C.

Kadang saya hanya terfikir, siapa yang sedang berbohong diantara kita?

Advertisements

Depression

β€œPeople think depression is sadness. People think depression is crying. People think depression is dressing in black. But people are wrong. Depression is the constant feeling of being numb. Being numb to emotions, being numb to life. You wake up in the morning just to go back to bed again.” -Quotes from Healthy Place.com-

Bismillah…

Hari ini mau banget sharing tentang perasaan saya saat tahun 2016 silam. Ada yang pernah tahu depresi? Atau karena merasa pusing sedikit disebut depresi? Hehe. Saya pernah sampai ke psikiater.

Jadi saat itu ada sesuatu hal –yang sampai hari ini hanya ada 5 orang yang tahu- yang menyebabkan ini semua. Kejadian ini berlangsung selama 3 bulan. Setiap malam saya terbangun dan kemudian saya menangis. Yap, menangis tanpa tahu kenapa. Jam 4 saya selalu sudah dalam kondisi “on”, dan tidak tahu harus melakukan apa, setelah “agenda pagi” karena tidak tahu apa yang harus dilakukan, saya kemudian tertidur dan terbangun kembali dalam keadaan menangis, dan terulang terus demikian. Baru makan ketika asam lambung tinggi.

Kamu juga pernah kah? Jika ya, bagus. Kita sepengalaman berarti. Hehe. Lanjut ya,

Setiap hari kerjaan saya hanya tidur, nangis, tidur nangis. Lho, enggak kuliah atau kerja gitu? Maklum, dulu kebetulan saya sedang masa masa revisi skripsi, jadi enggak ada jadwal kuliah atau kerja yang mengganggu. Sekalinya saya berhasil bangun tanpa menangis, hanya karena ada orang yang mengajak saya bicara melalui telfon. Itupun biasanya saya hanya jadi pendengar. Setiap hari pandangan mata saya lebih banyak kosong, pikiran saya suka enggak nyambung kalau ngobrol, saya sudah tidak mendengar apapun padahal saya tahu, di depan mamah sedang menyetel acara ceramah paginya.

Ibadah? Saya juga sempat terfikir demikian. Ah tapi tidak ada yang berubah, tilawah dan amalan lainnya masih sama seperti biasanya, malah jauh lebih baik pencapaiannya saat saya sedang depresi. Hari berganti hari, hingga saya terfikir untuk melakukan suatu hal untuk menghentikan semua kegiatan abnormal saya selama beberapa waktu; Suicide.

Hah beneran ken sampe kepikiran gitu? Iya. Dan butuh waktu sebulan untuk saya merencanakan cara yang paling sempurna di otak saya setiap hari, how to doing suicide without pain. Saya mendownload dan membaca hampir puluhan jurnal dan case setiap hari untuk memastikan caranya.

Sampai suatu ketika, saya melihat mamah saya tidur. Dan saya bertanya dalam hati, apakah orang ini pantas melihat saya “pergi”? Sekalipun saat ini beliau enggak di pihak saya, apakah beliau akan sedih jika saya “pergi”?. Pertanyaan ini berkecamuk, dan beberapa hari kemudian pikiran saya normal. Bukan normal kemudian saya sembuh, ndak. Saya langsung menghubungi beberapa kontak psikolog online untuk menceritakan sekilas kasus saya. Ada beberapa respon dan menawarkan appointment , karena saya masih enggan untuk keluar lama dan khawatir dalam beberapa hal. Saya akhirnya memutuskan cek mental saya melalui psikiater di salah satu Rs. Dengan BPJS? Tidak, karena kebetulan saya yang mau sendiri bukan karena rujukan dkk.

Saat masuk, saya mengerjakan ratusan soal kurang lebih 2 jam dan saya selesaikan hanya sekitar 1 jam. Sebagai dasar assesment kondisi kejiwaan saya. 3 jam kemudian saya dipanggil perawat.

Saya bertemu dengan psikiater. Beliau sosok yang ramah, dan masih muda. Dia berkata “Ken, kamu kenapa? Hasil test mu, kamu sedang dalam depresi sedang, khawatir kalau kamu teruskan bisa bisa masuk fase depresi berat. Aku coba liat tangan kamu (dia mencek pergelangan tangan saya sampai siku), Oke bersih.”

Dan hampir selama 1 jam lebih saya curhat ke beliau. Apa rasanya? Ringan, perasaan dihargai, tetiba saya tidak merasa takut akan respon orang lain. Di sesi akhir beliau bilang “Ken, kamu orang kesehatan juga. Pasti paham juga penanganannya gimana, aku ga akan ngasih obat apapun ke kamu. Kalau dalam 3 bulan kamu merasa enggak lebih baik, kamu kontrol kesini lagi ya.”

Alhamdulillaah. Setelah hari itu, setidaknya tanpa cerita ke orang lain, perlahan lahan saya berusaha untuk hidup. Hidup? Yap. Mengembalikan banyak “hal” yang seharusnya bisa saya raih saat saya sehat.

Kalau misalnya ditanya, ada ga sih yang langsung underestimate ke kamu? Ada. Banyaaak. Dari yang bilang saya lagi jelek imannya, lebay, syok, overthinking. Duh.

Gengs, sekedar info. Kalau ada hawa hawa orang mengarah ke depresi, kita nya enggak usah ngomong macem macem. Jaga lisan kita :), dia membutuhkan pendengar bukan respon kamu. Kita ga pernah tahu apa respon balik dia setelah mendengar respon kita. Iya kalau dia ngerasa dapat motivasi yang bagus setelah curhat ke kamu. Kalau adanya dia makin tenggelam ke fikiran dia gimana? πŸ™‚

Dan buat yang ngerasa menuju depresi atau sedang depresi, it’s okay if you want to keep your secret alone. Tapi jangan sungkan untuk bertanya ke psikiater/psikolog tentang kondisi kamu. Enggak usah pikirin apa stigma dari masyarakat. Mereka hanya tahu luar kamu, enggak tahu berkecamuknya kamu. Dan ga ada yang salah kok dengan mengunjungi psikolog atau psikiater, justru membuktikan kalau kamu tahu sadar bahwa sehat itu ga sekedar fisik tapi juga mental kamu. Tapi juga jangan lupa untuk terus mendekatkan diri ke Tuhan ya πŸ™‚ bisa dengan jalur mensyukuri ciptaanNya, bersyukur dengan ujian yang sekarang, dengan ibadah ibadah kamu yang lain juga πŸ™‚ Allah loves you than you ever think. Trust me.

Bekasi 23-09-2018

-ditulis dalam waktu 2 hari- πŸ™‚

Memiliki

Kau tahu kenapa seseorang merasa kehilangan terhadap orang lain, Lan? Karena kadang dalam hati mereka, mereka merasa memiliki.

Kemarin Fadlan mengajakku pergi ke sudut kota. Entah, apa sebabnya. Lelaki yang baru ku kenal karakter aslinya ini memang lebih tertutup soal perasaannya. Aku tak mengetahui banyak kisah masa lalunya, jika dibandingkan dia yang mengetahui masa laluku sampai ke kisah awalnya.

Sepanjang perjalanan ini ia lebih banyak terdiam. Aku tahu ada sesuatu yang sedang di fikirkannya, namun aku tak berani bertanya.

Keesokan paginya, ketika aku dan dia sedang berjalan diatas bukit. Aku memberanikan diri bertanya padanya.

“Adakah sesuatu yang sedang kamu fikirkan Lan?” Tanyaku.

Dia masih terdiam. Terlihat sepertinya dia sedang menimbang nimbang untuk mengutarakan sesuatu.

“Bolehkah aku bertanya padamu Rei?” Jawabnya.

“Jelas sekali boleh. Apakah ini tentang Kinan?” kataku.

Aku melihat tatapan terkejutnya saat aku mengucapkan nama itu.

“Darimana kau tahu, Rei?”

“Ah kamu seperti pikun saja, aku selalu mengingat ceritamu dengan baik, Lan. Tidak sepertimu. Hehe.”

Kemudian dia bertanya, “Haha. Benar juga. Menurutmu kenapa seseorang bisa merasa kehilangan?”

“Karena mereka merasa memiliki Lan, entah sudah memiliki atau ingin memiliki.” Jawabku.

“Maksudmu?” tanyanya.

“Fadlan, ketika seseorang merasa memiliki , ah tidak atau tepatnya mereka ingin memiliki seseorang dan kemudian seseorang tersebut melabuhkan perasaannya pada orang lain bukan pada dirinya. Orang tersebut pasti merasa kehilangan. Merasa kehilangan pada apa apa yang belum dia miliki. Ini terjadi padamu kah?” senyumku.

“Tidak, bukan padaku.” Katanya sambil menggaruk rambutnya yang ku tahu itu adalah tanda saat dia berbohong.

“Oke, kalau begitu kutanya padamu Rei, apa tanggapanmu jika pasanganmu memiliki masa lalu yang sama denganmu. Tapi sekarang kamu memposisikan dia sebagai orang yang pernah kamu sukai, dan akhirnya dia memilih kamu, saat ini kamu tak tahu seberapa dekatnya ia dengan masa lalunya, kamu hanya tau mereka dekat dalam waktu cukup lama. Apa tanggapanmu?” tanyanya

Duh makin panjang saja ya pertanyaannya, harusnya tak kujawab saja dari tadi. Gerutuku dalam hati.

“Aku akan membiarkan dia menuntaskan masa lalunya. Jika perasaannya untuk orang tersebut masih ada sampai batas waktu yang kutentukan sendiri. Aku melepaskannya. Aku tak bisa mencintai jiwa seseorang tanpa memiliki hatinya.” Kataku. “Kalau kamu?”

“Aku akan memastikan perasaanku. Untuk memastikan bahwa aku takkan pernah menoleh lagi ke masa laluku di masa depan.” Sahutnya.

“Kok gitu?” protesku.

“Karena aku laki laki Reida. Aku takkan membiarkan pasanganku terluka dengan tak bisa memiliki hatiku. Da lihat sunrise nya sudah muncul !” sahutnya sambil menunjuk ke ujung bukit.

Untuk pertama kalinya, tiada yang lebih kusukai dari matahari pagi dan dia disini.

-Bekasi, 11-09-2018-

Kau tahu, kadang ketika sedih seseorang tahu bagaimana caranya menulis.

Senja

Kau tau Rei, senja muncul ketika matahari dan bulan menyadari kalau mereka tak kan pernah bisa bersatu. Takkan pernah.

Kataku pada Reida

Hitungan hari telah berlalu, aku memahami Reida sebagai seseorang perempuan yang semakin misterius dalam kehidupanku. Ada bagian bagian waktu yang membuat perasaannya tak menentu, khususnya di waktu senja. Misalnya saja, saat senja datang, kadang di buku dzikir pagi petangnya kutemukan ia mengusap air matanya. Sedikit. Sekilas memang. Tapi aku menangkap suasana sedih itu. Atau kadang disaaat senja aku menemukan dia sedang tersenyum sambil memejamkan mata sambil terdiam, entah memikirkan apa. Hingga saat aku dan dia berjalan di sepanjang pantai, aku bertanya padanya.

“Rei, maukah kuberitahukan kepadamu kenapa senja ini ada?” tanyaku.

“Ada asal usul cerita yang belum ku tahu kah tentang senja ini? Bersediakah kamu menceritakannya kepadaku.” Tanyanya penasaran.

Duh. Kena aku. Padahal sore ini aku hanya ingin sedikit menggodanya saja. Ah yasudahlah, ku coba memutar otak untuk membahagiakan dia.

“Kau tau, jauh sebelum kita ada, matahari dan bulan sebenarnya saling jatuh cinta. Mereka adalah sosok yang sempurna, matahari dengan hangatnya, bisa membuat bumi terang benderang, tumbuhan hangat. bulan dengan dinginnya, namun menenangkan, sangat nyaman untuk istirahat.”

“Keduanya suka saling tersenyum malu sambil membayangkan jika mereka jadi satu, mereka berfikir bumi akan jauh terlihat damai. Hingga suatu ketika, datanglah benda lain, Bintang namanya. Ia bersinar cerah, padahal kau tau kan Rei, cahaya bintang berasal dari matahari juga. Hehe.”

“iya, benar sekali Fadlan. Lalu apa yang terjadi?” Sahut Reida.

“Bulan perlahan lahan mulai mencintai Bintang. Ia suka saat lama lama berbincang dengan Bintang. Sesuatu yang baru, katanya. Tapi ia tak pernah jujur kepada matahari tentang bintang di saat ufuk menjelang, ia hanya bercerita kepada matahari bahwa beberapa malam ini ia merasa lebih berbeda.”

“Sampai suatu ketika, matahari menemukan bulan dan bintang sedang saling bercengkrama riang.” kataku.

“wah benarkah? Mungkinkah ini benar Fadlan?” tanya Reida penasaran.

“Wah jelas dong. Kan aku yang buat ceritanya. Maka cerita ini benar buatku. Jika belum benar untukmu, maka anggaplah iya agar aku bisa menyelesaikan ceritaku. Hehe” kilahku

“lanjutkan saja.” Sahutnya dengan muka penasaran.

“Matahari murka. Dia kecewa terhadap Bulan. Dia tidak bersinar sepanjang hari, bahkan disaat malam. Bulan pun tak dapat melihat Bintang. Kejadian ini berlangsung cukup lama. Sampai suatu ketika, Matahari mendatangi Bulan, ia bertanya “Adakah aku dalam bagian dari doamu?”

Bulan menjawab “Kau selalu bagian dari doaku Matahari. Bahkan aku menyebut namamu tanpa henti.”

“Bohong.” sahut Matahari. “Kau tau, aku selalu meminta dalam doaku, sesosok yang baik. Aku sempat berharap itu kamu. Tapi Tuhan ‘berkata’ sosok itu bukan kamu.”

“Kenapa kamu yakin jawabanmu bukan aku?” tanya Bulan.

“Karena kamu melihatku dalam pertanyaanmu, dan melihat Bintang sebagai pernyataanmu. Aku izin pergi, tugasku hari ini telah usai. Senang bisa menjumpaimu sebagai sosok yang berbeda esok hari.” senyum terakhir Matahari kepada Bulan.

Esoknya, di setiap sore hari, Matahari selalu menangis hingga cahayanya ikut bersedih dan menjadi warna jingga. Ia bukan sedih karena tak bisa memiliki Bulan, ia hanya kesepian. Ia hanya menangisi kenapa ia sempat berharap kepada Bulan. Dan ia selalu mencoba melepaskan semua. Oleh sebab itu, mungkin saja senja selalu membuatmu damai. Ya kan Rei?”

Rei terdiam. Ku kira dia akan menangis. Namun ia bertanya kepadaku “Menurutmu, apa yang dilakukan matahari itu benar?”

Pertanyaaan itu ditujukan karena cerita ngarangku. Sambil menatap matahari tenggelam aku berkata padanya “Semua tindakan bisa jadi benar Rei. Yang paling ku apresiasi adalah keikhlasannya. Jika pun masih ada sedih dalam hatinya karena harus berjumpa dengan Bulan setiap saat. Ia tak mengubah jawabannya. Baginya, keputusan adalah keputusan. Takdir adalah takdir pula baginya. Dan yang kusuka, senja selalu membuatmu rindu banyak hal bukan? Aku tau. Aku akan membersamaimu setiap senja. Agar kamu tak jadi matahari yang menangisi banyak hal sendirian. Agar aku suatu saat bisa jadi rindumu saat senja datang.”

Reida terdiam. Dia tersenyum padaku. Senyum yang sama saat aku bertemu dengannya dulu.

-Bekasi, 27/08/2018-

22.57 WIB~

Menulis

Kapan kamu akan kembali menulis da? Tanya Fadlan. Aku ingin suatu hari kamu dapat menulis tentangku, walaupun sebait saja.

Tiga bulan berlalu, Reida terlihat seperti biasa. Seperti Reida yang sebelumnya Aku kenal. Tapi ada yang berubah, Reida tak lagi menulis apapun dimana mana. Di sosmednya atau di buku hariannya.

Hingga pada suatu hari Aku memberanikan diri bertanya, di senja yang sama, di sebuah bukit di bagian Barat.

“Rei, aku ingin bertanya sesuatu padamu. Boleh kah?” Tanyanya.

“Tentu saja.” Jawab Reida dengan senyum mengembang. Ah senyum itu, selalu membuat jantungku tak karuan setiap melihatnya. Jawabku dalam hati.

“Beberapa lama ini, aku tak menemukan dirimu menulis, baik di sosmedmu, atau dalam buku buku harianmu. Ada apakah? Penamu habis? Atau keyboard mu basah?” Tanyaku sambil bercanda.

Suasana menjadi hening. Ia terdiam, dan aku pun merasa bersalah karena bertanya kepadanya. Namun tiba tiba dia menatapku, sambil tersenyum tipis dia berkata,

“Aku masih tetap menulis Fadlan, hanya saja aku tak pernah memposting lagi apa yang aku tulis.”

Katanya singkat.

“Ada apa?” sahutku makin penasaran.

“Aku hanya belum menemukan perasaan dalam tulisan-tulisanku. Kau tahu, saat menulis, kadang seseorang melibatkan perasaannya. Walaupun mungkin tiap orang bisa menulis tanpa perasaan, tapi aku tidak.” katanya.

“Lalu kapan kamu akan memulai kembali menulis da?” Tanyaku lagi

“Doakan aku Fadlan.”

“Aku berharap suatu saat kamu dapat menulis kembali Rei. Dan aku dapat menjadi bagian dalam tulisan tulisanmu. Sebagai seseorang yang kamu benci, atau seseorang yang kamu cintai. Walaupun aku berharap yang kedua. Bisa kah? Aku dengan senang hati akan menunggu tulisanmu setiap hari.”

Lalu tiba tiba dia menatapku, tanpa kata, aku dapat melihat matanya yang berkaca kaca. Ia masih ada traumatik dengan masa lalunya rupanya.

Namun tak lama kulihat ia mengangguk, dan berbisik “doakan aku, bisakah kau tetap disampingku? Aku akan mencoba.”

“I will.”

Bekasi, 25 Agustus 2018

22.46 WIB

Ditemani lagu soundtracknya dunia terbalik, mata ngantuk karena efek obat yang tak selesai.

Merapihkan Kenangan

“Apa yang lebih sulit dari melupakan kisah, Lan?

Merapihkan kenangan. Sahut Fadlan

Kenapa demikian lan? Tanya Reida lebih jauh.

Karena saat merapihkan, kamu harus bisa mengikhlaskannya.”

Bismillah,

Senja itu Fadlan bertanya kepada Reida,

“Apa yang kamu rasakan ketika kehilangan? Membenci kah? Kecewa kah? Tiba tiba kamu membenci untuk semua hal dimana kenanganmu tinggal. Pada damainya hujan, pada gemuruh ombak atau kadang hanya pada semilir angin saat senja menyapa.

Kadang juga,

Kamu menjadi pembenci pada buku, daun, kaca, dan banyak hal yang mengingatkan mu tentang kenangan itu da?”

Time Heals Wound lan” sahut Reida tak berselera meneruskan.

“Kau tau, waktu bisa menyembuhkan luka, tapi tak bisa merapihkan kenangan. Kau tetap bisa melanjutkan hari, tersenyum sepanjang waktu, tapi kau tetap membenci da. Waktu hanya membuatmu melupakan tanpa menyembuhkan, kamu akan tetap sakit, walaupun tak sesakit ini.” sahut Fadlan.

“Lantas menurutmu ada lagi kah yang lebih membunuh dari melupakan?” tanya Reida.

“Merapihkan kenangan.” Sahut Fadlan

“Kenapa demikian Lan?” tanya Reida lebih jauh.

“Karena saat kamu merapihkan kenangan, kamu harus bisa mengikhlaskan da. Beberapa orang terperangkap dengan keinginannya untuk melupakan, untuk melepaskan, untuk membiarkan kenangannya hanya jadi puzzle tak bermakna. Akhirnya? Otaknya sembuh tapi hatinya sulit. Sebenarnya apa yang lebih mendamaikan kecuali hati yang menerima? Apa yang lebih menenangkan kecuali hati yang mendekap kenangan untuk kemudian mengambil pelajaran darinya? Jika kamu bisa tak ada lagi yang perlu kamu sedihkan da, percaya padaku, ketika kamu sudah merapihkannya, kamu bisa tersenyum ketika mendekap sesuatu yang mengingatkanmu tentang kenangannya, karena kamu tau ada yang tak bisa kamu raih sekalipun kamu telah berjuang. Takdir namanya.”

Tak lama, kulihat Reida merenung menatap senja lamat lamat yang kian menghilang, dia mengeluarkan sebuah surat dari seseorang yang telah lama ditunggunya. Surat yang membuat hatinya retak tak beraturan beberapa waktu kemarin. Sambil menatap kertas tersebut Reida bergumam lirih, “Kamu adalah kenangan yang pernah kuperjuangkan dalam doa, dalam kata, dalam tindakan. Tapi Tuhan selalu punya caranya mempersatukan, memisahkan. Terima kasih karena telah hadir, Terima kasih karena telah menyapa sekian lama. Kita adalah bagian dari ketetapan yang tak mungkin satu. Dan kamu adalah kenanganku sebelum ku berjalan jauh. Izinkan ku pamit tanpa memulai sesuatu jauh sebelum ini. Kau tau, Fadlan benar, aku harus melanjutkan hidup dengan merapihkan cerita tentang kamu, tentang kita yang tak pernah dimulai.”

~Dan aku adalah gelas retak di sudut senja itu ~

Bekasi, 02-05-2018

Tak ada yang lebih baik dari menikmati susu putih hangat, dan ide bermain kata dalam fikir kita.

Aksara

Kamu dan dia, pernah dalam suatu masa yang sama
Berdiri berhadapan, kemudian merasa ada yang berbeda
Tapi saat itu, semuanya menyadari, bahwa tak ada yang mengenal diantara mereka
Kemudian mereka sama sama melanjutkan perjalanan

Waktu demi waktu membawa mereka pada konspirasi langit untuk bertemu di masa saat ini
Bukan hanya saling mengenal, tapi saling menyapa, tanpa pernah tau kalau ada rasa yang tumbuh diantara mereka, ah tapi sepertinya bukan mereka, hanya kamu.
Dan kemudian waktu membawa mu dalam permainan takdir, permainan perjalanan yang kadang membuat mu semakin tak mengerti
Perjalanan yang semakin membuatmu berfkir dalam dalam, bahwa ada aksara yang tak bisa sampai, bisa jadi memang belum bisa disampaikan atau memang takkan mungkin disampaikan.

Pertanyaan itu membuatmu mengambil satu keputusan, bahwa hati kadang tak bisa melampaui lebih jauh dari kesadaran,
Bahwa masih ada takdir yang masih menjadi rahasia
Bahwa ia bisa jadi hanya bagian dari perjalanan, hanya pesinggah, bukan teman yang akan menemani perjalanan

Akhirnya, kamu meninggalkannya tanpa aksara. Sama seperti dia yang dulu menghilang darimu tanpa aksara.

Ah, tapi bagaimana mungkin, sergahku. Jika tak pernah ada aksara itu diantara kalian,

“Maka takdir dia untukku tak pernah ada.” Sahutnya lemah.

 

 

 

 

Bekasi

01.23

02/09/2017