Fleksibel dalam Memilih

Hidup kita tak pernah berbicara tentang kesempurnaaan, Hidup adalah tentang penerimaan, dan bagaimana dengan kekurangan yang ada kita memaksimalkan potensi yang masih bisa dimaksimalkan

-Anonymous, 2016-

Bismillah

Tulisan ini sebenarnya dibuat saat saya sedang “main” di sekolah tadi.

x : “Gue harus bisa masuk XXX”

y : ” Gue udah istikharah kemaren, terus gue dapet mimpi, gue masuk kesana. Kedinasan XXXX.”

x: ” Terus gimana jadinya lo?”

y : “Ya gue yakin sejak gue dapet mimpi itu gue bakalan bisa masuk situ.”

x : “gimana sih caranya shalat istikharah?”

y : ” Ya elo minta sama Allah, ‘Yaa Allah saya mau masuk kesini.’ gue gitu doanya, terus gue dapet mimpi.”

x : “Oh gitu.”

z : “X, Y udah shalat belum lu? ngomongin kuliahan mulu.”

Percakapan ini saya ambil ketika saya baru selesai shalat ashar di sekolah. Saat itu saya masih menunggu dedek dedek saya yang baru selesai pulang sekolah. Sambil menunggu, saya merenungi kembali jejak jejak kehidupan yang pernah saya lalui sebelumnya.

Sempurna.

Saat ini saya mendefinisikan sempurna adalah “sesuatu yang saya harapkan/inginkan.”

Siapa sih yang enggak mau mendapatkan sesuatu yang sempurna? Keluarga misalnya, dilahirkan dari keluarga yang sempurna? Sekolah di sekolah ternama? Kampus ternama? kemudian melanjutkan kuliah setinggi tingginya? mendapatkan pangeran yang sesuai dengan yang kita harapkan? melalui kehidupan sesuai dengan persepsi yang di andaikan? mempunyai teman yang sempurna? mempunyai saudara yang sempurna? atau bahkan meninggal dengan cara yang sempurna (gimana dah tuh. wkwk)

sayang, selama ini kita menilai kesempurnaan itu dengan sesuatu yang dapat diukur oleh kapasitas diri kita. sungguh sangat disayangkan.

Karena, kita bisa salah dalam mengukur kesempurnaan dalam segala sesuatu hal tapi Tuhan tidak.

Bisa jadi keluarga yang ada saat ini adalah keluarga yang sempurna yang diberikan Tuhan untuk memperbaiki diri kita. Menjadi sarana bagi kita untuk belajar, dan belajar setiap harinya.

Bisa jadi Tuhan mendidik kita untuk masuk ke sekolah biasa agar kita belajar, agar diri berkembang.

Ketika memilih sekolah, saya tidak pernah diberikan kebebasan memilih. wkwkwk, bahkan ketika kuliah, ketika sudah diterima di kampus lain, saya berubah pikiran hanya dengan satu “sms” dan penjelasan seseorang melalui telfon.

Selama SMA, saat saya selalu istikharah untuk meminta kemantapan hati dari Allah, hampir setiap tidur saya selalu memimpikan kampus XXX yang saya incar lah yang akan menjadi milik saya. Qadarullah, justru UIN, yang tak pernah terlintas dalam fikiran saya (yang akhirnya saya ikut test karena permintaan 3 orang. wkwkw) menjadi tempat dimana saya menimba ilmu setelah SMA.

Dulu, saat saya masuk ke universitas, masih ada perasaan perasaan “keterkejutan” dengan kondisi yang ada, saya pernah bilang ke “guru” saya “Bu, apa baiknya aku cari tempat kuliah lain aja ya?” dan beliau dengan bahasanya yang ceria berkata “Udeh, ga usah pindah pindah, pan enak deket sama sekolah sama sekolah sama kampus, bisa kemana mana. Siapa tau, nih ya, siapa tau, Allah nempatin kamu disana karena ada alasan yang memang belum bisa niken pahamin untuk sekarang.” Dan tadaa, alhamdulillah, setelah beberapa tahun lamanya, akhirnya saya paham (mungkin) kenapa Allah menempatkan saya disini.

Terkait sahabat, saya ingat perkataan salah seorang pemain stand up comedy “Raditya Dika”. Beliau bilang “Tipe manusia itu ada tiga jenis, yang pertama cantik/ganteng, yang kedua cerdas, yang ketiga waras. Sayangnya, biasanya elu ketemu sama orang yang punya 2 tipe aja.

Jadi setiap berkenalan dengan seseorang, bagi saya yang penting adalah dia cerdas dan waras. tapi qadarullah, saya dipertemukan dengan orang orang yang cantik/ganteng dan cerdas, tapi kelakuannya….. (wkwkwkwk) (bercanda bercanda, tapi serius)

Jadi akhirnya saya berfikir, kenapa saya dipertemukan dengan sahabat sahabat seperti itu, karena mungkin saya tak punya ketiganya. Dan dari ketiganya lah saya belajar.

Terkait pasangan kita skip lah ya, bukan dalam kapasitas saya bahas ini euy. tapi bagi saya yang akan saya lihat pertama kali ketika melihat “Seseorang” adalah agamanya (ngaji, shalat, tilawah, dan amanah). Baru deh liat yang lain. #eh

Belajar sempurna itu, bukan berarti kita harus mencari segala sesuatu hal yang kita idam idamkan untuk kita. Bisa jadi Kampus, sekolah, lingkungan, dan hal lainnya. Tapi kita juga harus fleksibel dalam memilih apa yang kita sebut dengan sempurna. Karena bisa jadi, saat kita menuntut sesuatu hal yang sempurna, kita takkan pernah bisa menyaingi atau menyamai hal-hal yang sudah lama kita idamkan itu.

Semua hal yang ada di dunia ini, tak ada yang sempurna. Kecuali Tuhan. Maka fleksibel saja dalam memilih. Hidup ini penuh dengan pilihan, Pilihan yang suka atau tidak suka akanmenjadi penentu untuk kehidupan kita selanjutnya. Tak pernah ada jaminan bahwa sesuatu yang sempurna pasti baik untuk kita, pun tak ada jaminan bahwa segala sesuatu yang tidak sempurna tidak baik untuk kita.

Finally, tadi sebenarnya ada sesuatu hal yang sangat ingin saya sampaikan ke dedek dedek shalihah tadi. Kalimat yang pernah saya sampaikan ke dedek dedek shalihah sebelum mereka meninggalkan sekolah tahun lalu, “Bisa jadi Allah memberikan jawaban dari shalat istikharah kita tidak dengan mimpi, tidak dengan pertanda, tapi kemantapan hati. Jadi enaknya teh, kalau doa mah di netralin dulu, siapa tau kampus XXXX yang kita idam idamkan sepenuh jiwa raga tak pernah jadi milik kita. Bukan tak pernah jadi milik sih, tapi Allah melihat kita mempunyai potensi lebih dibanding sekedar masuk kampus itu. Jadi tetaplah husnudzan dengan semua ketetapan Allah. Walaupun, akal sehat kita kadang masih bertanya ‘kenapa?’, kita akan tau jawabannya kok, tapi ada waktunya. Jadi fokus aja dulu ke sekolah dan persiapan testnya.

Kalau nanti, disuruh papah mamah milih, pilih yang paling sedikit keburukannya, pilihlah dimana kita bisa beradaptasi dengan baik dalam kekurangan yang ada, karena bisa jadi Tuhan sedang membentuk kita, membina kita dengan sebaik baik cara yang tidak pernah kita duga.”

Maka bersabarlah dengan kesabaran yang baik.”-QS. Al Ma’arij :5- 

Dan saat kamu bersyukur dengan apa yang telah Allah berikan dalam kehidupan kita, kamu akan sadar, kalau inilah hidup kita yang sempurna. :’) 🙂

Bekasi, 12- 02 – 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s