Month: February 2016

Perjalanan

“Kadang kamu harus pergi berjalan sendiri tanpa tahu arah untuk sekedar memastikan, bahwa hati kamu masih bisa dipercaya suaranya.”

-Anonymous, 2016-

Bulan ini, entah karena alasan apa, saya memiliki target untuk bisa menemukan jalan lain saat ke kampus, saat berangkat dan saat pulang. Dan alhamdulillah saya bisa menemukan beberapa jalur berangkat dan beberapa jalur pulang.

Perjalanan saya setiap berangkat selalui diawali dengan nyasar dan diakhiri dengan nyasar. Setiap saya bilang ke teman saya kalau saya berangkat 1 jam lebih cepat dari jadwal seharusnya, mereka hanya berkata “lagi kenapa sih ken?” dan saya hanya menjawab “ahahaha”

Entah, tapi saya sedang berusaha untuk mempercayai apa yang hendak hati saya sampaikan. Arah, kecepatan atau bahkan sekedar feeling tentang cuaca. Perjalanan saya selalu sampai entah dimana, tetiba ke harmoni, ke sudirman, bundaran HI, karet, semanggi, blok M, petukangan, Ciledug dan sebagainya. Dan saya sangat menyukai ketika saya harus tersasar, karena saya bisa melihat banyak tempat yang biasanya tak bisa saya lihat ketika malam.

Perjalanan mengajarkan saya juga tentang keberanian. Keberanian untuk mengambil keputusan dengan berbagai risiko yang mungkin belum saya pikirkan seberapa beratnya. Kemungkinan tersasar lebih jauh, ditilang polisi, nabrak, dorong motor sendirian, kelelahan, tapi setidaknya saya banyak belajar. 🙂

Dan seperti biasa ketika orang-orang hanya berkata “Kamu enggak capek apa ken, nyasar, pulang telat, kamu perempuan lho.” respon saya “ahhaha. tapi aku suka.”

Bekasi, 19-02-2016

12.40 Waktu Indonesia di luar planet

Hujan

Aku ingin jatuh sebagai hujan, yang jatuhnya membersihkan polusi di lingkungan

-Anonymous, 2016-

Betapa jatuh cintanya saya pada hujan

Membuat saya selalu membiarkan diri saya untuk berada di bawahnya

Membuat saya bermain lama dengan hawa dinginnya

Membuat saya melupakan kalau setiap kisah menyakitkan pernah ada di hidup saya

Hujan

Tak lupa mengajarkan saya tentang kehilangan

Hingga saya sadar,

Ketika waktu cerah

Saya hanya tinggal sendiri menanti pelangi di awan

Hujan juga

Pernah mengingatkan saya pada beberapa perjalanan hidup saya

Tentang kebahagiaan, kasih sayang

dan di sisi yang sama tentang kesedihan dan kemarahan

Tapi..

Hujan selalu mengajarkan saya tentang satu hal

Kalau, kau harus menjatuhkan diri untuk menyelamatkan kehidupan seseorang

Lalu, kau melupakan bahwa kau telah mengorbankan banyak hal untuk melakukan segalanya

Kemudian yang kau terima adalah sebuah kehampaan, sebuah cacian

dan kau harus menerima konsekuensi kejatuhan yang ada sebagai sebuah kepantasan,

tanpa pernah kita tahu

tanpa pernah kita paham “kenapa?”

Hujan,

 Terima kasih karena telah hadir,

Sekalipun engkau disalahkan atas basahnya kain yang menggantung di jemuran

Atau karena engkaulah ‘tersangka’ penyebab kebanjiran di tanah manusia

Tapi aku bersyukur karena kamu ada..

Bekasi, 17/02/2016

00.10 WIB

Menanti hujan dengan segala sabar

#Random #Error #Abaikan

Fleksibel dalam Memilih

Hidup kita tak pernah berbicara tentang kesempurnaaan, Hidup adalah tentang penerimaan, dan bagaimana dengan kekurangan yang ada kita memaksimalkan potensi yang masih bisa dimaksimalkan

-Anonymous, 2016-

Bismillah

Tulisan ini sebenarnya dibuat saat saya sedang “main” di sekolah tadi.

x : “Gue harus bisa masuk XXX”

y : ” Gue udah istikharah kemaren, terus gue dapet mimpi, gue masuk kesana. Kedinasan XXXX.”

x: ” Terus gimana jadinya lo?”

y : “Ya gue yakin sejak gue dapet mimpi itu gue bakalan bisa masuk situ.”

x : “gimana sih caranya shalat istikharah?”

y : ” Ya elo minta sama Allah, ‘Yaa Allah saya mau masuk kesini.’ gue gitu doanya, terus gue dapet mimpi.”

x : “Oh gitu.”

z : “X, Y udah shalat belum lu? ngomongin kuliahan mulu.”

Percakapan ini saya ambil ketika saya baru selesai shalat ashar di sekolah. Saat itu saya masih menunggu dedek dedek saya yang baru selesai pulang sekolah. Sambil menunggu, saya merenungi kembali jejak jejak kehidupan yang pernah saya lalui sebelumnya.

Sempurna.

Saat ini saya mendefinisikan sempurna adalah “sesuatu yang saya harapkan/inginkan.”

Siapa sih yang enggak mau mendapatkan sesuatu yang sempurna? Keluarga misalnya, dilahirkan dari keluarga yang sempurna? Sekolah di sekolah ternama? Kampus ternama? kemudian melanjutkan kuliah setinggi tingginya? mendapatkan pangeran yang sesuai dengan yang kita harapkan? melalui kehidupan sesuai dengan persepsi yang di andaikan? mempunyai teman yang sempurna? mempunyai saudara yang sempurna? atau bahkan meninggal dengan cara yang sempurna (gimana dah tuh. wkwk)

sayang, selama ini kita menilai kesempurnaan itu dengan sesuatu yang dapat diukur oleh kapasitas diri kita. sungguh sangat disayangkan.

Karena, kita bisa salah dalam mengukur kesempurnaan dalam segala sesuatu hal tapi Tuhan tidak.

Bisa jadi keluarga yang ada saat ini adalah keluarga yang sempurna yang diberikan Tuhan untuk memperbaiki diri kita. Menjadi sarana bagi kita untuk belajar, dan belajar setiap harinya.

Bisa jadi Tuhan mendidik kita untuk masuk ke sekolah biasa agar kita belajar, agar diri berkembang.

Ketika memilih sekolah, saya tidak pernah diberikan kebebasan memilih. wkwkwk, bahkan ketika kuliah, ketika sudah diterima di kampus lain, saya berubah pikiran hanya dengan satu “sms” dan penjelasan seseorang melalui telfon.

Selama SMA, saat saya selalu istikharah untuk meminta kemantapan hati dari Allah, hampir setiap tidur saya selalu memimpikan kampus XXX yang saya incar lah yang akan menjadi milik saya. Qadarullah, justru UIN, yang tak pernah terlintas dalam fikiran saya (yang akhirnya saya ikut test karena permintaan 3 orang. wkwkw) menjadi tempat dimana saya menimba ilmu setelah SMA.

Dulu, saat saya masuk ke universitas, masih ada perasaan perasaan “keterkejutan” dengan kondisi yang ada, saya pernah bilang ke “guru” saya “Bu, apa baiknya aku cari tempat kuliah lain aja ya?” dan beliau dengan bahasanya yang ceria berkata “Udeh, ga usah pindah pindah, pan enak deket sama sekolah sama sekolah sama kampus, bisa kemana mana. Siapa tau, nih ya, siapa tau, Allah nempatin kamu disana karena ada alasan yang memang belum bisa niken pahamin untuk sekarang.” Dan tadaa, alhamdulillah, setelah beberapa tahun lamanya, akhirnya saya paham (mungkin) kenapa Allah menempatkan saya disini.

Terkait sahabat, saya ingat perkataan salah seorang pemain stand up comedy “Raditya Dika”. Beliau bilang “Tipe manusia itu ada tiga jenis, yang pertama cantik/ganteng, yang kedua cerdas, yang ketiga waras. Sayangnya, biasanya elu ketemu sama orang yang punya 2 tipe aja.

Jadi setiap berkenalan dengan seseorang, bagi saya yang penting adalah dia cerdas dan waras. tapi qadarullah, saya dipertemukan dengan orang orang yang cantik/ganteng dan cerdas, tapi kelakuannya….. (wkwkwkwk) (bercanda bercanda, tapi serius)

Jadi akhirnya saya berfikir, kenapa saya dipertemukan dengan sahabat sahabat seperti itu, karena mungkin saya tak punya ketiganya. Dan dari ketiganya lah saya belajar.

Terkait pasangan kita skip lah ya, bukan dalam kapasitas saya bahas ini euy. tapi bagi saya yang akan saya lihat pertama kali ketika melihat “Seseorang” adalah agamanya (ngaji, shalat, tilawah, dan amanah). Baru deh liat yang lain. #eh

Belajar sempurna itu, bukan berarti kita harus mencari segala sesuatu hal yang kita idam idamkan untuk kita. Bisa jadi Kampus, sekolah, lingkungan, dan hal lainnya. Tapi kita juga harus fleksibel dalam memilih apa yang kita sebut dengan sempurna. Karena bisa jadi, saat kita menuntut sesuatu hal yang sempurna, kita takkan pernah bisa menyaingi atau menyamai hal-hal yang sudah lama kita idamkan itu.

Semua hal yang ada di dunia ini, tak ada yang sempurna. Kecuali Tuhan. Maka fleksibel saja dalam memilih. Hidup ini penuh dengan pilihan, Pilihan yang suka atau tidak suka akanmenjadi penentu untuk kehidupan kita selanjutnya. Tak pernah ada jaminan bahwa sesuatu yang sempurna pasti baik untuk kita, pun tak ada jaminan bahwa segala sesuatu yang tidak sempurna tidak baik untuk kita.

Finally, tadi sebenarnya ada sesuatu hal yang sangat ingin saya sampaikan ke dedek dedek shalihah tadi. Kalimat yang pernah saya sampaikan ke dedek dedek shalihah sebelum mereka meninggalkan sekolah tahun lalu, “Bisa jadi Allah memberikan jawaban dari shalat istikharah kita tidak dengan mimpi, tidak dengan pertanda, tapi kemantapan hati. Jadi enaknya teh, kalau doa mah di netralin dulu, siapa tau kampus XXXX yang kita idam idamkan sepenuh jiwa raga tak pernah jadi milik kita. Bukan tak pernah jadi milik sih, tapi Allah melihat kita mempunyai potensi lebih dibanding sekedar masuk kampus itu. Jadi tetaplah husnudzan dengan semua ketetapan Allah. Walaupun, akal sehat kita kadang masih bertanya ‘kenapa?’, kita akan tau jawabannya kok, tapi ada waktunya. Jadi fokus aja dulu ke sekolah dan persiapan testnya.

Kalau nanti, disuruh papah mamah milih, pilih yang paling sedikit keburukannya, pilihlah dimana kita bisa beradaptasi dengan baik dalam kekurangan yang ada, karena bisa jadi Tuhan sedang membentuk kita, membina kita dengan sebaik baik cara yang tidak pernah kita duga.”

Maka bersabarlah dengan kesabaran yang baik.”-QS. Al Ma’arij :5- 

Dan saat kamu bersyukur dengan apa yang telah Allah berikan dalam kehidupan kita, kamu akan sadar, kalau inilah hidup kita yang sempurna. :’) 🙂

Bekasi, 12- 02 – 2016

Belajar dari Saitama

Bismillah

Belajar dari Saitama? Siapa itu Saitama? kenapa bukan belajar dari Udin? Dodo? Dino? atau siapa?

wait..wait.. Kenapa harus Saitama? Karena Saitama adalah tokoh utama di film One Punch Man yang baru saja saya selesai tonton 12 episodenya. Sebuah film anime yang cukup menarik, atas rekomendasi dari salah seorang teman saya. Mungkin kalau namanya Udin, Dodo, atau Dino, judulnya akan mengikuti nama mungkin ya. hehe

Setelah 12 episode menonton film One Punch Man, sebuah film anime action saya mempelajari beberapa hal pokok yang saya dapatkan dari Saitama (mengesampingkan beberapa adegan yang menurut teman saya terlalu terbuka (dan menurut saya dewasa -_-“) )

  1. Niat yang kuat. Apa sih yang bikin Saitama akhirnya punya kekuatan yang super duper keren? Niat awalnya dia jadi hero hanya gara gara sehabis dia menolong anak kecil yang hampir dibunuh sama monster. Setelah itu ia memiliki niat untuk menjadi hero.
  2. Membuat list kegiatan dan kemudian menjalankannya.  Dalam sebuah episode, beliau ditanya oleh musuhnya “Apa yang membuat kamu menjadi sehebat ini Saitama?” jawabannya simpel “Setiap hari selama 3 tahun aku push up 100x, sit up 100x dan …(apaa gitu) 100x ditambah dengan lari 10 km.”  apakah yang lain percaya dengan jawabannya? tidak. hatta, “murid” nya pun tidak percaya. Kemudian ia melanjutkan “Di fase fase awal kamu akan merasa seperti ingin mati dengan jadwal yang ada (mulai lari jam 06.00 – sore),tapi lama kelamaan kamu akan tahu bahwa latihan ini diluar normal, dan kamu akan kehilangan rambut, seperti yang aku alami sekarang.” tuh kan, konsistensi untuk mencapai sesuatu memang harus banget dilakukan, walaupun lelah, hingga rasanya ingin meninggalkan.
  3. Strata (Kelas) itu enggak penting, yang penting kontribusi. Coba deh nonton sampai episode 12 nya, dia itu siapa sih? cuma dianggep anak kelas C awalnya yang kemudian naik ke kelas B. Muka datar, seenaknya aja sikapnya. Tapi lihat kontribusinya? waaw banget, ngelakuin semuanya dalam sekali tinju (kecuali episode 12 ya)
  4. Siap banget untuk enggak dikenal. Sedih banget enggak sih, kalau kamu melakukan banyak hal tapi malah di bully dan dituduh cheat sama lingkungan sekitar. Sedih banget pastinya, dan itulah yang dirasakan sama Saitama. Setiap dia ngelawan musuh, bukannya disambut bak hero malah dimaki-maki. Tapi ada yang saya suka dalam pemikirannya, beliau memilih untuk menjadikan dirinya buruk sesuai anggapan lingkungan dan tak pernah peduli apakah habis menyelesaikan kasus ini saya akan terkenal atau tidak (walaupun ada dalam salah satu episode dia ngarepin ada kotak surat fans buat dia. hehe)
  5. To the Point. Nah ini sifatnya yang kece banget lah. dari awal dia enggak suka banget namanya cerita panjang dan alur yang bertele tele. Jadi dia selalu memint untuk musuhnya menyampaikan dalam jumlah kurang dari 20 kata.

Nah itu lah yang saya pelajari dari film ini. Lucu banget laah, tapi karena saya nonton dalam subtle english mungkin jadinya biasa aja lah ya, hehe (lucunya normal aja enggak pakai banget). nanti kalau ada versi indonesia nya mungkin saya tertarik untuk menonton lagi.

 

 

 

 

Bekasi, 10-02-2016

09.21 AM

Menulis

Setiap orang punya caranya masing-masing untuk menyembuhkan duka. Dan saya memilih untuk menulis.

Nazrul Anwar, 2016

“Kenapa kamu menulis?”

“Karena apa ya, hmm. oiya, kalau nanti aku meninggal lebih dulu, entah di usia muda atau tua, setidaknya ada orang lain yang tahu, kalau aku (si penulis) pernah hidup.”

ahahah, absurd banget ya jawabannya. emang.

Menulis bagi saya adalah salah satu aktifitas terluar biasa yang sangat saya sukai semenjak memasuki dunia perkuliahan. Saat SMA sempat menulis banyak di situs multip*y, tapi karena sekarang sudah berubah fokus, alhasil saya pindah ke dunia blogspot dengan segala keriweuhannya (maklum, blogspot menurut saya lebih ribet euy), setelah itu baru berpindah dan masih menetap di wordpress.

Bagi saya menulis, adalah menumpahkan sisi lain dari diri saya yang tak pernah saya ingin tunjukkan kepada banyak orang lain di dunia nyata. Kalau teman teman saya bilang “Tingkat ke-melankolis-an elu sebenernya tinggi ken, tapi di blog doang, kalau di dunia nyata kelakukannya begini amat.”

“wkwkwkwk”

Iya kah? ah biarlah, tapi memang bagi saya menulis adalah menyampaikan sesuatu yang tak bisa saya sampaikan kepada yang lain melalui kata-kata.

Bagi saya menulis adalah cara saya untuk berkomunikasi dengan diri saya sendiri. Karena saya terkadang harus memenuhi hak atas diri, untuk menetralisir diri.

dan menulis, adalah salah satu cara untuk saya memahami diri……………………

Bekasi, 08-02-2016

Langit part 2

Kalau kamu butuh apa apa, butuh sesuatu yang sekiranya aku bisa bantu, ngomong aja. Kalau kamu butuh ditemenin saat kamu lagi kayak gini, kasih tau aku juga, aku bakalan ngeluangin waktu aku buat kamu, jangan sungkan. Kalau kamu butuh tempat berlabuh saat kamu hendak menghilang, kamu pergi ke rumah aku.

-Langit, 2016-

 

Bismillah

tak ada yang lebih membahagiakan dan disyukuri daripada bertemu dengan si Langit. Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya tentang Langit, dia adalah saudari yang bisa bangeet bangeet jadi tempat saya untuk menumpahkan semuanya.

Termasuk hari ini dan sebelum-sebelumnya.

 

Seperti biasanya dia akan menyapa “Assalamu’alaykum Niken.”

“Wa’alaikumussalam Ngit. Kenapa?”

“Nyapa aja.”

dan langsung lah setelah itu biasanya saya akan menelfonnya sampai beberapa jam, hanya untuk… menangis (baper banget gue)

setelah itu seperti biasanya, dia akan diam mendengarkan. Dan setiap bercerita ke beliau, saya selalu dianggap perempuan (halaah)

Bagi saya menangis itu hal yang masih agak tabu. Karena selama ini saya lebih banyak menggunaan logika saya, tapi ketika alur logika saya tak dapat lagi digunakan, saya akan menggunakan perasaan total. Menangis, tertidur, kemudian menangis lagi, atau menghilang dalam “gua” yang saya bentuk sendiri.

dan mungkin jadi alasan yang cukup kuat kenapa banyak orang memperlakukan saya tidak sebagai perempuan. wkwkwk

oke back to Langit

Biasanya langit akan mendengarkan, kemudian menanggapi sedikit lalu berusaha mengarahkan pembicaraan yang lain. Kalau kembali ke hal yang sama, dia selalu bilang, “Ken, jangan keluar. Kamu cukup dirumah aja dulu. Jangan kemana-mana.”

Langit, selalu minta maaf jika ia tidak dapat memberikan solusi atas segala cerita cengeng saya yang saya sampaikan, tapi saya merasa saat ia mendengar dan kemudian mendoakan adalah sesuatu yang kemudian membuat saya menemukan solusinya. Kalimat terakhir beliau setiap menguatkan adalah “Apapun keputusan yang kamu ambil aku dukung.” :’)

Tadi beliau sempat bertanya;

“Ken, pas disekolah sampai akhirnya perjalanan pulang, dan kamu nangis kayak gini, kamu inget aku ga?”

“Aku inget ngit, tapi aku takut kamu sibuk. Jadi aku enggak hubungi siapapun.”

“Aku juga ken, aku inget kamu dari kemarin, tapi kamu pasti lagi sibuk, soalnya kamu enggak muncul rame di grup.”

“enggak ngit, aku lagi memutuskan untuk enggak banyak berhadapan dengan orang lain di dunia maya. Kita sehati banget ya.”

“Iya ya, padahal dulunya kita orang lain, yang sama sekali enggak kenal.”

“Apa karena… tanggal lahir kita sama?hehe”

“Ye kagak lah. Doa (robithoh) kita kuat ya.”

“….. :’ ”

 

Sering banget rasanya terharu sama ini anak, saya tahu lah kesibukannya yang super duper tinggi cem lebih lebih dari presiden, tapi masih bersedia menyempatkan waktunya untuk sekedar say “Hai”

 

“Ngit, aku mau nulis kamu lagi maleem ini.” begitu sahutku

“Jangan ken, jangan sering sering nulis tentang aku.”

“Kenapa? aku baru sekali nulis tentang kamu dah perasaan . -_-”

“Soalnya aku enggak bisa nulis balik tentang kamu.”

“……..”

Sebelum percakapan tadi ditutup, ia menyampaikan sesuatu

“Kalau kamu butuh apa apa, butuh sesuatu yang sekiranya aku bisa bantu, ngomong aja. Kalau kamu butuh ditemenin saat kamu lagi kayak gini, kasih tau aku juga, aku bakalan ngeluangin waktu aku buat kamu, jangan sungkan. Kalau kamu butuh tempat berlabuh saat kamu hendak menghilang, kamu pergi ke rumah aku.”

“Aku butuh kado ngit.”

“wah mau dikadoin apa?”

“Aku butuh doa ngit.”

“In syaa Allah, enggak kamu bilang kado juga aku doain buat kamu. Apapun keputusan kamu, aku dukung.”

“Doakan semoga permasalahan yang ada bisa segera selesai.”

dan percakapan kita ditutup dengan salam.

 

Kamu adalah seseorang yang meyakini saya, kalau saya tak pernah sekuat dan seteguh yang mereka fikirkan :’

Dan aku suka…

 

 

Semoga Allah kekalkan persaudaraan kita hingga ke JannahNya.. In syaa Allah

 

Dedicated to Langit :3

Mencintai Langit karena Allah

 

 

Bekasi, 08-02-2016

“tak ada sahabat yang lebih membahagiakan, kecuali sahabat yang selalu mengingatkan sahabat nya untuk selalu kembali ke Allah.”

 

 

 

 

 

Tenang

Kita mungkin tidak dapat menyelesaikan seluruh masalah kita secara tuntas. Tapi setidaknya, kita pernah berusaha. Berusaha semampu yang kita bisa. Dan setelahnya? biarkan takdir takdir Tuhan yang kemudian menunjukkan yang terbaik untuk kita. Karena kita bisa jadi salah dalam usaha kita, tapi Tuhan tidak pernah salah.

Anonymous

Bismillah

 

Pernahkah dalam sebuah masa, ketika kamu sedang dalam keraguan, segala amalan wajib dan sunnah masih belum bisa menyelesaikan apa yang sebenarnya membebani fikiran mu itu?

Ketika akhirnya segala “hal” yang biasanya kamu lakukan dalam keadaan jernih, kemudian menjadi berat sangat berat seperti ada gumpalan di bagian saraf otak yang akhirnya membuat perpindahan jaringan listrik antara neufron gagal untuk dilakukan.

saya pernah..

Entah apa rasanya, pikiran saya berkecamuk beberapa saat kemarin. ketika saya menyelesaikannya dalam tidur panjang untuk menyesuaikan kembali akal pikiran saya (agar kembali normal). cukup lama, hingga beberapa hari, dan kemudian setelah mengumpulkan nyawa karena kebanyakan tidur keberanian, saya mencoba untuk menghadapi masalah saya.

Entah, apa yang membuat keberanian itu ada..

Deg deg an, jelas.

Ketakutan jelas

Saat itu dalam fikiran saya adalah “saya tidak peduli apapun yang akan terjadi kedepan, karena setidaknya saya berusaha untuk mencoba.”

 

Tak beberapa lama setelah mengumpulkan keberanian dan melakukan sesuatu yang menurut saya tepat, akhirnya saya tertidur. Dan itu adalah tidur dengan kualitas terbaik yang saya dapatkan selama hampir 2 bulan ini. Walaupun secara kuantitas hanya 2 jam. Alhamdulillah~

Dan setelah itu, entah kenapa, hati dan fikiran saya tenang. Seperti batu ganjalan yang menyumbat bagian katup di jantung saya hilang. tumor saya sembuh (begitu batin saya).

Saya mulai menikmati hari selayaknya saya sedang tak ada masalah.

Dan ketika ada yang bertanya, “semuanya sudah saya serahkan ke Allah, ikhtiar saya (secara duniawi) telah selesai.”

 

Menyelesaikan masalah memang kadang tak bisa dipahami oleh akal sehat kita. tapi setidaknya, saya memilih untuk membiarkan hak-hak yang ada di diri saya  terpenuhi sebagaimana seharusnya

 

Bekasi, 07/02/2016

Ketika saya tak lagi peduli dengan apapun yang nantinya terjadi dalam kehidupan saya selanjutnya.

 

Hati dan Ketetapan

“Semoga segala keputusan yang nantinya terbuat. Semuanya berasal dari Allah.”

Bismillah,

Ketika sedang menulis ini, saya sedang bertanya tanya dalam diri saya, apakah selama ini segala keputusan yang kita buat dalam kehidupan kita, telah diniatkan karena Allah?

Saya kiranya tak pernah tahu mengenai jalan Allah yang telah digariskan untuk saya. Segala kebaikan, kemudahan, adalah salah satu bentuk pertolongan dari Allah.

Pun demikian halnya dengan kesulitan, kejadian kejadian besar dari Allah lewat kekuasaan alam Nya adalah salah satu bentuk pertolongan dari Allah. Agar hati selalu hidup, agar hidup tak selalu menjauh dari Allah.

Lalu

Hei apa kabar denganmu hati?

Kenapa kamu masih tak memahami setiap petunjuk yang ada?

Sedang sakitkah? Atau sudah matikah?

Hai diri

Seberapa sering kamu menjauh dari Allah?

Hingga hatimu tak bisa memberikan respon respon ke dalam akal, hingga akal terlalu dibuat bingung dengan keadaan yang ada

Hai Akal

Ada apa dengan dirimu, kenapa kamu dan hati bisa saling menjauh dan tak merespon stimulus satu sama lain

 

Hei kamu yang sedang menulis ini,

Takkah kamu menyadari, kita sedang belajar mengeja dengan ketetapan Allah yang telah Dia sediakan untuk kita.

 

Tapi kenapa kamu tak ada pendirian seperti ini?

Kurang mendekatkah dengan pemilik sebaik baik keputusan?

Semoga, diri ini diselamatkan Allah dari segala sesuatu yang tidak baik

“saya tak pernah tahu apakah ini nikmat atau musibah. Yang jelas, saya berpasrah diri kepada Allah.”-sirah shahabiyah.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bekasi, 02-02-2016

Dan apapun yang terjadi, semoga Allah ridho 🙂