“Kartiniku”

Bagiku, dirimu adalah seorang Kartini yang memberi cahaya dan menjadi lampu dari segala perjalanan hidup saya.

-Anonymous, 2016-

Bismillah

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

-Qs. Al Ahqaf : 15-

Tulisan ini dibuka dengan salah satu ayat dalam Al Qur’an yang sangat saya suka dan selalu membuat saya berdebar ketika mengulangnya.

Kamu adalah Kartini dalam kehidupanku

Setiap hari sampai detik ini aku memanggilmu “mamah”

Ya.. Kartini itu adalah Mamahku

Wanita itu belum genap berusia 23 tahun saat melahirkanku. Cukup muda untuk mengandung anak kedua dalam kondisi suami yang saat itu berada di Jepang.

Kartini yang ku panggil mamah itu. Beliau melahirkanku dalam kondisi menderita sakit. Aku tak paham penyakitnya, sampai saat aku masih berusia 4/5 tahun mamahku dimasukkan ke rumah sakit dalam keadaan koma akibat penyakit yang telah lama dideritanya.

Kartini yang ku panggil mamah itu. Wanita itu yang setiap hari senantiasa membangunkan waktu pagiku, dan selalu ada untukku disaat aku pulang ke rumah. Aku tak pernah bertanya seperti apa mimpimu saat kau muda, tapi ketika aku melihat matamu, aku yakin engkau pasti seorang pemimpi ulung yang lebih hidup dibandingkan mataku.

Kartini yang ku panggil mamah itu. Seseorang yang selalu berjaga 24 jam ketika aku sakit, saat aku kecil dan hampir setiap awal caturwulan aku sakit, hingga saat ini; ketika aku sudah seharusnya dapat mengurus diriku sendiri. Kamu lah orang yang pertama selalu menjadi tempat ceritaku ketika sakitku kambuh, dan dalam waktu yang beberapa menit saja, ku tahu dirimu sudah meninggalkan rumah untuk membelikan obat atau menghubungi dokter. Dan aku selalu bersyukur untuk itu.

Kartini yang aku panggil mamah itu. Seseorang yang akan selalu menjadi orang pertama ketika aku menyukai seseorang, ketika SD hingga Dewasa (walaupun sekarang belum cerita lagi. hiks~), dan dirimu selalu memberikan kisah perjjalanan hidupmu yang selalu bisa kujadikan pelajaran. Dan aku selalu bersyukur untuk itu.

Kartiniku tak seperti Kartini yang lain. Berpendidikan tinggi, idola teman sekolah (walaupun untuk ini ratting kartiniku memang tak diragukan semasa mudanya), berpenampilan menarik, hobbi dandan. Kartiniku ini sederhana, berasal dari orang orang dengan latar belakang biasa saja, dari pendidikan yang hanya sampai SMA, tak pandai berdandan, dan aktif di beberapa tempat saat sekolahnya.

Aku memberinya gelar Kartini, karena aku belajar tentang makna  perempuan dalam dirinya, sebuah makna yang sampai saat ini aku masih belajar untuk memahaminya. Kartiniku selalu memberi pelajaran bahwa kehidupan sepenuhnya adalah tentang menerima. Menerima kenyataan tentang berbagai macam hal, walaupun hal ini merupakan hal yang tersulit dalam kehidupanku.

Aku selalu berontak dalam banyak hal, tapi Kartiniku tidak. Ia selalu bilang “Yaudahlah, jalani saja.” Kau tahu kartiniku, kita memiliki persamaan tentang menyembunyikan rasa dan mengalah (untuk hal ini tingkat mengalah beliau lebih dari tingkat atas yang pernah saya lihat dalam hidup). Tapi disaat yang sama kita sama sama tahu, bahwa kita bisa mengetahui perasaan seorang perempuan lewat raut wajah, perkataan dan sikapnya (untuk hal ini saya masih harus banyak belajar, karena saya selalu butuh “confirm” dari orang yang bersangkutan akibat ketidakpekaan saya yang tinggi juga).

Aku belajar bagaimana caramu untuk tetap sehat dengan mengonsumsi obat setiap harinya. Aku belajar bagaimana melihat kekurangan dan kelebihan seseorang sebagai penerimaan sama seperti dirimu memilih laki-laki yang sampai saat ini ku panggil papah. Aku belajar untuk hidup dengan mimpi karena aku suka saat mata dan dirimu bisa tersenyum bahagia atas apa yang telah aku lakukan.

Setiap dalam perjalanan saya pulang dari suatu perjalanan, saya selalu tertarik ketika melihat anak jalanan atau melihat interaksi antara ibu dan anaknya. Dan hal itu yang akhirnya membuat saya sadar, bahwa kamu lah yang menjadi salah satu inspirator dalam hidup saya. Dan aku sangat bersyukur atas hal itu.

Semoga Allah senantiasa memberikan usia panjang, selalu memberikan kesehatan, kebaikan dan Allah berkahi usia dan kehidupanmu Kartiniku. Selalu mencintaimu karena Allah.

Jika cinta itu adalah kata-kata yang dapat didengar oleh seluruh orang di seluruh dunia

Aku ingin menitipkan rasa cintaku pada angin,

pada laut

pada hutan

pada kerasnya aspal di jalan

dan pada Penciptaku

Agar seluruh dunia bahkan penduduk langit tahu

bahwa aku selalu mencintai dia

Bahkan ketika laut tak lagi pasang

Hutan telah habis karena ditebang

Angin telah lama tak berhembus

Aspal tak lagi mendengar

Tapi Tuhan tetap tahu

Bahwa aku tetap mencintai dia

-Anonymous, 2016-

Bekasi, 21 April 2016

23.46 wib

di sebuah tempat

di publish tanggal 22 April 2016

Aku dan Hafalan

“Gimana kabar hafalan kamu?

-D, 2016-

Jleb banget rasanya ditanya ini :’)

19 Januari 2016,

Sore ini saya mulai membaca japrian whatsapp yang belum sempat terbalas sejak hari sabtu kemarin (walaupun beberapa sudah ada yang saya balas terlebih dahulu)

“assalamualaikum niken”

“bagaimana kabarnya?”

“wa’alaikumussalam, alhamdulillah kak. kakak gimana?”

“alhamdulillah, gimana hafalanmu?”

” :’)”

pandangan saya (lagi-lagi) terlempar jauh. Menghafal; sebuah aktifitas yang sangat sangat dirindukan oleh saya beberapa bulan ini. Lalai sangat ya sepertinya :’

Dulu, kita selalu tertarget dengan juz yang harus kita baca, hafalan bertambah sekian halamannya, amalan sunnah dan sebagainya yang harus diselesaikan setiap harinya. Masalah pun selalu ada, tapi entah kenapa, rasanya ringan aja. Nangis dan tertekan mungkin pernah, tapi sepertinya semua selalu ada pemecahan dan kemudahan yang Allah berikan.

Dan semakin kesini saya semakin paham. Duh! iman saya yang kerontang sepertinya, amalan yang buruk dan hafalan yang tak kunjung bertambah. Malu banget rasanya ketika tersibukkan dengan agenda dunia yang tak kunjung habisnya.

Rindu sangat, ketika whatsapp masuk isinya hanya seperti ini “bagaimana kondisi imanmu hari ini?” atau just say “semoga Allah memudahkan.” atau “bagaimana kondisi hafalanmu.”

Kak, terima kasih ya isi wa nya :’

aku juga rindu kok duduk setoran setiap malam sama kakak :’

Doakan saja adikmu ini kak, semoga senantiasa Allah beri perlindungan

Mencintai kakak karena Allah, mencintai kakak di jalan Allah

Bekasi, 19 April 2016

23.44

masih di tempat yang sama

Kamu Kapan?

“Orang yang bersedih adalah orang yang senyumnya paling cerah, karena ia tak mau orang lain merasakan hal yang sama.”

-Anonim, seperti dikutip dalam film Hope-

Berapa kali ya dalam hidup saya ditanya “kamu kapan?” sama orang orang sekitar? hmm mungkin banyak tapi karena saya super asli enggak peka, saya jawab sekenanya “duluan gih, kalo gue duluan entar lu bingung mau gandeng siapa.”

Untuk saya yang sangat enggak peka dan error sempurna, mungkin pertanyaan ini biasa aja dan cenderung basa basi syalalalala. Tapi ternyata enggak untuk sebagian orang (atau bisa jadi mayoritas orang).

Jujur yak, dulu pas umur 21 tahun (ceritanya bawa bawa umur), saya iseng (sumpah ini kejadian yang cukup saya sesali sampai sekarang) nanya ke perempuan berusia 34 tahun. “Mba belum nikah? Kapan nikah?” dan saya lupa jawabannya apa, tapi jleb pisan lah ah. Dan parahnya adalah saya nanya di grup -_- kebayang kan kayak gimana perasaan doi.

Sejak saat itu saya enggak berani untuk nanya lagi ke siapapun secara langsung, kecuali saya deket banget dan udah saling terbuka sama orangnya (itu juga harus mikirin 3 hari dulu untuk tahu moodnya lagi bagus atau enggak. Sulit lah)

Oke balik lagi.

Buat yang sering nanyain, kamu kapan, nih ya, pernah ga sih dulu pas lagi ngerjain skripsi yang ga kunjung kelar terus ditanya sama adik kelas kamu cuma bisa jawab “doain aja” padahal dalam hati udah pingin ngomong “semoga lu juga ditanya gitu sama adek kelas entar dek #eh”

Padahal nih ya, yang nanya ini enggak tau kalau kita udah jungkir balik shalat tahajjud tiap malem, berangkat jam 5 pagi biar bisa sampai kampus jam 7, di PHP in sampe tengah malem, PP dan tiap hari nghirup polusi jalan, mimpi buruk skripsi tak kunjung usai, nangis dari mulai karena ga bisa nonton uttaran sampe nangis karena coretan tak kunjung usai, makan berantakan dari makan nasi sampai makan ranting yang ditemuin di jalan (eh ga gini amat yak. wkwk), dateng ke kampus cuma pakai kaos,cardigan sama kerudung langsung pakai supaya hemat waktu.

Nah sama kayak orang yang ditanya kapan nikah. Bagus bagus kalau emang udah ada calonnya, lah kalau masih searching, nunggu nunggu kode, mau bilang apa. udah kayak seminar proposal aja belom, udah ditanya kapan wisuda.

Kita enggak tau mungkin ya, dia udah shalat malem tiap hari, ibadah makin dirajinin,  ngerawat wajah, nyari keliling kesana kemari, mata udah sembab berkali kali akibat proses yang tak sesuai, orang tua udah berkali kali ngode nimang cucu (padahal anak tetangga masih banyak), baju udah cem syahrini supaya terlihat rapih dan menawan. Dan ujug ujug, cuma pakai salam, ketemu di kondangan kita nanya “kamu kapan?”

“doain aja ya.” begitu jawabannya. simpel ya, untung hatinya ga komat kamit denger pertanyaan kita (semoga. #eh)

Orang yang lagi ngerjain skripsi, yang sedang menunggu (kematian dan) jodohnya, yang lagi kesel ngeliat tv film utta*an enggak selesai selesai. Semuanya sama, enggak tau kapan. dan semuanya balik lagi ke Tuhan.

Tapi satu hal yang mereka tahu, skripsi pada akhirnya akan selesai, jodoh yang ditunggu akhirnya akan datang, kematian pun akan menghampiri, dan film utt**an akhirnya tamat :’)

Dalam suatu waktu, ketika saya sedang bersama beberapa orang yang lebih dewasa dari saya doi bilang “wah gue harus nikah cepet nih.”

“lho kenapa?” tanyaku

“temen temen kantor udah nanya in terus terusan.”

dan statement hampir serupa saya temukan pada beberapa kasus lainnya.

Well. Saya akui mungkin yang nanya niat nya baik, mau mencoba mengosongkan waktu, atau mungkin bantu mencarikan. tapi ya, kita yang nanya memang kudu kudu harus tau diri dan sikon kali ya. hehe

Cukup kok nanya “vroh (saya ga biasa manggil temen perempuan saya sis, jadi seringnya vroh), target kamu kapan aja?” kamu bakalaan tau apa yang dia prioritaskan selama 1 tahun atau 5 tahun misalnya. bisa jadi skripsi dkk itu bukan prioritas dia selama beberapa tahun ini.

 Bagus bagus kedepannya kalau kamu juga nasih solusi, bantu nyariin misalnya. hehe. Ya intinya, mendoakan itu wajib bagi setiap muslim, tapi bantu mereka menjaga perasaannya yuk, bantu mereka merasa nyaman pas di dekat kita. 🙂

dan lagi lagi,

semoga Allah memudahkan setiap langkah. 🙂

Bekasi, 19 April 2016

00.44

Seperti biasa disuatu tempat.

Jang Yeong Sil

“Dimata saya lelaki keren selain ayah, adalah seorang kriminolog dan seorang ilmuwan.”

-Anonymous, 2016-

“Ken lu suka film korea?”

Wait waiit. hehe

Saya suka (beberapa) film korea, khususnya kisah kisah tentang drama kolosal. Kalau ditanya alasannya kenapa, hmm kayaknya karena setiap orang keliatan lebih cool dan charismatic aja, yang perempuannya kelihatan anggun dan sopan. hehe. Kalau film korea selain itu, biasanya tentang detective atau tentang pekerjaan kayak misaeng (untuk yang genre cinta cintaan saya kurang interest sih. wkwkwk). oke lanjut ya, hari ini niat banget bahas film Jang Yeong Sil yang baru saja selesai saya tonton (dan selesai tayang di korea) beberapa pekan lalu.

Jang Yeong Sil (diperankan oleh Song Il Kook) adalah seorang ilmuwan yang berasal dari kalangan budak. Pada era dinasti Joseon, budak tidak memiliki hak sebagaimana kaum bangsawan dan istana, seperti pendidikan, hak untuk diperlakukan layak, dan sebagainya. Jang Yeong Sil merupakan anak dari kaum terpelajar (scholar) dan seorang pembantu di istana. Masa kecil Jang Yeong Sil diisi dengan membaca sastra, mengamati bintang dan juga ia senang sekali memahat. Pahatan kayunya keren banget lah, bahkan ia pernah membuat binatang binatang untuk memudahkan pembacaan jam di istana (beneran masa kecilnya keren abis).

Waktu terus berjalan, akhirnya ia tumbuh dewasa, ibunya sudah wafat karena sesuatu hal (nah ini kudu nonton langsung lah), sampai akhirnya ia merencanakan kabur dari Joseon untuk pindah ke Ming, perencanaannya sempurna., tapi apa daya, Lee Chun (yang diperankan oleh Kim Do Hyun) selaku teman ayahnya Jang Yeong Sil berhasil menggagalkan Jang Yeong Sil untuk melarikan diri.

Jang Yeong Sil, tumbuh bersama dengan temannya Suk-Koo (yang diperankan oleh Kang Sung Jin). Persahabatan mereka berdua itu keren banget lah, dan bertambah kuat bareng sama Lee Chun. Sweet banget mereka bertiga, dan selalu membuat penonton (saya maksudnya) terkesima; nangis dan ketawa berulang kali.

Setiap episode dalam film ini pasti ada konflik didalamnya,  tapi keren banget sih memang pemikiran Jang Yeong Sil, dari mulai pemikiran tentang bagaimana menggerakkan jam dengan bantuan air, membaca bintang utara, menentukan musim panen dan tanam lewat pergerakan matahari, penentuan gerhana, menghidupkan kembali Astronomical Clock World yang sudah mati selama 300 tahun di dinasti Ming.

Kisah percintaannya juga ada, tapi elegan bangeet, sama Putri Soo Hyun (karena beda strata apa ya), dua duanya malu malu dan finally enggak pernah saling ngungkapin sukanya sampai tua.

Hikmah yang saya tangkap dari film ini antara lain ; setiap orang yang mau melakukan perubahan;sekecil apapun pasti akan ada pertentangan, dan pertentangan itu selalu sebanding sama perubahan yang akan dilakukan, jadi siap siap aja kalau kamu mau melakukan perubahan, pasti bakalan ada pertentangan. Darimanapun.

Hikmah selanjutnya, Orang tua kita baik ayah maupun ibu, punya cara pengorbanan masing-masing untuk anaknya. Walaupun, kadang kadang kita sebagai anak enggak bisa mahamin itu di masa anak-anak, tapi percaya aja kita akan paham suatu saat.

Hikmah yang ketiga (cielah banyak amat hikmahnya udah kayak film H*****h #eh),  asik banget kalau kita memakai sudut pandang lain dalam setiap kehidupan kita, karena bisa jadi kita bisa menemukan inspirasi dari hal-hal yang meenurut orang lain biasa. Find yourself!

Hikmah yang keempat, setiap masa selalu ada pengorbanan. Integritas kita mungkin saja berubah, tapi pada akhirnya kita harus tetap bertahan sama apa yang kita anggap benar, walaupun kematian. Kayak Hee Jae yang enggak mau science dimatikan sama kaum kaum Song Confucianism (yang mengakar bagi kaum terpelajar di era Joseon), dan memilih mengorbankan diri.

Hikmah yang kelima, bermanfaat untuk orang lain. Yap. Jang Yeong Sil dengan segala penemuannya, Raja Sejong dengan penemuan Alphabetnya, apalagi sih tujuan mereka kalau enggak untuk rakyatnya? Enggak ada. Mereka cuma mau, semua rakyat Joseon mendapatkan pengajaran dan kehidupan yang sama terlepas dari strata mereka. Keren banget laah.

Pokoknya ini film high recommended lah, bisa ditonton sama semua kalangan dari mulai bayi sampai orang tua (hahah. kalau debay nya udah bisa nonton ya. #eh), very educated. Kekurangan film ini , film ini masih disajikan dengan subtitle english, jadi kalau ditonton sama anak kecil harus siap buat ngejelasin panjang lebar episode ini maksudnya apa, dsb.

Sebenernya mau spoiler in film ini sampai abis, tapi saya paham banget, di dunia ini banyak banget orang kayak saya (anti spoiler maksudnya. hehe), jadi enaknya nonton sendiri, dan siapin diri banget dengan kisah kisah enggak terduga yang bakalan bikin kamu penasaran untuk terus nonton sampai selesai. Selamat Menonton, dan jangan lupa !

 

Terus bermanfaat untuk orang lain ya 🙂

 

jang yeong sil 1

source : http://www.seriesded.com/korea/jang-yeong-sil/12805.html

ada si emesh Daehan Minguk Manse di ep 4

jang yeong sil 2

http://www.wowkeren.com/berita/tampil/00097329.html

beberapa adegan di Jang Yeong Sil

jang yeong sil 3

http://www.hancinema.net/hancinema-s-drama-review-jang-yeong-sil–drama-episode-1-90045.html

Hidayah

Karena kita takkan pernah tahu jalan hidup seseorang yang telah Tuhan gariskan untuknya, selama ia berusaha, selama ia mencoba untuk berubah dalam kebaikan maka jadilah lingkaran positif yang senantiasa membersamainya.

-Anonymous, 2016-

Bismillah

Pagi ini saya akan bercerita tentang seseorang, seseorang teman saya. Sebut saja namanya Tulip. Eits, tenang tenang, ini bukan nama kosan deket kampus 2 UIN Jakarta, hehe. Aku memberikan nama tulip karena dia indah, seindah namanya.

Tulip, aku mengenalnya saat ia masih berada di SMA, seperti biasanya anak anak SMA yang hobby hangout kesana kemari, maka mungkin bisa ditebak seperti apa cara pakaiannya. Beliau memppunyai teman laki-laki yang cukup lama.

Kemudian, saat saya masuk kampus, kebetulan ia berada di jurusan yang sama dengan saya. Lama tak berkomunikasi, hingga akhirnya saya bertemu dengan beliau dalam sebuah sidang teman seangkatan.

“Ken, liat deh, si Tulip sekarang kerudungnya syar’i, doi bisa masuk LDK enggak sekarang? ahhaha” celetuk, Ami, temanku

“Ah kuper banget lu, doi SMA Rohis tau, parah nih parah Ami.” sahutku

“Eh lip, lu masih komunikasi sama si dia ga?” tanya Ami

“Masih. tapi ga sering. iyalah kan ga boleh.” jawab Tulip

“beeh tuh ken tuh ken.” kata Ami

“kamu udah putus lip (karena setahuku beliau sudah lebih dari 5 tahun pacaran)?” tanyaku penasaran.

“Iyalah ken, aku nunggu yang serius mau dateng ke rumah aja dan nemuin papahku.” Sahutnya

entah dalam hati saya ingin menangis rasanya, antara haru dan bahagia, akhirnya orang lain memutuskan jadi dirinya yang baru, atas kehendak Tuhannya yang kemudian ia cintai seluruh prosesnya. Sama sepertiku. Siapa sangka 8 tahun yang lalu, seorang wanita yang bergabung di futsal, basket dan pramuka;yang sering banget kena marah saat bimbel sekolah karena memakai kaos dan celana 7/8 serta sandal jepit; yang tidak pernah peduli dengan penampilan; yang selalu mencibir anak anak rohis smp;yang senang dengan trend anak laki-laki, kini menjadi 180 derajat kebalikannya.

Ah benar, hidayah. Kita tak pernah tahu kepada siapa Tuhan memberikan hidayah, dalam kejadian apa, hatta seburuk buruknya seseorang ketika Tuhan berkehendak, maka tak akan ada yang bisa menghentikannya walaupun sejenak.

Jadi ingat perkataan dulu guru saya ketika Gurunya menanyakannya pada waktu silam,

“Apa hadiah terbesar yang pernah Tuhan berikan kepadamu?”

“Hidayah. Karena Tuhan hanya memberikan kepada yang dikehendakiNya untuk menerima Hidayah.”

Semoga Tuhan senantiasa menjaga hidayah yang telah ada pada dirimu ya Tulip. semoga Tuhan tidak mencabutnya. Dan terima kasih telah menjadi salah satu guru kehidupan dalam hidup saya. Semoga senantiasa Tuhan kuatkan, Tuhan teguhkan. “:)

Bekasi, 07/03/2016

01.50 WIB

Perjalanan

“Kadang kamu harus pergi berjalan sendiri tanpa tahu arah untuk sekedar memastikan, bahwa hati kamu masih bisa dipercaya suaranya.”

-Anonymous, 2016-

Bulan ini, entah karena alasan apa, saya memiliki target untuk bisa menemukan jalan lain saat ke kampus, saat berangkat dan saat pulang. Dan alhamdulillah saya bisa menemukan beberapa jalur berangkat dan beberapa jalur pulang.

Perjalanan saya setiap berangkat selalui diawali dengan nyasar dan diakhiri dengan nyasar. Setiap saya bilang ke teman saya kalau saya berangkat 1 jam lebih cepat dari jadwal seharusnya, mereka hanya berkata “lagi kenapa sih ken?” dan saya hanya menjawab “ahahaha”

Entah, tapi saya sedang berusaha untuk mempercayai apa yang hendak hati saya sampaikan. Arah, kecepatan atau bahkan sekedar feeling tentang cuaca. Perjalanan saya selalu sampai entah dimana, tetiba ke harmoni, ke sudirman, bundaran HI, karet, semanggi, blok M, petukangan, Ciledug dan sebagainya. Dan saya sangat menyukai ketika saya harus tersasar, karena saya bisa melihat banyak tempat yang biasanya tak bisa saya lihat ketika malam.

Perjalanan mengajarkan saya juga tentang keberanian. Keberanian untuk mengambil keputusan dengan berbagai risiko yang mungkin belum saya pikirkan seberapa beratnya. Kemungkinan tersasar lebih jauh, ditilang polisi, nabrak, dorong motor sendirian, kelelahan, tapi setidaknya saya banyak belajar. 🙂

Dan seperti biasa ketika orang-orang hanya berkata “Kamu enggak capek apa ken, nyasar, pulang telat, kamu perempuan lho.” respon saya “ahhaha. tapi aku suka.”

Bekasi, 19-02-2016

12.40 Waktu Indonesia di luar planet

Hujan

Aku ingin jatuh sebagai hujan, yang jatuhnya membersihkan polusi di lingkungan

-Anonymous, 2016-

Betapa jatuh cintanya saya pada hujan

Membuat saya selalu membiarkan diri saya untuk berada di bawahnya

Membuat saya bermain lama dengan hawa dinginnya

Membuat saya melupakan kalau setiap kisah menyakitkan pernah ada di hidup saya

Hujan

Tak lupa mengajarkan saya tentang kehilangan

Hingga saya sadar,

Ketika waktu cerah

Saya hanya tinggal sendiri menanti pelangi di awan

Hujan juga

Pernah mengingatkan saya pada beberapa perjalanan hidup saya

Tentang kebahagiaan, kasih sayang

dan di sisi yang sama tentang kesedihan dan kemarahan

Tapi..

Hujan selalu mengajarkan saya tentang satu hal

Kalau, kau harus menjatuhkan diri untuk menyelamatkan kehidupan seseorang

Lalu, kau melupakan bahwa kau telah mengorbankan banyak hal untuk melakukan segalanya

Kemudian yang kau terima adalah sebuah kehampaan, sebuah cacian

dan kau harus menerima konsekuensi kejatuhan yang ada sebagai sebuah kepantasan,

tanpa pernah kita tahu

tanpa pernah kita paham “kenapa?”

Hujan,

 Terima kasih karena telah hadir,

Sekalipun engkau disalahkan atas basahnya kain yang menggantung di jemuran

Atau karena engkaulah ‘tersangka’ penyebab kebanjiran di tanah manusia

Tapi aku bersyukur karena kamu ada..

Bekasi, 17/02/2016

00.10 WIB

Menanti hujan dengan segala sabar

#Random #Error #Abaikan

Fleksibel dalam Memilih

Hidup kita tak pernah berbicara tentang kesempurnaaan, Hidup adalah tentang penerimaan, dan bagaimana dengan kekurangan yang ada kita memaksimalkan potensi yang masih bisa dimaksimalkan

-Anonymous, 2016-

Bismillah

Tulisan ini sebenarnya dibuat saat saya sedang “main” di sekolah tadi.

x : “Gue harus bisa masuk XXX”

y : ” Gue udah istikharah kemaren, terus gue dapet mimpi, gue masuk kesana. Kedinasan XXXX.”

x: ” Terus gimana jadinya lo?”

y : “Ya gue yakin sejak gue dapet mimpi itu gue bakalan bisa masuk situ.”

x : “gimana sih caranya shalat istikharah?”

y : ” Ya elo minta sama Allah, ‘Yaa Allah saya mau masuk kesini.’ gue gitu doanya, terus gue dapet mimpi.”

x : “Oh gitu.”

z : “X, Y udah shalat belum lu? ngomongin kuliahan mulu.”

Percakapan ini saya ambil ketika saya baru selesai shalat ashar di sekolah. Saat itu saya masih menunggu dedek dedek saya yang baru selesai pulang sekolah. Sambil menunggu, saya merenungi kembali jejak jejak kehidupan yang pernah saya lalui sebelumnya.

Sempurna.

Saat ini saya mendefinisikan sempurna adalah “sesuatu yang saya harapkan/inginkan.”

Siapa sih yang enggak mau mendapatkan sesuatu yang sempurna? Keluarga misalnya, dilahirkan dari keluarga yang sempurna? Sekolah di sekolah ternama? Kampus ternama? kemudian melanjutkan kuliah setinggi tingginya? mendapatkan pangeran yang sesuai dengan yang kita harapkan? melalui kehidupan sesuai dengan persepsi yang di andaikan? mempunyai teman yang sempurna? mempunyai saudara yang sempurna? atau bahkan meninggal dengan cara yang sempurna (gimana dah tuh. wkwk)

sayang, selama ini kita menilai kesempurnaan itu dengan sesuatu yang dapat diukur oleh kapasitas diri kita. sungguh sangat disayangkan.

Karena, kita bisa salah dalam mengukur kesempurnaan dalam segala sesuatu hal tapi Tuhan tidak.

Bisa jadi keluarga yang ada saat ini adalah keluarga yang sempurna yang diberikan Tuhan untuk memperbaiki diri kita. Menjadi sarana bagi kita untuk belajar, dan belajar setiap harinya.

Bisa jadi Tuhan mendidik kita untuk masuk ke sekolah biasa agar kita belajar, agar diri berkembang.

Ketika memilih sekolah, saya tidak pernah diberikan kebebasan memilih. wkwkwk, bahkan ketika kuliah, ketika sudah diterima di kampus lain, saya berubah pikiran hanya dengan satu “sms” dan penjelasan seseorang melalui telfon.

Selama SMA, saat saya selalu istikharah untuk meminta kemantapan hati dari Allah, hampir setiap tidur saya selalu memimpikan kampus XXX yang saya incar lah yang akan menjadi milik saya. Qadarullah, justru UIN, yang tak pernah terlintas dalam fikiran saya (yang akhirnya saya ikut test karena permintaan 3 orang. wkwkw) menjadi tempat dimana saya menimba ilmu setelah SMA.

Dulu, saat saya masuk ke universitas, masih ada perasaan perasaan “keterkejutan” dengan kondisi yang ada, saya pernah bilang ke “guru” saya “Bu, apa baiknya aku cari tempat kuliah lain aja ya?” dan beliau dengan bahasanya yang ceria berkata “Udeh, ga usah pindah pindah, pan enak deket sama sekolah sama sekolah sama kampus, bisa kemana mana. Siapa tau, nih ya, siapa tau, Allah nempatin kamu disana karena ada alasan yang memang belum bisa niken pahamin untuk sekarang.” Dan tadaa, alhamdulillah, setelah beberapa tahun lamanya, akhirnya saya paham (mungkin) kenapa Allah menempatkan saya disini.

Terkait sahabat, saya ingat perkataan salah seorang pemain stand up comedy “Raditya Dika”. Beliau bilang “Tipe manusia itu ada tiga jenis, yang pertama cantik/ganteng, yang kedua cerdas, yang ketiga waras. Sayangnya, biasanya elu ketemu sama orang yang punya 2 tipe aja.

Jadi setiap berkenalan dengan seseorang, bagi saya yang penting adalah dia cerdas dan waras. tapi qadarullah, saya dipertemukan dengan orang orang yang cantik/ganteng dan cerdas, tapi kelakuannya….. (wkwkwkwk) (bercanda bercanda, tapi serius)

Jadi akhirnya saya berfikir, kenapa saya dipertemukan dengan sahabat sahabat seperti itu, karena mungkin saya tak punya ketiganya. Dan dari ketiganya lah saya belajar.

Terkait pasangan kita skip lah ya, bukan dalam kapasitas saya bahas ini euy. tapi bagi saya yang akan saya lihat pertama kali ketika melihat “Seseorang” adalah agamanya (ngaji, shalat, tilawah, dan amanah). Baru deh liat yang lain. #eh

Belajar sempurna itu, bukan berarti kita harus mencari segala sesuatu hal yang kita idam idamkan untuk kita. Bisa jadi Kampus, sekolah, lingkungan, dan hal lainnya. Tapi kita juga harus fleksibel dalam memilih apa yang kita sebut dengan sempurna. Karena bisa jadi, saat kita menuntut sesuatu hal yang sempurna, kita takkan pernah bisa menyaingi atau menyamai hal-hal yang sudah lama kita idamkan itu.

Semua hal yang ada di dunia ini, tak ada yang sempurna. Kecuali Tuhan. Maka fleksibel saja dalam memilih. Hidup ini penuh dengan pilihan, Pilihan yang suka atau tidak suka akanmenjadi penentu untuk kehidupan kita selanjutnya. Tak pernah ada jaminan bahwa sesuatu yang sempurna pasti baik untuk kita, pun tak ada jaminan bahwa segala sesuatu yang tidak sempurna tidak baik untuk kita.

Finally, tadi sebenarnya ada sesuatu hal yang sangat ingin saya sampaikan ke dedek dedek shalihah tadi. Kalimat yang pernah saya sampaikan ke dedek dedek shalihah sebelum mereka meninggalkan sekolah tahun lalu, “Bisa jadi Allah memberikan jawaban dari shalat istikharah kita tidak dengan mimpi, tidak dengan pertanda, tapi kemantapan hati. Jadi enaknya teh, kalau doa mah di netralin dulu, siapa tau kampus XXXX yang kita idam idamkan sepenuh jiwa raga tak pernah jadi milik kita. Bukan tak pernah jadi milik sih, tapi Allah melihat kita mempunyai potensi lebih dibanding sekedar masuk kampus itu. Jadi tetaplah husnudzan dengan semua ketetapan Allah. Walaupun, akal sehat kita kadang masih bertanya ‘kenapa?’, kita akan tau jawabannya kok, tapi ada waktunya. Jadi fokus aja dulu ke sekolah dan persiapan testnya.

Kalau nanti, disuruh papah mamah milih, pilih yang paling sedikit keburukannya, pilihlah dimana kita bisa beradaptasi dengan baik dalam kekurangan yang ada, karena bisa jadi Tuhan sedang membentuk kita, membina kita dengan sebaik baik cara yang tidak pernah kita duga.”

Maka bersabarlah dengan kesabaran yang baik.”-QS. Al Ma’arij :5- 

Dan saat kamu bersyukur dengan apa yang telah Allah berikan dalam kehidupan kita, kamu akan sadar, kalau inilah hidup kita yang sempurna. :’) 🙂

Bekasi, 12- 02 – 2016

Belajar dari Saitama

Bismillah

Belajar dari Saitama? Siapa itu Saitama? kenapa bukan belajar dari Udin? Dodo? Dino? atau siapa?

wait..wait.. Kenapa harus Saitama? Karena Saitama adalah tokoh utama di film One Punch Man yang baru saja saya selesai tonton 12 episodenya. Sebuah film anime yang cukup menarik, atas rekomendasi dari salah seorang teman saya. Mungkin kalau namanya Udin, Dodo, atau Dino, judulnya akan mengikuti nama mungkin ya. hehe

Setelah 12 episode menonton film One Punch Man, sebuah film anime action saya mempelajari beberapa hal pokok yang saya dapatkan dari Saitama (mengesampingkan beberapa adegan yang menurut teman saya terlalu terbuka (dan menurut saya dewasa -_-“) )

  1. Niat yang kuat. Apa sih yang bikin Saitama akhirnya punya kekuatan yang super duper keren? Niat awalnya dia jadi hero hanya gara gara sehabis dia menolong anak kecil yang hampir dibunuh sama monster. Setelah itu ia memiliki niat untuk menjadi hero.
  2. Membuat list kegiatan dan kemudian menjalankannya.  Dalam sebuah episode, beliau ditanya oleh musuhnya “Apa yang membuat kamu menjadi sehebat ini Saitama?” jawabannya simpel “Setiap hari selama 3 tahun aku push up 100x, sit up 100x dan …(apaa gitu) 100x ditambah dengan lari 10 km.”  apakah yang lain percaya dengan jawabannya? tidak. hatta, “murid” nya pun tidak percaya. Kemudian ia melanjutkan “Di fase fase awal kamu akan merasa seperti ingin mati dengan jadwal yang ada (mulai lari jam 06.00 – sore),tapi lama kelamaan kamu akan tahu bahwa latihan ini diluar normal, dan kamu akan kehilangan rambut, seperti yang aku alami sekarang.” tuh kan, konsistensi untuk mencapai sesuatu memang harus banget dilakukan, walaupun lelah, hingga rasanya ingin meninggalkan.
  3. Strata (Kelas) itu enggak penting, yang penting kontribusi. Coba deh nonton sampai episode 12 nya, dia itu siapa sih? cuma dianggep anak kelas C awalnya yang kemudian naik ke kelas B. Muka datar, seenaknya aja sikapnya. Tapi lihat kontribusinya? waaw banget, ngelakuin semuanya dalam sekali tinju (kecuali episode 12 ya)
  4. Siap banget untuk enggak dikenal. Sedih banget enggak sih, kalau kamu melakukan banyak hal tapi malah di bully dan dituduh cheat sama lingkungan sekitar. Sedih banget pastinya, dan itulah yang dirasakan sama Saitama. Setiap dia ngelawan musuh, bukannya disambut bak hero malah dimaki-maki. Tapi ada yang saya suka dalam pemikirannya, beliau memilih untuk menjadikan dirinya buruk sesuai anggapan lingkungan dan tak pernah peduli apakah habis menyelesaikan kasus ini saya akan terkenal atau tidak (walaupun ada dalam salah satu episode dia ngarepin ada kotak surat fans buat dia. hehe)
  5. To the Point. Nah ini sifatnya yang kece banget lah. dari awal dia enggak suka banget namanya cerita panjang dan alur yang bertele tele. Jadi dia selalu memint untuk musuhnya menyampaikan dalam jumlah kurang dari 20 kata.

Nah itu lah yang saya pelajari dari film ini. Lucu banget laah, tapi karena saya nonton dalam subtle english mungkin jadinya biasa aja lah ya, hehe (lucunya normal aja enggak pakai banget). nanti kalau ada versi indonesia nya mungkin saya tertarik untuk menonton lagi.

 

 

 

 

Bekasi, 10-02-2016

09.21 AM