Author: Catatan Sanguinis Koleris

Lulusan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Prodi Kesehatan Masyarakat peminatan Kesehatan Lingkungan

Simalakama

Dan gugus malam seakan menderu menyatu. Melenyapkan angin, mendiamkan suara.
Tak adakah yang lebih baik dari waktu?

Berhenti pada saat ini. Jangan esok. 

Ada sedih dan penyesalan yang kan diambil setelah esok.
Tak bisakah hari tak berlanjut?

Biar deru angin tak menyesali setiap detik.

Bekasi.

22.17 wib

Aku takut

Menangis

Saat dia menangis, aku baru tahu ada seseorang di hatinya. -Anonymous, 2016-

7 tahun lalu aku menemukan sosok kamu. Bukan sosok fisik kamu, tapi lewat tulisan tulisan tentang kamu. 
7 tahun berlalu, aku akhirnya bertemu dengan orang tuamu, dengan adikmu, dengan kakakmu, tapi tentu saja aku tak pernah bertemu kamu. Dan kuakui itu sebagai takdir untukku.

 7 tahun berlalu, aku membiarkan banyak hal tak kuketahui tentang kamu. Aku membiarkan banyak fase perjalanan tanpa tahu kabarmu, walau terkadang aku tahu seringkali orang orang masih menulis tentang kamu.
Hingga akhirnya, aku tahu dari musafir di perjalanan, kalau dalam fase hidupmu, kamu pernah menangisi seseorang. Dan yap, jelas sekali itu bukan aku. Tak sekali, kamu menangis dua kali karena seseorang itu. 
Sempat dalam hatiku mengetuk tanya tentang seseorang itu “siapakah? Seperti apakah?”

Tapi aku tahu, aku takkan pernah mampu untuk bertanya kepadamu. 

Dan aku tahu sesuatu hal, bahwa suara suara desau angin itu sudah ada alamat pemiliknya. 

Dan aku hanya bisa memandang kamu dari jauh seperti 7 tahun sebelumnya.
-Aku hanya ingin kamu hidup , jauh lebih tangguh di setiap kamu selesai menangis. Dan disaat itu suara angin dariku akan sampai ke kamu. –
Bekasi, 24-11-2016

Percakapan gurun kepada ilalang

Amanah

Amanah tidak pernah salah memilih siapa pengembannya.

-I, 2012-

Kalimat ini pertama kali saya dengar di sebuah acara regenerasi yang dilaksanakan oleh salah satu organisasi di tingkat fakultas. Sebuah kalimat yang kemudian saya sadari, bahwa kalimat itu hanyalah sebuah kalimat pembesar hati saja, sebuah kalimat -yang mungkin bisa ditulis dengan kasar- kebohongan.

Sebuah kalimat yang kemudian saya ucapkan pada banyak orang untuk menguatkan mereka yang kemudian terpilih untuk tanggung jawab besar lainnya.

Ah tapi saya risau, bagaimana mungkin ‘Amanah tidak pernah salah’, ketika birokrasi ini banyak dipegang oleh orang yang salah, ketika petinggi fakultas, universitas banyak dipegang oleh orang yang salah, bagaimana mungkin bisa ada kata “amanah tidak pernah salah”

Dahulu, saya pernah bermimpi kalau saya menempati posisi penting, maka saya dapat melakukan banyak hal, memperbaiki banyak hal. Tapi semua berubah ketika seseorang menyampaikan sesuatu kepada saya di sore itu “kamu seharusnya tidak menempati jabatan ini. Jabatan ini harusnya diisi dia bukan kamu.” Saya sempat berfikir andai saja yang berbicara itu adalah seseorang yang baru saja saya kenal, mungkin dengan mudah saya bisa mengabaikannya. Tapi beliau? Beliau adalah orang yang ketika engkau menyebutkan namanya maka seluruh warga kampus bisa jadi akan mengagumi sikap beliau.

Setelah hari itu, saya berbicara pada diri saya, “kamu takkan lagi menangis ken untuk amanah apapun. Karena bisa jadi amanah itu salah.” (Walaupun sampai sekarang masih tetap nangis juga) Hingga ketika amanah itu tiba tiba “terpikul”, saya bertanya dalam diri saya ” akankah saya menjadi sebuah hadiah atau jangan jangan kepemimpinan saya menjadi sebuah ujian bagi mereka? Diberikan dengan kelembutan kah atau jangan jangan dengan kemurkaan Tuhan?”

Terkadang saya ingat sekali bagaimana sedihnya ketika sebuah amanah penting teremban dalam pundak, menjadi tanggung jawab yang dipikul dalam masa yang ditentukan. Ketika kalimat itu kemudian menyadarkan saya bahwa, siapapun dia yang kemudian terpilih, harus siap kerja sendiri, harus siap menangis sendiri, harus siap untuk bergerak lebih, siap menerima prasangka, siap harus mengeja nafas lebih berat.

Lalu sesuatu menampar saya; bagian dari suara hati saya yang lain. Dia bilang “kamu bukan “rangga” ken, yang lama hilang sampai 10 purnama terus muncul dan merasa innocence. Kamu bukan dia. Kamu bisa jauh lebih baik dari dia.”

Bekasi, 01-11-2016

22.25 wib

Sometimes It feels too hard, when nobody walk beside you. But the show must goes on

Sendiri (Terkadang) Mendewasakan

Kadang, kita hanya punya sedikit waktu untuk menyendiri, untuk memahami bahwa selama ini ada yang lupa disyukuri : bersama sama yang lain

Bismillah,

Apa yang paling menyedihkan ketika masa masa kanak?

Yap benar. Tidak punya teman. Tak ada yang lebih buruk ketika masa kecilmu hanya diisi dengan kesepian. Mungkin seperti itulah yang arda saat itu rasakan.

Kisah dimana dia akhirnya memutuskan banyak hal untuk melupakan kisahnya selama di pendidikan dasar. Kisah yang membuatnya harus mengingat banyak hal yang tak mengenakkan ketika bertemu dengan seseorang di masa lalunya..

Tapi dari sana Arda belajar, untuk mendewasakan diri dan tak bergantung kepada orang lain. Yap, ia mendewasa disaat anak sebayanya masih sering main gasing, ia mempersiapkan diri ketika temannya masih sibuk meminjam alat tulis dan alat main. Dia mempersiapkan banyak hal.

Waktu kemudian berganti, dan Arda sudah mulai mendewasa secara fisik sebagaimana teman temannya yang lain. Dia saat ini sudah memiliki teman, sangat banyak dan jauh berbeda dengan teman temannya di masa pendidikan dasar dulu. Tapi kadang keinginannya untuk melakukan perjalanannya sendiri, mengemas mimpinya sendiri muncul sangat kuat. Sampai seringkali Arda berfikir bahwa di hidupnya tak ada yang lebih baik kecuali menikmati kesendirian.
Keinginan kesendirian yang akhirnya membuat Arda mengepack tasnya, mengencangkan sandal gunungnya dan menguatkan doanya untuk melakukan perjalanan. Saat pergi ia memutuskan untuk memilih rute yang terlihat memusingkan tapi ia akan banyak belajar darisana. Rute pasar, tempat adat, lapangan luas, perairan, atau mungkin kebun kebun yang melimpah di sepanjang jalan adalah salah satu point pengambilan rutenya walaupun ia tahu perjalanan ini akan memakan waktu yang lebih lama dan juga lebih berisiko untuknya.

Ia selalu menikmati masa sendirinya; bertemu dengan orang yang tidak dikenal, menjadi newbie dalam banyak hal, lebih banyak mendengar, atau hanya sekedar mempunyai kesempatan untuk iseng berbagi sapa. Perjalanan juga menjernihkan Arda dari banyak hal; mencari solusi dalam keadaan lapang, sambil memikirkan life plan kehidupannya yang kadang berjalan tak sesuai harapan.

Hingga suatu hari, ketika ia sedang menulis dalam buku perjalanannya 

Adakah hal lain yang belum aku syukuri?

Cukup lama sepertinya untuk memikirkan apa yang belum ia syukuri sambil menunggu kereta datang.

Ada. Sergahnya

Kebersamaan.

“Betapa baiknya Tuhan telah mengirimkan saya ke tempat dimana akhirnya saya bisa mendewasakan diri tidak dalam kesendirian. Tuhan telah menempatkan saya untuk mengecap keindahan kebersamaan hingga sekarang. Dengan orang baik, dengan orang yang senantiasa menginspirasi. Dengan warna warna yang beragam, dan saya diizinkan untuk menikmati setiap warnanya. Membuat saya tak pernah diizinkan untuk menangis sendiri dan terjatuh sendiri. Sekalipun kebersamaan kadang terasa menyakitkan, Tuhan memberi waktu antara saya dan mereka untuk saling introspeksi dan membersihkan hati. Alhamdulillah ‘alaa kulli hal..”

Kereta akhirnya tiba , menjemput Arda dengan segala kenangan untuk disyukuri, dan Arda tahu seluruh kenangannya takkan mungkin terjadi jika ia dulu tidak dijauhi, tidak dibiarkan sendiri.

Dan Arda kemudian pergi, karena tahu perjalanannya belum berhenti.
Sendiri (kadang) mendewasakan diri

Bekasi,24 September 2016

00.07 wib

 


Cinta (tak selalu) dalam Aksara

Kau tidak bisa mengatakan cinta tanpa mau menerima komitmen, tanpa sanggup bertanggung jawab.”

-Anonymous-

Waktu saya remaja, ketika saya akhirnya memiliki teman, saya bilang ke beliau

“Keluargaku enggak seperti keluarga kamu, yang bisa bilang sayang, cinta. Kalau di keluarga aku, mamah memasak ya karena memang kewajiban, ayahku nyari uang karena kewajiban. Udah, hubungan dikeluarga aku itu semuanya kayak hak dan kewajiban. Jadi kamu tahu kan, enggak mungkin diantara kami saling berterima kasih, terus bilang sayang dkk.”

“haha. kenapa gitu?” tanyanya sambil diselingi tawa kecil.

“tabu aja. haha” jawabku

dan akhirnya pembicaraan kami berakhir dengan tawa seperti biasanya.

Ketika dirumah tak kudapati seorang ibu yang akan memeluk anaknya, menanyakan kesehariannya, atau seorang ayah yang akan mendengar celotehan anaknya. Sempat protes waktu itu, dan seperti biasa hanya dijawab dengan tawa saja.

Hingga akhirnya saat saya mulai mendewasa, saya akhirnya memahami bahwa definisi cinta adalah lebih dari sekedar mengatakan “Aku sayang” atau “Aku Cinta.” lebih dari sekedar aksara yang mampu dituliskan oleh pena.

Karena cinta adalah bentuk dari komitmen, penugasan tanggung jawab, penjagaan terhadap satu sama lain dan hal ini tak mampu jika dirangkai hanya dengan aksara. Ibu ku memasak, dan melakukan aktifitas rumah tangga lainnyanya adalah tanda ia menunjukkan cintanya, lebih dari sekedar aksara. Ayah yang kemudian mencari nafkah, adalah bentuk tanggung jawab dan rasa cintanya pada keluarga, lebih dari sekedar aksara. Tak semua orang mampu menunjukkan bentuk cintanya dalam aksara. Yang ia tahu cinta adalah kerja nyata untuk membahagiakan seseorang atau keluarga.

Hanya saja kadang, kita masih terus menanyakan kepastian, apakah cinta itu ada. dan akhirnya saya paham, kadang kita tak perlu menemukan kata cinta dalam sebuah aksara, setiap orang memiliki caranya dalam mencintai. Cukup rasakan dan syukuri :’)

karena cinta (tak selalu) dalam aksara..

Bekasi, 31 Agustus 2016

Welcome Back September :’)

Melepaskan

Bismillah,

“Lepaskan saja” begitu sahutnya dengan jutek dalam suatu waktu.
Dulu, saya tak begitu memahaminya. Karena bagi saya mimpi saya, angan saya adalah milik saya, ikhtiar yang harus terus diperjuangkan tak peduli apapun kondisinya.

Sama seperti saat saya kecil, saya hanya akan melepaskan ketika saya telah “mendapatkan” hal lain yang lebih menarik dan saya sukai. 
Hingga akhirnya ketika dewasa saya sadar, paradigma itu kurang tepat agaknya. Karena ternyata saya harus melepaskan banyak hal untuk kemudian mendapatkan suatu hal. Kadang, ketika saya telah “mendapatkan” hal tersebut, ternyata itu bukan hal yang akan menarik perhatian saya, atau tak pernah saya harapkan sebelumnya. 
Tapi ada yang kemudian berbeda ketika saya telah melepaskan banyak hal yang saya sukai untuk “mendapatkan” hal yang (mungkin masih) saya kurang sukai. Syukur dan Sabar. 

Saya menjadi banyak bersyukur karena saya harus semakin belajar banyak untuk bersabar, dan dengan kesabaran yang ada saya berkembang menjadi dewasa (walaupun sekarang masih jauh #eh)

Hingga kemudian Allah berikan apa apa yang telah saya lepaskan dengan ganti yang sangat jauh lebih baik, dari arah yang tak pernah saya duga. Dan datang ketika saya tak berambisi untuk mendapatkan.

:’)
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan.”

-Qs. Ar Rahmaan-

Bekasi,

07-08-2016

Menikah

Kita bisa jadi berbeda dalam hal karakter kita, tapi kita tidak boleh berbeda soal prinsip dan pengasuhan anak.

-Anonymous, 2016-

Bismillah, duh deg degan euy mau nulis begini (secara belum ada pengalaman) tapi berhubung pertanyaan “kapan ni**h?” mulai berbisik bisik di telinga saya, iseng nulis tentang ini  boleh lah ya..

Menikah, apa sih yang ada di benakmu ketika seseorang bertanya padamu tentang pernikahan? bertemu dengan pangeran berkuda putih dengan ketampanan maksimal, kecerdasan luar biasa, tindakan heroik dan sebagainya, atau seperti apa?

Atau ketika kamu mulai ditanya tanya orang orang sekelilingmu tentang menikah, apa yang mulai kamu bayangkan? seseorang yang kamu akan lihat setiap hari dari pagi hingga malam, seseorang yang mulai menjadi penanggung jawabmu atau apa?

Lalu ketika seseorang membahas tentang tujuannya menikah, lalu apa yang kamu pikirkan tentang tujuanmu menikah? memperbanyak keturunan kah?atau hanya sekedar menjaga diri dari fitnah atau apa?

aku pernah ditanya ketiganya , oleh beberapa orang dan jawabannya selalu ku jawab ” ketika seseorang memutuskan untuk tidak menikah gimana?” dan berbagai reaksi pun bermunculan. Ada yang tertawa atau ada yang mengeluarkan dalil dari perkataan ku itu. hehe

Menikah, bagiku bukan hanya perkara bagaimana memperoleh keturunan. Lebih dari itu, ia adalah penyatuan dua orang hebat yang kemudian dipersatukan dengan Tuhan untuk semakin menebarkan kontribusi positif ke masyarakat. Ke negara. Lebih dari sekedar membangun keluarga, kawan.Lebih dari itu, ada mimpi besar yang seharusnya dibangun setelah menikah, lebih dari sekedar memperbanyak keturunan.

Dan mimpi besar itulah yang masih ku susun kerangka nya

Jika kamu bertanya tentang apa yang kufikirkan tentang seseorang pangeran atau ratu yang akan mendampingiku kelak? Jawabanku simpel, kita boleh berbeda secara karakter, secara kebiasaan, tapi kita harus sepaham secara prinsip dan pola pengasuhan anak. Bisa kau bayangkan, kalau kau serumah dengan seseorang tampan/ cantik tapi dia tak paham pola pengasuhan anak nya dirumah. Atau dia adalah seorang yang mapan secara pekerjaannya, tapi setelah menikah kau bahkan hampir tak bisa keluar untuk  melakukan apa apa membangun masyarakat di rumah. Atau dia adalah orang yang sangat cerdas secara akademik tapi tak memiliki kematangan emosional, atau seseorang yang memiliki segalanya tapi untuk shalat di masjid saja enggan.

well, bagi saya menikah bukan perkara siapa yang cepat dan siapa yang lambat, tapi tentang menemukan yang tepat. Waktu memang penting, mengingat usia yang sudah semakin dewasa, tapi menemukan selalu membutuhkan waktu yang tepat bukan?

************************************************************************

Menjadi seorang suami/istri tidak mudah

Maka belajarlah, berilmu lah sebelum mengamalkannya 🙂

Kelak, jika kita telah menyiapkan semuanya

Tuhan akan mempertemukan dengan orang yang tepat

dan Kemudian setelah menikah bertambahlah keimanan keduanya, bertambahlah amal amal kebaikannya

dan Kemudian Tuhan berkahi kehidupan keduanya

dan terakhir menutup perbincangan random ini saya ingin mengisahkan kembali sebuah kisah yang pernah seorang ustadz sampaikan saat berada di Rumah Qur’an. Beliau bercerita seperti ini

“Dulu, ada seseorang pemuda yang bilang ke Murabbinya bahwa ia ingin menikah dikarenakan usianya yang telah matang, lalu Murabbinya bilang, “temuilah ustadz X dan sampikan maksud kedatanganmu padanya.” kemudian pemuda tersebut menghampiri ustadz X dan menyampaikan maksud kedatangannya.”Apa tujuanmu menikah?” kata ustadz itu, “menjaga pandangan dan kemaluan ustadz.”jawabnya. “Hanya itukah?” sahut ustadz tersebut, “pulanglah.

Dan begitulah cerita tersebut berulang, setiap si pemuda menyampaikan maksud kedatangannya, sang ustadz selalu menannyakan hal yang sama, dan selalu dijawab hal yang sama. 3 Bulan berlalu, karena kesal, sang pemuda mengadukan hal tersebut kepada guru ngajinya “ustadz, sepertinya ustadz X tak inginsaya menikah ustadz.” sahut pemuda itu. “kenapa akh?”kata guru ngajinya. dan pemuda itu menceritakan semua kejadian yang dialaminya kepada guru ngajinya.

Beberapa hari kemudian, guru ngaji tersebut mendatangi kediaman ustadz tersebut, “Akh, maaf saya dengar anda tak ingin menikahkan binaan saya dengan wanita di sini. benarkah?” kata guru ngajinya. sang ustadz pun tersenyum dan kemudian meluruskan “Jadi begini akh, demi Allah bukan begitu maksud ku. Seperti yang kita tahu, pemuda tersebut, merupakan salah satu pemuda militan dalam dakwah kita, takkah kau ingin mendengar sebuah mimpi yang lebih besar dalam pernikahannya dibandingkan hanya sekedar menjaga pandangan dan kemaluannya? Takkah ada keinginnan bahwa menikahnya adalah bagian untuk semakin menggiatkan diri dalam dakwahnya di masa depan? Luruskan niatnya dan kemudian datanglah lagi kepadaku.” begitu jawaban ustadz tersebut.

Sang guru ngaji datang ke kediaman pemuda tersebut dan menyampaikan hasil pembicaraannya kepada binaannya. Kemudian sang pemuda tersebut beristigfar dan memperbaiki dirinya sebelum bertemu ustadz tersebut. Tak beberapa lama setelah itu, pemuda tersebut dinikahkan oleh ustadz dengan salah satu perempuan yang dikenal shalihah, baik dan dapat membantu dakwahnya kedepan.

“saya senang ketika mendengar sahabat saya menikah, kenapa? karena saya yakin ketika dua orang hebat bertemu, maka akan ada energi positif ke depannya di masyarakat. dan semoga negara kita suatu saat dapat terisi orang orang baik yang menginspirasi banyak orang.wallahu’alam”

Jakarta, 16-Maret 2016

16.49 WIB

Kecewa

#RamadhanProject

Hal yang lebih menyeramkan selain hilangnya kepercayaan seseorang kepada kita, adalah ketika orang lain kecewa terhadap kita.’

.-Anonymous 2016-

Pernahkah sekali dalam hidup kamu merasa tak ingin berbicara kepada seseorang? pasti pernah bukan? tidak marah, hanya saja kamu enggan untuk memulai komunikasi apapun dengan seseorang.

 

Aku merasakannya, Sudah beberapa bulan terakhir agaknya saya merasakan hal seperti ini, tidak marah, bahkan tak ada perasaan berkecamuk apapun dalam diri saya. Hanya saja, saya enggan untuk memulai, saya enggan untuk berurusan apapun dengan seseorang. Bahkan dalam puncaknya adalah saya sama sekali tak merespon apapun berita yang sampai, terkait orang itu.

 

Salah?

Iya sangat salah, dan saya sangat faham kalau saya sudah bertindak terlalu jauh dalam hal ini. Tapi, kau tau? Ada sesuatu yang belum selesai dalam diris saya. Luka. Tak besar memang, tapi cukup dalam.

 

Dan biarkan saja semua ini seperti ini saja, seperti seseorang yang sempat mengenal, hanya kenal dan tak perlu tau apapun diantara kita.

 

 

Jakarta, 07 Juni 2016

 

Juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
– Sapardi Djokodamono, Hujan Bulan Juni-

Selamat datang di bulan Juni,

Selamat datang kembali

Selamat datang (lagi) kisah yang membuat seseorang tak mampu move up selama 11 tahun, menunggu di tempat yang sama pada tanggal dan waktu yang sama

Membuat seseorang menunggu orang yang sama tahun demi tahunnya,

Dibawah hujan,

Di derunya angin,

dan selamat datang bulan Juni

Jakarta,  Juni 2016

16.38