Langit part 2

Kalau kamu butuh apa apa, butuh sesuatu yang sekiranya aku bisa bantu, ngomong aja. Kalau kamu butuh ditemenin saat kamu lagi kayak gini, kasih tau aku juga, aku bakalan ngeluangin waktu aku buat kamu, jangan sungkan. Kalau kamu butuh tempat berlabuh saat kamu hendak menghilang, kamu pergi ke rumah aku.

-Langit, 2016-

 

Bismillah

tak ada yang lebih membahagiakan dan disyukuri daripada bertemu dengan si Langit. Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya tentang Langit, dia adalah saudari yang bisa bangeet bangeet jadi tempat saya untuk menumpahkan semuanya.

Termasuk hari ini dan sebelum-sebelumnya.

 

Seperti biasanya dia akan menyapa “Assalamu’alaykum Niken.”

“Wa’alaikumussalam Ngit. Kenapa?”

“Nyapa aja.”

dan langsung lah setelah itu biasanya saya akan menelfonnya sampai beberapa jam, hanya untuk… menangis (baper banget gue)

setelah itu seperti biasanya, dia akan diam mendengarkan. Dan setiap bercerita ke beliau, saya selalu dianggap perempuan (halaah)

Bagi saya menangis itu hal yang masih agak tabu. Karena selama ini saya lebih banyak menggunaan logika saya, tapi ketika alur logika saya tak dapat lagi digunakan, saya akan menggunakan perasaan total. Menangis, tertidur, kemudian menangis lagi, atau menghilang dalam “gua” yang saya bentuk sendiri.

dan mungkin jadi alasan yang cukup kuat kenapa banyak orang memperlakukan saya tidak sebagai perempuan. wkwkwk

oke back to Langit

Biasanya langit akan mendengarkan, kemudian menanggapi sedikit lalu berusaha mengarahkan pembicaraan yang lain. Kalau kembali ke hal yang sama, dia selalu bilang, “Ken, jangan keluar. Kamu cukup dirumah aja dulu. Jangan kemana-mana.”

Langit, selalu minta maaf jika ia tidak dapat memberikan solusi atas segala cerita cengeng saya yang saya sampaikan, tapi saya merasa saat ia mendengar dan kemudian mendoakan adalah sesuatu yang kemudian membuat saya menemukan solusinya. Kalimat terakhir beliau setiap menguatkan adalah “Apapun keputusan yang kamu ambil aku dukung.” :’)

Tadi beliau sempat bertanya;

“Ken, pas disekolah sampai akhirnya perjalanan pulang, dan kamu nangis kayak gini, kamu inget aku ga?”

“Aku inget ngit, tapi aku takut kamu sibuk. Jadi aku enggak hubungi siapapun.”

“Aku juga ken, aku inget kamu dari kemarin, tapi kamu pasti lagi sibuk, soalnya kamu enggak muncul rame di grup.”

“enggak ngit, aku lagi memutuskan untuk enggak banyak berhadapan dengan orang lain di dunia maya. Kita sehati banget ya.”

“Iya ya, padahal dulunya kita orang lain, yang sama sekali enggak kenal.”

“Apa karena… tanggal lahir kita sama?hehe”

“Ye kagak lah. Doa (robithoh) kita kuat ya.”

“….. :’ ”

 

Sering banget rasanya terharu sama ini anak, saya tahu lah kesibukannya yang super duper tinggi cem lebih lebih dari presiden, tapi masih bersedia menyempatkan waktunya untuk sekedar say “Hai”

 

“Ngit, aku mau nulis kamu lagi maleem ini.” begitu sahutku

“Jangan ken, jangan sering sering nulis tentang aku.”

“Kenapa? aku baru sekali nulis tentang kamu dah perasaan . -_-”

“Soalnya aku enggak bisa nulis balik tentang kamu.”

“……..”

Sebelum percakapan tadi ditutup, ia menyampaikan sesuatu

“Kalau kamu butuh apa apa, butuh sesuatu yang sekiranya aku bisa bantu, ngomong aja. Kalau kamu butuh ditemenin saat kamu lagi kayak gini, kasih tau aku juga, aku bakalan ngeluangin waktu aku buat kamu, jangan sungkan. Kalau kamu butuh tempat berlabuh saat kamu hendak menghilang, kamu pergi ke rumah aku.”

“Aku butuh kado ngit.”

“wah mau dikadoin apa?”

“Aku butuh doa ngit.”

“In syaa Allah, enggak kamu bilang kado juga aku doain buat kamu. Apapun keputusan kamu, aku dukung.”

“Doakan semoga permasalahan yang ada bisa segera selesai.”

dan percakapan kita ditutup dengan salam.

 

Kamu adalah seseorang yang meyakini saya, kalau saya tak pernah sekuat dan seteguh yang mereka fikirkan :’

Dan aku suka…

 

 

Semoga Allah kekalkan persaudaraan kita hingga ke JannahNya.. In syaa Allah

 

Dedicated to Langit :3

Mencintai Langit karena Allah

 

 

Bekasi, 08-02-2016

“tak ada sahabat yang lebih membahagiakan, kecuali sahabat yang selalu mengingatkan sahabat nya untuk selalu kembali ke Allah.”

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s