Month: January 2016

Pelarian Cerita

Apa yang paling menyenangkan dari hidup dalam dunia maya? Ketika kamu bisa menyakiti orang lain tanpa kamu harus bertemu dengannya. :’)

Nope, malam ini saya tak akan membahas terkait ini. Malam ini cukup saya bercerita tentang pelarian saya dari banyak kehidupan saya beberapa waktu kemarin.

Bagi saya dunia maya adalah pelarian dari segala keruwetan, kejenuhan dari kehidupan di dunia nyata. Betapa menyenangkannya adalah ketika kamu dapat menulis “wkwkwk” dalam frekuensi yang sangat banyak, namun disaat yang sama pada dunia nyata kamu sedang tertekan dan menangis karena banyak hal

Bagi saya dunia maya adalah pelarian dari segala kelelahan yang dialami di dunia nyata,. Bagaimana tidak, dunia maya menawarkan segala keramahan dan keterbukaan dimana pada saat yang sama kita merasa sendirian di dunia nyata.

Bagi saya dunia maya adalah pelarian dari segala kesesakan yang saya alami di dunia nyata. Bagaimana tidak, dunia maya menawarkan bantuan bantuan solutif disaat dunia nyata sedang “riweuh” dengan berbagai macam kondisi yang kadang tak mampu (atau lebih tepatnya enggan) untuk saya pahami

Tapi

Hidupku di dunia nyata, dunia maya terlalu semu :’)

 

 

 

 

Bekasi, 30/01/2016

00.00

Sendiri

Kamu tahu?

Seringsekali dalam waktu waktu kehidupan saya, saya hanya ingin dibiarkan sendiri
Tak ingin bertemu dengan siapapun
Tak ingin berkomunikasi dengan siapapun
Tak ingin bercerita kepada siapapun

Saya hanya ingin sendiri
Duduk dan kemudian bercerita sendiri
Kemudian sebentar saja
Hanya sebentar
Saya dibiarkan mengeluarkan segala kejenuhan yang ada di otak dan di hati saya
Sampai saya selesai
Sampai saya tertidur hingga lupa

Saya hanya ingin

 

 

Sendiri…

Guru

“Jangan pernah dekati seorang penulis, jika kau tak siap menjadi bagian dari tulisan hidupnya.” (Anonymous, 2016)

2016, yeaaay. tak terasa, fase fase yang ada setiap harinya, setiap pekannya, setiap bulannya, setiap tahunnya, semakin membimbing kita pada kedewasaan yang semakin baik. Pun jika kedewasaan kita tetap saja seperti hari – hari kemarin, semoga Tuhan memberikan hidayahNya agar kita diberikan keberkahan dalam setiap fase kehidupan yang telah dilewati.

Tulisan ini khusus sebagai dedikasi terima kasih saya kepada seluruh orang yang telah  mewarnai perjalanan di tahun 2015 :’)

Bagi saya, kalian adalah Guru. Guru Kehidupan. Karena dari kalian, saya banyak sekali memetik hikmah dari setiap perjalanan. Bahkan saya berhasil melewati fase – fase yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Kalianlah yang membuat saya akhirnya “gatal” untuk menyimpan setiap detail perjalanan tentang kalian, agar apa yang telah kalian berikan dapat memberikan kebaikan diluar lingkaran kehidupan saya, bahkan diluar batas ekpektasi saya.

Saya bukan seorang penulis. Saya hanya seorang penikmat perjalanan yang ingin menyimpan seluruh fase kehidupan saya dalam bentuk tulisan yang kelak, entah kapan, deretan kata kata ini akan dibaca oleh orang-orang dimasa selanjutnya. Dan saya berharap selalu ada guru dalam setiap tulisan saya. Baik dari yang sangat menyenangkan hingga ke yang paling menyedihkan, kalian adalah guru saya.

Dulu, ada seseorang yang sangat saya kagumi pernah menulis dalam bukunya “Kata-kata kita hanyalah makhluk tak bernyawa, namun jika kita mati karenanya, maka pada saat itu ia telah hidup.” Ingatkah siapa yang pernah menuliskan ucapan ini? Yap benar. Salah satu guru besar  yang sangat saya kagumi. Beliau adalah Sayyid Quthb, yang kemudian karena tulisan tulisannya, ia akhirnya menjemput kematiannya dengan seni yang paling indah;Syahid (In Syaa Allah) di tiang gantungan. Semoga Allah memberikan ganti dengan Jannah yang sangat tinggi.aamiin

Terima kasih kepada Ibu Senja, Langit, Daun, Mentari, LDK Syahid, Al Qolam, Puskomda, Dakwah Sekolah, Bandung, Pramuka, OSIS, Kesling UIN 2011, Kesmas UIN 2011, Raklac 2011, Komda FKIK, FIM, dan semuaaanyaa yang tak saya sempat sebutkan saking banyaknya. Kalian adalah guru terbaik bagi saya, jangan lelah untuk terus menjadi guru bagi saya ya :’)

Semoga Allah terus mempertemukan saya dengan guru guru hebat lainnya, yang kemudian dengannya saya semakin terus belajar, yang dengannya saya semakin dapat tumbuh dan berkembang, yang dengannya saya semakin kuat dalam melewati perjalanan. Dan Semoga Allah memberikan kebaikan dalam setiap aktifitas kalian. :’

Mencintai kalian karena Allah 🙂

SAM_9010

Ciputat,  08 Januari 2016

Di sebuah tempat baca terbaik

Di saat saat dimana Allah sedang mentarbiyah saya untuk melewati setiap fase dengan syukur

Langit :)

Kalau antum mau tahu kebaikan yang ada di orang lain, coba tanyakan ke temannya. Karena orang orang baik takkan pernah memamerkan kebaikannya sendiri. (HPY, 2015)

Bismillah

Kuceritakan kepadamu kisah tentang persahabatan seseorang, seorang perempuan yang sangat super dan keren sangat dengan seorang perempuan biasa saja. Sebut saja perempuan super dan keren ini adalah Langit, dan perempuan biasa itu adalah Daun.

Langit lahir pada tanggal, bulan , tahun yang sama dengan Daun. Bedanya hanya pada waktu kelahiran, ia lahir lebih dulu dari pada Daun. Pertemuan awal mereka disalah satu agenda penyambutan Mahasiswa yang diselenggarakan oleh salah satu UKM di Universitas.

Pertemuan kedua mereka adalah di Masjid Fathullah di pertengahan bulan September 2011. Saat itu Langit sedang asyik dengan buku catatan fisika nya, dan Daun sedang mondar mandir tak karuan di depannya. Setelah berbasa basi sebentar, pembicaraan mereka mengarah kepada hal-hal yang lebih serius;tentang mimpi. Tentang target untuk mengubah dakwah kampus 2 tahun kedepan.

Bulan demi bulan, tahun demi tahun terus berlalu. Langit diamanahkan dalam posisi strategis di dakwah sekolah. Tapi langit tak hanya didakwah sekolah, ia pun turut memagang amanah yang tak kalah strategis di kampus. Mereka bekerja sama selama 2 tahun lamanya.

Ada beberapa hal yang sangat menarik perhatian Daun. Selama bekerjasama dengan Langit, Langit adalah orang yang hampir sama sekali tak pernah mengeluh. Ia sama sekali tidak mengeluh terhadap seluruh amanah yang telah diberikan kepadanya. Pernah suatu kali, Daun melihatnya terdiam; sehabis menangis dalam fikirnya. Lalu pembicaraan seperti biasanya mengalir, ternyata masalah akademik.

“Bagaimana kalau kamu mengajukan mundur ngit? Akademik kamu harus diperjuangin dulu.”

” (sambil tersenyum) enggak bisa Daun. toh kalau aku mundur, belum tentu aku bisa bagus juga nilainya.”

“……………………………………………………………”

Lalu pernah disatu ketika, kamu dihadapkan dengan ujian keluarga, seperti biasanya respon Daun

“Ngit, jangan dipaksain, ada beberapa hari kewajiban kamu di rumah buat nemenin mamah, aa, papah.”

“(tersenyum)”

dan besoknya? Langit sudah melalang buana lagi dengan beberapa agenda syuro di beberapa tempat.

Tak sering, Daun melihat beliau menangis, menunjukkan bagian dari kemanusiaannya. Tapi setelah itu, seperti tak ada apa apa.

Bertanya masalah binaan? Beliau adalah orang yang sangat aktif membina, duh, jika dibandingkan dengan Daun, beliau sangaaat jauh. Daun adalah Bumi, dan dia adalah Langit. Sosok ideal dari seorang murabbiyah, dari seorang sahabat, dari seorang guru.

Bertanya masalah kegiatan di rumah? duh, sangat sempurna, Langit memiliki agenda rutin yang sangat tertata rapih saat dia di rumah. Produktif.

Daun selalu suka saat membersamai Langit, karena dia berbicara tentang mimpi yang nyata, tentang mimpi besar untuk membangun peradaban, membuat perubahan, dan selalu ada kilatan optimis dalam setiap tutur katanya.

Daun dan Langit memiliki kesamaan dalam menerima masalah, biasanya ketika Langit memiliki suatu masalah maka pada esok atau beberapa hari kedepannya Daun memiliki masalah yang sama. Pun sebaliknya. Hingga tak jarang, ketika mereka saling berkomunikasi, Langit dan Daun saling berbagi tangis dan kemudian saling menertawakan kondisi yang ada pada mereka.

Ah aku sangat iri dengan persaudaraan mereka.  Bertengkar?? sering. Biasanya Daun lah yang kemudian menghindar dari Langit, tapi Langit tetap sabar menunggu hingga Daun kembali baik.

 

Semoga persaudaraan mereka kekal, hingga ke JannahNya.

 

 

 

 

SAM_5020

 

Aku selalu suka saat menatap langit
Aku menatap rindu
Aku menatap mimpi
Aku seperti menatap kamu

-Bekasi, 2015-

*Tulisan ini didekasikan khusus untuk Langit, untuk Daun.*

 

Kita

Kita hanya sedang berlapang sambil menggenggam erat doa yang ada dalam genggaman jemari kita, sambil menutup mata dan berharap semua keadaan akan (dapat) baik baik saja.

Kita hanya sedang berbaik sangka pada segala ketetapan yang telah Tuhan gariskan untuk kita, tanpa pernah kita tahu ada keajaiban apa yang hendak menyapa

Kita hanya sedang bermain dalam panggung pertunjukkan kehidupan, dimana kita adalah aktor utama, dan Tuhan adalah sutradara nya.

Kita hanya sedang berikhtiar; berusaha dalam langkah kita sambil berharap harap cemas menunggu kejadian apa yang akan terjadi selanjutnya

Kita hanya saling duduk dalam sendiri, mengevaluasi segala tindak dan kelalaian kita. Setelah nya sambil tertunduk kita menyadari satu hal; Evaluasi NIAT kita.

Kita saling menggenggam senja, menatap langit, menduduki tanah. Ya, Kita sedang saling menunduk, agar hati tak meninggi ke langit, agar pandangan tak terangkat ke langit, agar semuanya jadi satu; penduduk bumi

Dan kita, adalah manusia dengan segala nikmat yang Tuhan berikan, namun masih mengeluh tak ada habisnya.

 

“Maka, Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

-Qs. Ar Rahmaan-

 

Bekasi,

3/01/2016

di sebuah ruangan.