Month: June 2016

Menikah

Kita bisa jadi berbeda dalam hal karakter kita, tapi kita tidak boleh berbeda soal prinsip dan pengasuhan anak.

-Anonymous, 2016-

Bismillah, duh deg degan euy mau nulis begini (secara belum ada pengalaman) tapi berhubung pertanyaan “kapan ni**h?” mulai berbisik bisik di telinga saya, iseng nulis tentang ini  boleh lah ya..

Menikah, apa sih yang ada di benakmu ketika seseorang bertanya padamu tentang pernikahan? bertemu dengan pangeran berkuda putih dengan ketampanan maksimal, kecerdasan luar biasa, tindakan heroik dan sebagainya, atau seperti apa?

Atau ketika kamu mulai ditanya tanya orang orang sekelilingmu tentang menikah, apa yang mulai kamu bayangkan? seseorang yang kamu akan lihat setiap hari dari pagi hingga malam, seseorang yang mulai menjadi penanggung jawabmu atau apa?

Lalu ketika seseorang membahas tentang tujuannya menikah, lalu apa yang kamu pikirkan tentang tujuanmu menikah? memperbanyak keturunan kah?atau hanya sekedar menjaga diri dari fitnah atau apa?

aku pernah ditanya ketiganya , oleh beberapa orang dan jawabannya selalu ku jawab ” ketika seseorang memutuskan untuk tidak menikah gimana?” dan berbagai reaksi pun bermunculan. Ada yang tertawa atau ada yang mengeluarkan dalil dari perkataan ku itu. hehe

Menikah, bagiku bukan hanya perkara bagaimana memperoleh keturunan. Lebih dari itu, ia adalah penyatuan dua orang hebat yang kemudian dipersatukan dengan Tuhan untuk semakin menebarkan kontribusi positif ke masyarakat. Ke negara. Lebih dari sekedar membangun keluarga, kawan.Lebih dari itu, ada mimpi besar yang seharusnya dibangun setelah menikah, lebih dari sekedar memperbanyak keturunan.

Dan mimpi besar itulah yang masih ku susun kerangka nya

Jika kamu bertanya tentang apa yang kufikirkan tentang seseorang pangeran atau ratu yang akan mendampingiku kelak? Jawabanku simpel, kita boleh berbeda secara karakter, secara kebiasaan, tapi kita harus sepaham secara prinsip dan pola pengasuhan anak. Bisa kau bayangkan, kalau kau serumah dengan seseorang tampan/ cantik tapi dia tak paham pola pengasuhan anak nya dirumah. Atau dia adalah seorang yang mapan secara pekerjaannya, tapi setelah menikah kau bahkan hampir tak bisa keluar untuk  melakukan apa apa membangun masyarakat di rumah. Atau dia adalah orang yang sangat cerdas secara akademik tapi tak memiliki kematangan emosional, atau seseorang yang memiliki segalanya tapi untuk shalat di masjid saja enggan.

well, bagi saya menikah bukan perkara siapa yang cepat dan siapa yang lambat, tapi tentang menemukan yang tepat. Waktu memang penting, mengingat usia yang sudah semakin dewasa, tapi menemukan selalu membutuhkan waktu yang tepat bukan?

************************************************************************

Menjadi seorang suami/istri tidak mudah

Maka belajarlah, berilmu lah sebelum mengamalkannya 🙂

Kelak, jika kita telah menyiapkan semuanya

Tuhan akan mempertemukan dengan orang yang tepat

dan Kemudian setelah menikah bertambahlah keimanan keduanya, bertambahlah amal amal kebaikannya

dan Kemudian Tuhan berkahi kehidupan keduanya

dan terakhir menutup perbincangan random ini saya ingin mengisahkan kembali sebuah kisah yang pernah seorang ustadz sampaikan saat berada di Rumah Qur’an. Beliau bercerita seperti ini

“Dulu, ada seseorang pemuda yang bilang ke Murabbinya bahwa ia ingin menikah dikarenakan usianya yang telah matang, lalu Murabbinya bilang, “temuilah ustadz X dan sampikan maksud kedatanganmu padanya.” kemudian pemuda tersebut menghampiri ustadz X dan menyampaikan maksud kedatangannya.”Apa tujuanmu menikah?” kata ustadz itu, “menjaga pandangan dan kemaluan ustadz.”jawabnya. “Hanya itukah?” sahut ustadz tersebut, “pulanglah.

Dan begitulah cerita tersebut berulang, setiap si pemuda menyampaikan maksud kedatangannya, sang ustadz selalu menannyakan hal yang sama, dan selalu dijawab hal yang sama. 3 Bulan berlalu, karena kesal, sang pemuda mengadukan hal tersebut kepada guru ngajinya “ustadz, sepertinya ustadz X tak inginsaya menikah ustadz.” sahut pemuda itu. “kenapa akh?”kata guru ngajinya. dan pemuda itu menceritakan semua kejadian yang dialaminya kepada guru ngajinya.

Beberapa hari kemudian, guru ngaji tersebut mendatangi kediaman ustadz tersebut, “Akh, maaf saya dengar anda tak ingin menikahkan binaan saya dengan wanita di sini. benarkah?” kata guru ngajinya. sang ustadz pun tersenyum dan kemudian meluruskan “Jadi begini akh, demi Allah bukan begitu maksud ku. Seperti yang kita tahu, pemuda tersebut, merupakan salah satu pemuda militan dalam dakwah kita, takkah kau ingin mendengar sebuah mimpi yang lebih besar dalam pernikahannya dibandingkan hanya sekedar menjaga pandangan dan kemaluannya? Takkah ada keinginnan bahwa menikahnya adalah bagian untuk semakin menggiatkan diri dalam dakwahnya di masa depan? Luruskan niatnya dan kemudian datanglah lagi kepadaku.” begitu jawaban ustadz tersebut.

Sang guru ngaji datang ke kediaman pemuda tersebut dan menyampaikan hasil pembicaraannya kepada binaannya. Kemudian sang pemuda tersebut beristigfar dan memperbaiki dirinya sebelum bertemu ustadz tersebut. Tak beberapa lama setelah itu, pemuda tersebut dinikahkan oleh ustadz dengan salah satu perempuan yang dikenal shalihah, baik dan dapat membantu dakwahnya kedepan.

“saya senang ketika mendengar sahabat saya menikah, kenapa? karena saya yakin ketika dua orang hebat bertemu, maka akan ada energi positif ke depannya di masyarakat. dan semoga negara kita suatu saat dapat terisi orang orang baik yang menginspirasi banyak orang.wallahu’alam”

Jakarta, 16-Maret 2016

16.49 WIB

Kecewa

#RamadhanProject

Hal yang lebih menyeramkan selain hilangnya kepercayaan seseorang kepada kita, adalah ketika orang lain kecewa terhadap kita.’

.-Anonymous 2016-

Pernahkah sekali dalam hidup kamu merasa tak ingin berbicara kepada seseorang? pasti pernah bukan? tidak marah, hanya saja kamu enggan untuk memulai komunikasi apapun dengan seseorang.

 

Aku merasakannya, Sudah beberapa bulan terakhir agaknya saya merasakan hal seperti ini, tidak marah, bahkan tak ada perasaan berkecamuk apapun dalam diri saya. Hanya saja, saya enggan untuk memulai, saya enggan untuk berurusan apapun dengan seseorang. Bahkan dalam puncaknya adalah saya sama sekali tak merespon apapun berita yang sampai, terkait orang itu.

 

Salah?

Iya sangat salah, dan saya sangat faham kalau saya sudah bertindak terlalu jauh dalam hal ini. Tapi, kau tau? Ada sesuatu yang belum selesai dalam diris saya. Luka. Tak besar memang, tapi cukup dalam.

 

Dan biarkan saja semua ini seperti ini saja, seperti seseorang yang sempat mengenal, hanya kenal dan tak perlu tau apapun diantara kita.

 

 

Jakarta, 07 Juni 2016

 

Juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
– Sapardi Djokodamono, Hujan Bulan Juni-

Selamat datang di bulan Juni,

Selamat datang kembali

Selamat datang (lagi) kisah yang membuat seseorang tak mampu move up selama 11 tahun, menunggu di tempat yang sama pada tanggal dan waktu yang sama

Membuat seseorang menunggu orang yang sama tahun demi tahunnya,

Dibawah hujan,

Di derunya angin,

dan selamat datang bulan Juni

Jakarta,  Juni 2016

16.38