yang cerdas, sangat cerdas, sekaligus humble. Saya ingat setiap saya menanyakan soal atau membahas soal, saya ingat dengan jelas, raut wajahnya tersenyum, lalu mengatakan “oh ini……” dan beliau langsung mengajak saya masuk ke dalam ruang guru untuk diberikan solusinya.

Pahlawan ini, tak hanya pandai dalam memberi solusi. Tapi sangat cerdas dalam mempersatukan. Selama dibimbing beliau, saya dipertemukan dengan orang – orang hebat. Orang orang yang hebat tak hanya dalam hal akademik nya, namun dalam sisi yang lainnya.

Beliau juga sangat religius, setiap adzan berkumandang. Beliau akan lebih sering mengganti sepatunya dengan sandal, kemudian berjalan ke Masjid untuk shalat berjamaah. saya sangat menyukai ketika Pahlawan membimbing pendalaman materi sambil menggunakan sendal jepitnya.

4 tahun sudah berlalu rupanya. Dan bagian paling saya sukai dari kisah- kisah pahlawan yang pernah saya baca adalah ; bahwa kematian dari seorang pahlawan tak selalu melulu berakhir di medan pertempuran. Dan ternyata hal itu turut menimpa dirinya. Kanker empedu ternyata telah menarik sebagian dari dirinya. Sebagian dirinya lagi tetap ia tampakkan dalam senyum khas beliau. Setelah sekian bulan akhirnya, Pahlawan drop dan harus menjalani pengobatan di Rumah Sakit. Hari demi hari, Pahlawan mulai tidak merespon pengobatan yang masuk ke dalam tubuhnya. Dari sinilah saya tahu, bahwa waktu sudah semakin dekat, walau sesekali ada harapan yang terbesit agar pahlawan cepat pulih dari penyakitnya.

Waktu semakin melambat, ah tidak perasaan saya saja yang semakin terbawa setiap menitnya. Hingga Jumat, 14 Agustus 2015, tepat saat hari lahirnya PRAMUKA. pukul 03.00 tersebar kabar dirimu telah tiada. terkejut, sedih dan speechless mewarnai pagi ini.

Pagi ini pukul 08.00 saya mengunjungi rumah Pahlawan itu. Seperti selayaknya rumah seorang Pahlawan, rumahnya dihiasi oleh keramaian orang – orang yang pernah ditolongnya. Darisanalah saya tahu bahwa beliau sudah sangat banyak menolong orang lain, tak hanya pemikiran secara teori, tapi juga secara hati.

Perlahan saya masuk kedalam rumah pahlawan, saya melihat Pahlawan sudah terbujur, tertidur. sama seperti beberapa foto yang saya lihat beberapa hari lalu. ada permintaan maaf dan terima kasih yang sangat ingin saya sampaikan sejak dulu. Permintaan maaf karena saya pernah absen ketika mengikuti pendalaman materi untuk lomba matematika di UI, hanya karena organisasi. Saya sangat paham, bahwa saya telah mengecewakan Pahlawan, dan ini sangat terukir jelas di wajah beliau. Saya ingin berterima kasih, karena Allah mempertemukan saya dengan pahlawan, dengan maksud pertemuan yang sangat diluar jangkauan mimpi mimpi saya. Terima kasih Pahlawan, atas segala waktunya, pengorbanannya, semangatnya, teladannya dan segalanya. Semoga ilmu yang telah diberikan, dapat menjadi amal yang memberatkan amalan kebaikan di akhirat kelak.

Allahumagfirlahu warhamhu waafihi wa’fuanhu. Semoga Allah menerima segala amal kebaikan dalam hidup mu Pahlawan..

tulisan ini khusus didekasikan untuk seseorang yang selalu saya ingat sebagai salah satu Pahlawan terbaik dalam hidup saya.

Guru Matematika saya :’)

Bekasi, 14 Agustus 2015

Hari dimana matahari tak mampu meneruskan cahayanya hingga ke Bumi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s