Month: April 2016

“Kartiniku”

Bagiku, dirimu adalah seorang Kartini yang memberi cahaya dan menjadi lampu dari segala perjalanan hidup saya.

-Anonymous, 2016-

Bismillah

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

-Qs. Al Ahqaf : 15-

Tulisan ini dibuka dengan salah satu ayat dalam Al Qur’an yang sangat saya suka dan selalu membuat saya berdebar ketika mengulangnya.

Kamu adalah Kartini dalam kehidupanku

Setiap hari sampai detik ini aku memanggilmu “mamah”

Ya.. Kartini itu adalah Mamahku

Wanita itu belum genap berusia 23 tahun saat melahirkanku. Cukup muda untuk mengandung anak kedua dalam kondisi suami yang saat itu berada di Jepang.

Kartini yang ku panggil mamah itu. Beliau melahirkanku dalam kondisi menderita sakit. Aku tak paham penyakitnya, sampai saat aku masih berusia 4/5 tahun mamahku dimasukkan ke rumah sakit dalam keadaan koma akibat penyakit yang telah lama dideritanya.

Kartini yang ku panggil mamah itu. Wanita itu yang setiap hari senantiasa membangunkan waktu pagiku, dan selalu ada untukku disaat aku pulang ke rumah. Aku tak pernah bertanya seperti apa mimpimu saat kau muda, tapi ketika aku melihat matamu, aku yakin engkau pasti seorang pemimpi ulung yang lebih hidup dibandingkan mataku.

Kartini yang ku panggil mamah itu. Seseorang yang selalu berjaga 24 jam ketika aku sakit, saat aku kecil dan hampir setiap awal caturwulan aku sakit, hingga saat ini; ketika aku sudah seharusnya dapat mengurus diriku sendiri. Kamu lah orang yang pertama selalu menjadi tempat ceritaku ketika sakitku kambuh, dan dalam waktu yang beberapa menit saja, ku tahu dirimu sudah meninggalkan rumah untuk membelikan obat atau menghubungi dokter. Dan aku selalu bersyukur untuk itu.

Kartini yang aku panggil mamah itu. Seseorang yang akan selalu menjadi orang pertama ketika aku menyukai seseorang, ketika SD hingga Dewasa (walaupun sekarang belum cerita lagi. hiks~), dan dirimu selalu memberikan kisah perjjalanan hidupmu yang selalu bisa kujadikan pelajaran. Dan aku selalu bersyukur untuk itu.

Kartiniku tak seperti Kartini yang lain. Berpendidikan tinggi, idola teman sekolah (walaupun untuk ini ratting kartiniku memang tak diragukan semasa mudanya), berpenampilan menarik, hobbi dandan. Kartiniku ini sederhana, berasal dari orang orang dengan latar belakang biasa saja, dari pendidikan yang hanya sampai SMA, tak pandai berdandan, dan aktif di beberapa tempat saat sekolahnya.

Aku memberinya gelar Kartini, karena aku belajar tentang makna  perempuan dalam dirinya, sebuah makna yang sampai saat ini aku masih belajar untuk memahaminya. Kartiniku selalu memberi pelajaran bahwa kehidupan sepenuhnya adalah tentang menerima. Menerima kenyataan tentang berbagai macam hal, walaupun hal ini merupakan hal yang tersulit dalam kehidupanku.

Aku selalu berontak dalam banyak hal, tapi Kartiniku tidak. Ia selalu bilang “Yaudahlah, jalani saja.” Kau tahu kartiniku, kita memiliki persamaan tentang menyembunyikan rasa dan mengalah (untuk hal ini tingkat mengalah beliau lebih dari tingkat atas yang pernah saya lihat dalam hidup). Tapi disaat yang sama kita sama sama tahu, bahwa kita bisa mengetahui perasaan seorang perempuan lewat raut wajah, perkataan dan sikapnya (untuk hal ini saya masih harus banyak belajar, karena saya selalu butuh “confirm” dari orang yang bersangkutan akibat ketidakpekaan saya yang tinggi juga).

Aku belajar bagaimana caramu untuk tetap sehat dengan mengonsumsi obat setiap harinya. Aku belajar bagaimana melihat kekurangan dan kelebihan seseorang sebagai penerimaan sama seperti dirimu memilih laki-laki yang sampai saat ini ku panggil papah. Aku belajar untuk hidup dengan mimpi karena aku suka saat mata dan dirimu bisa tersenyum bahagia atas apa yang telah aku lakukan.

Setiap dalam perjalanan saya pulang dari suatu perjalanan, saya selalu tertarik ketika melihat anak jalanan atau melihat interaksi antara ibu dan anaknya. Dan hal itu yang akhirnya membuat saya sadar, bahwa kamu lah yang menjadi salah satu inspirator dalam hidup saya. Dan aku sangat bersyukur atas hal itu.

Semoga Allah senantiasa memberikan usia panjang, selalu memberikan kesehatan, kebaikan dan Allah berkahi usia dan kehidupanmu Kartiniku. Selalu mencintaimu karena Allah.

Jika cinta itu adalah kata-kata yang dapat didengar oleh seluruh orang di seluruh dunia

Aku ingin menitipkan rasa cintaku pada angin,

pada laut

pada hutan

pada kerasnya aspal di jalan

dan pada Penciptaku

Agar seluruh dunia bahkan penduduk langit tahu

bahwa aku selalu mencintai dia

Bahkan ketika laut tak lagi pasang

Hutan telah habis karena ditebang

Angin telah lama tak berhembus

Aspal tak lagi mendengar

Tapi Tuhan tetap tahu

Bahwa aku tetap mencintai dia

-Anonymous, 2016-

Bekasi, 21 April 2016

23.46 wib

di sebuah tempat

di publish tanggal 22 April 2016

Aku dan Hafalan

“Gimana kabar hafalan kamu?

-D, 2016-

Jleb banget rasanya ditanya ini :’)

19 Januari 2016,

Sore ini saya mulai membaca japrian whatsapp yang belum sempat terbalas sejak hari sabtu kemarin (walaupun beberapa sudah ada yang saya balas terlebih dahulu)

“assalamualaikum niken”

“bagaimana kabarnya?”

“wa’alaikumussalam, alhamdulillah kak. kakak gimana?”

“alhamdulillah, gimana hafalanmu?”

” :’)”

pandangan saya (lagi-lagi) terlempar jauh. Menghafal; sebuah aktifitas yang sangat sangat dirindukan oleh saya beberapa bulan ini. Lalai sangat ya sepertinya :’

Dulu, kita selalu tertarget dengan juz yang harus kita baca, hafalan bertambah sekian halamannya, amalan sunnah dan sebagainya yang harus diselesaikan setiap harinya. Masalah pun selalu ada, tapi entah kenapa, rasanya ringan aja. Nangis dan tertekan mungkin pernah, tapi sepertinya semua selalu ada pemecahan dan kemudahan yang Allah berikan.

Dan semakin kesini saya semakin paham. Duh! iman saya yang kerontang sepertinya, amalan yang buruk dan hafalan yang tak kunjung bertambah. Malu banget rasanya ketika tersibukkan dengan agenda dunia yang tak kunjung habisnya.

Rindu sangat, ketika whatsapp masuk isinya hanya seperti ini “bagaimana kondisi imanmu hari ini?” atau just say “semoga Allah memudahkan.” atau “bagaimana kondisi hafalanmu.”

Kak, terima kasih ya isi wa nya :’

aku juga rindu kok duduk setoran setiap malam sama kakak :’

Doakan saja adikmu ini kak, semoga senantiasa Allah beri perlindungan

Mencintai kakak karena Allah, mencintai kakak di jalan Allah

Bekasi, 19 April 2016

23.44

masih di tempat yang sama

Kamu Kapan?

“Orang yang bersedih adalah orang yang senyumnya paling cerah, karena ia tak mau orang lain merasakan hal yang sama.”

-Anonim, seperti dikutip dalam film Hope-

Berapa kali ya dalam hidup saya ditanya “kamu kapan?” sama orang orang sekitar? hmm mungkin banyak tapi karena saya super asli enggak peka, saya jawab sekenanya “duluan gih, kalo gue duluan entar lu bingung mau gandeng siapa.”

Untuk saya yang sangat enggak peka dan error sempurna, mungkin pertanyaan ini biasa aja dan cenderung basa basi syalalalala. Tapi ternyata enggak untuk sebagian orang (atau bisa jadi mayoritas orang).

Jujur yak, dulu pas umur 21 tahun (ceritanya bawa bawa umur), saya iseng (sumpah ini kejadian yang cukup saya sesali sampai sekarang) nanya ke perempuan berusia 34 tahun. “Mba belum nikah? Kapan nikah?” dan saya lupa jawabannya apa, tapi jleb pisan lah ah. Dan parahnya adalah saya nanya di grup -_- kebayang kan kayak gimana perasaan doi.

Sejak saat itu saya enggak berani untuk nanya lagi ke siapapun secara langsung, kecuali saya deket banget dan udah saling terbuka sama orangnya (itu juga harus mikirin 3 hari dulu untuk tahu moodnya lagi bagus atau enggak. Sulit lah)

Oke balik lagi.

Buat yang sering nanyain, kamu kapan, nih ya, pernah ga sih dulu pas lagi ngerjain skripsi yang ga kunjung kelar terus ditanya sama adik kelas kamu cuma bisa jawab “doain aja” padahal dalam hati udah pingin ngomong “semoga lu juga ditanya gitu sama adek kelas entar dek #eh”

Padahal nih ya, yang nanya ini enggak tau kalau kita udah jungkir balik shalat tahajjud tiap malem, berangkat jam 5 pagi biar bisa sampai kampus jam 7, di PHP in sampe tengah malem, PP dan tiap hari nghirup polusi jalan, mimpi buruk skripsi tak kunjung usai, nangis dari mulai karena ga bisa nonton uttaran sampe nangis karena coretan tak kunjung usai, makan berantakan dari makan nasi sampai makan ranting yang ditemuin di jalan (eh ga gini amat yak. wkwk), dateng ke kampus cuma pakai kaos,cardigan sama kerudung langsung pakai supaya hemat waktu.

Nah sama kayak orang yang ditanya kapan nikah. Bagus bagus kalau emang udah ada calonnya, lah kalau masih searching, nunggu nunggu kode, mau bilang apa. udah kayak seminar proposal aja belom, udah ditanya kapan wisuda.

Kita enggak tau mungkin ya, dia udah shalat malem tiap hari, ibadah makin dirajinin,  ngerawat wajah, nyari keliling kesana kemari, mata udah sembab berkali kali akibat proses yang tak sesuai, orang tua udah berkali kali ngode nimang cucu (padahal anak tetangga masih banyak), baju udah cem syahrini supaya terlihat rapih dan menawan. Dan ujug ujug, cuma pakai salam, ketemu di kondangan kita nanya “kamu kapan?”

“doain aja ya.” begitu jawabannya. simpel ya, untung hatinya ga komat kamit denger pertanyaan kita (semoga. #eh)

Orang yang lagi ngerjain skripsi, yang sedang menunggu (kematian dan) jodohnya, yang lagi kesel ngeliat tv film utta*an enggak selesai selesai. Semuanya sama, enggak tau kapan. dan semuanya balik lagi ke Tuhan.

Tapi satu hal yang mereka tahu, skripsi pada akhirnya akan selesai, jodoh yang ditunggu akhirnya akan datang, kematian pun akan menghampiri, dan film utt**an akhirnya tamat :’)

Dalam suatu waktu, ketika saya sedang bersama beberapa orang yang lebih dewasa dari saya doi bilang “wah gue harus nikah cepet nih.”

“lho kenapa?” tanyaku

“temen temen kantor udah nanya in terus terusan.”

dan statement hampir serupa saya temukan pada beberapa kasus lainnya.

Well. Saya akui mungkin yang nanya niat nya baik, mau mencoba mengosongkan waktu, atau mungkin bantu mencarikan. tapi ya, kita yang nanya memang kudu kudu harus tau diri dan sikon kali ya. hehe

Cukup kok nanya “vroh (saya ga biasa manggil temen perempuan saya sis, jadi seringnya vroh), target kamu kapan aja?” kamu bakalaan tau apa yang dia prioritaskan selama 1 tahun atau 5 tahun misalnya. bisa jadi skripsi dkk itu bukan prioritas dia selama beberapa tahun ini.

 Bagus bagus kedepannya kalau kamu juga nasih solusi, bantu nyariin misalnya. hehe. Ya intinya, mendoakan itu wajib bagi setiap muslim, tapi bantu mereka menjaga perasaannya yuk, bantu mereka merasa nyaman pas di dekat kita. 🙂

dan lagi lagi,

semoga Allah memudahkan setiap langkah. 🙂

Bekasi, 19 April 2016

00.44

Seperti biasa disuatu tempat.

Jang Yeong Sil

“Dimata saya lelaki keren selain ayah, adalah seorang kriminolog dan seorang ilmuwan.”

-Anonymous, 2016-

“Ken lu suka film korea?”

Wait waiit. hehe

Saya suka (beberapa) film korea, khususnya kisah kisah tentang drama kolosal. Kalau ditanya alasannya kenapa, hmm kayaknya karena setiap orang keliatan lebih cool dan charismatic aja, yang perempuannya kelihatan anggun dan sopan. hehe. Kalau film korea selain itu, biasanya tentang detective atau tentang pekerjaan kayak misaeng (untuk yang genre cinta cintaan saya kurang interest sih. wkwkwk). oke lanjut ya, hari ini niat banget bahas film Jang Yeong Sil yang baru saja selesai saya tonton (dan selesai tayang di korea) beberapa pekan lalu.

Jang Yeong Sil (diperankan oleh Song Il Kook) adalah seorang ilmuwan yang berasal dari kalangan budak. Pada era dinasti Joseon, budak tidak memiliki hak sebagaimana kaum bangsawan dan istana, seperti pendidikan, hak untuk diperlakukan layak, dan sebagainya. Jang Yeong Sil merupakan anak dari kaum terpelajar (scholar) dan seorang pembantu di istana. Masa kecil Jang Yeong Sil diisi dengan membaca sastra, mengamati bintang dan juga ia senang sekali memahat. Pahatan kayunya keren banget lah, bahkan ia pernah membuat binatang binatang untuk memudahkan pembacaan jam di istana (beneran masa kecilnya keren abis).

Waktu terus berjalan, akhirnya ia tumbuh dewasa, ibunya sudah wafat karena sesuatu hal (nah ini kudu nonton langsung lah), sampai akhirnya ia merencanakan kabur dari Joseon untuk pindah ke Ming, perencanaannya sempurna., tapi apa daya, Lee Chun (yang diperankan oleh Kim Do Hyun) selaku teman ayahnya Jang Yeong Sil berhasil menggagalkan Jang Yeong Sil untuk melarikan diri.

Jang Yeong Sil, tumbuh bersama dengan temannya Suk-Koo (yang diperankan oleh Kang Sung Jin). Persahabatan mereka berdua itu keren banget lah, dan bertambah kuat bareng sama Lee Chun. Sweet banget mereka bertiga, dan selalu membuat penonton (saya maksudnya) terkesima; nangis dan ketawa berulang kali.

Setiap episode dalam film ini pasti ada konflik didalamnya,  tapi keren banget sih memang pemikiran Jang Yeong Sil, dari mulai pemikiran tentang bagaimana menggerakkan jam dengan bantuan air, membaca bintang utara, menentukan musim panen dan tanam lewat pergerakan matahari, penentuan gerhana, menghidupkan kembali Astronomical Clock World yang sudah mati selama 300 tahun di dinasti Ming.

Kisah percintaannya juga ada, tapi elegan bangeet, sama Putri Soo Hyun (karena beda strata apa ya), dua duanya malu malu dan finally enggak pernah saling ngungkapin sukanya sampai tua.

Hikmah yang saya tangkap dari film ini antara lain ; setiap orang yang mau melakukan perubahan;sekecil apapun pasti akan ada pertentangan, dan pertentangan itu selalu sebanding sama perubahan yang akan dilakukan, jadi siap siap aja kalau kamu mau melakukan perubahan, pasti bakalan ada pertentangan. Darimanapun.

Hikmah selanjutnya, Orang tua kita baik ayah maupun ibu, punya cara pengorbanan masing-masing untuk anaknya. Walaupun, kadang kadang kita sebagai anak enggak bisa mahamin itu di masa anak-anak, tapi percaya aja kita akan paham suatu saat.

Hikmah yang ketiga (cielah banyak amat hikmahnya udah kayak film H*****h #eh),  asik banget kalau kita memakai sudut pandang lain dalam setiap kehidupan kita, karena bisa jadi kita bisa menemukan inspirasi dari hal-hal yang meenurut orang lain biasa. Find yourself!

Hikmah yang keempat, setiap masa selalu ada pengorbanan. Integritas kita mungkin saja berubah, tapi pada akhirnya kita harus tetap bertahan sama apa yang kita anggap benar, walaupun kematian. Kayak Hee Jae yang enggak mau science dimatikan sama kaum kaum Song Confucianism (yang mengakar bagi kaum terpelajar di era Joseon), dan memilih mengorbankan diri.

Hikmah yang kelima, bermanfaat untuk orang lain. Yap. Jang Yeong Sil dengan segala penemuannya, Raja Sejong dengan penemuan Alphabetnya, apalagi sih tujuan mereka kalau enggak untuk rakyatnya? Enggak ada. Mereka cuma mau, semua rakyat Joseon mendapatkan pengajaran dan kehidupan yang sama terlepas dari strata mereka. Keren banget laah.

Pokoknya ini film high recommended lah, bisa ditonton sama semua kalangan dari mulai bayi sampai orang tua (hahah. kalau debay nya udah bisa nonton ya. #eh), very educated. Kekurangan film ini , film ini masih disajikan dengan subtitle english, jadi kalau ditonton sama anak kecil harus siap buat ngejelasin panjang lebar episode ini maksudnya apa, dsb.

Sebenernya mau spoiler in film ini sampai abis, tapi saya paham banget, di dunia ini banyak banget orang kayak saya (anti spoiler maksudnya. hehe), jadi enaknya nonton sendiri, dan siapin diri banget dengan kisah kisah enggak terduga yang bakalan bikin kamu penasaran untuk terus nonton sampai selesai. Selamat Menonton, dan jangan lupa !

 

Terus bermanfaat untuk orang lain ya 🙂

 

jang yeong sil 1

source : http://www.seriesded.com/korea/jang-yeong-sil/12805.html

ada si emesh Daehan Minguk Manse di ep 4

jang yeong sil 2

http://www.wowkeren.com/berita/tampil/00097329.html

beberapa adegan di Jang Yeong Sil

jang yeong sil 3

http://www.hancinema.net/hancinema-s-drama-review-jang-yeong-sil–drama-episode-1-90045.html