Aksara

Kamu dan dia, pernah dalam suatu masa yang sama
Berdiri berhadapan, kemudian merasa ada yang berbeda
Tapi saat itu, semuanya menyadari, bahwa tak ada yang mengenal diantara mereka
Kemudian mereka sama sama melanjutkan perjalanan

Waktu demi waktu membawa mereka pada konspirasi langit untuk bertemu di masa saat ini
Bukan hanya saling mengenal, tapi saling menyapa, tanpa pernah tau kalau ada rasa yang tumbuh diantara mereka, ah tapi sepertinya bukan mereka, hanya kamu.
Dan kemudian waktu membawa mu dalam permainan takdir, permainan perjalanan yang kadang membuat mu semakin tak mengerti
Perjalanan yang semakin membuatmu berfkir dalam dalam, bahwa ada aksara yang tak bisa sampai, bisa jadi memang belum bisa disampaikan atau memang takkan mungkin disampaikan.

Pertanyaan itu membuatmu mengambil satu keputusan, bahwa hati kadang tak bisa melampaui lebih jauh dari kesadaran,
Bahwa masih ada takdir yang masih menjadi rahasia
Bahwa ia bisa jadi hanya bagian dari perjalanan, hanya pesinggah, bukan teman yang akan menemani perjalanan

Akhirnya, kamu meninggalkannya tanpa aksara. Sama seperti dia yang dulu menghilang darimu tanpa aksara.

Ah, tapi bagaimana mungkin, sergahku. Jika tak pernah ada aksara itu diantara kalian,

“Maka takdir dia untukku tak pernah ada.” Sahutnya lemah.

 

 

 

 

Bekasi

01.23

02/09/2017

Advertisements

Simalakama

Dan gugus malam seakan menderu menyatu. Melenyapkan angin, mendiamkan suara.
Tak adakah yang lebih baik dari waktu?

Berhenti pada saat ini. Jangan esok. 

Ada sedih dan penyesalan yang kan diambil setelah esok.
Tak bisakah hari tak berlanjut?

Biar deru angin tak menyesali setiap detik.

Bekasi.

22.17 wib

Aku takut

Menangis

Saat dia menangis, aku baru tahu ada seseorang di hatinya. -Anonymous, 2016-

7 tahun lalu aku menemukan sosok kamu. Bukan sosok fisik kamu, tapi lewat tulisan tulisan tentang kamu. 
7 tahun berlalu, aku akhirnya bertemu dengan orang tuamu, dengan adikmu, dengan kakakmu, tapi tentu saja aku tak pernah bertemu kamu. Dan kuakui itu sebagai takdir untukku.

 7 tahun berlalu, aku membiarkan banyak hal tak kuketahui tentang kamu. Aku membiarkan banyak fase perjalanan tanpa tahu kabarmu, walau terkadang aku tahu seringkali orang orang masih menulis tentang kamu.
Hingga akhirnya, aku tahu dari musafir di perjalanan, kalau dalam fase hidupmu, kamu pernah menangisi seseorang. Dan yap, jelas sekali itu bukan aku. Tak sekali, kamu menangis dua kali karena seseorang itu. 
Sempat dalam hatiku mengetuk tanya tentang seseorang itu “siapakah? Seperti apakah?”

Tapi aku tahu, aku takkan pernah mampu untuk bertanya kepadamu. 

Dan aku tahu sesuatu hal, bahwa suara suara desau angin itu sudah ada alamat pemiliknya. 

Dan aku hanya bisa memandang kamu dari jauh seperti 7 tahun sebelumnya.
-Aku hanya ingin kamu hidup , jauh lebih tangguh di setiap kamu selesai menangis. Dan disaat itu suara angin dariku akan sampai ke kamu. –
Bekasi, 24-11-2016

Percakapan gurun kepada ilalang

Amanah

Amanah tidak pernah salah memilih siapa pengembannya.

-I, 2012-

Kalimat ini pertama kali saya dengar di sebuah acara regenerasi yang dilaksanakan oleh salah satu organisasi di tingkat fakultas. Sebuah kalimat yang kemudian saya sadari, bahwa kalimat itu hanyalah sebuah kalimat pembesar hati saja, sebuah kalimat -yang mungkin bisa ditulis dengan kasar- kebohongan.

Sebuah kalimat yang kemudian saya ucapkan pada banyak orang untuk menguatkan mereka yang kemudian terpilih untuk tanggung jawab besar lainnya.

Ah tapi saya risau, bagaimana mungkin ‘Amanah tidak pernah salah’, ketika birokrasi ini banyak dipegang oleh orang yang salah, ketika petinggi fakultas, universitas banyak dipegang oleh orang yang salah, bagaimana mungkin bisa ada kata “amanah tidak pernah salah”

Dahulu, saya pernah bermimpi kalau saya menempati posisi penting, maka saya dapat melakukan banyak hal, memperbaiki banyak hal. Tapi semua berubah ketika seseorang menyampaikan sesuatu kepada saya di sore itu “kamu seharusnya tidak menempati jabatan ini. Jabatan ini harusnya diisi dia bukan kamu.” Saya sempat berfikir andai saja yang berbicara itu adalah seseorang yang baru saja saya kenal, mungkin dengan mudah saya bisa mengabaikannya. Tapi beliau? Beliau adalah orang yang ketika engkau menyebutkan namanya maka seluruh warga kampus bisa jadi akan mengagumi sikap beliau.

Setelah hari itu, saya berbicara pada diri saya, “kamu takkan lagi menangis ken untuk amanah apapun. Karena bisa jadi amanah itu salah.” (Walaupun sampai sekarang masih tetap nangis juga) Hingga ketika amanah itu tiba tiba “terpikul”, saya bertanya dalam diri saya ” akankah saya menjadi sebuah hadiah atau jangan jangan kepemimpinan saya menjadi sebuah ujian bagi mereka? Diberikan dengan kelembutan kah atau jangan jangan dengan kemurkaan Tuhan?”

Terkadang saya ingat sekali bagaimana sedihnya ketika sebuah amanah penting teremban dalam pundak, menjadi tanggung jawab yang dipikul dalam masa yang ditentukan. Ketika kalimat itu kemudian menyadarkan saya bahwa, siapapun dia yang kemudian terpilih, harus siap kerja sendiri, harus siap menangis sendiri, harus siap untuk bergerak lebih, siap menerima prasangka, siap harus mengeja nafas lebih berat.

Lalu sesuatu menampar saya; bagian dari suara hati saya yang lain. Dia bilang “kamu bukan “rangga” ken, yang lama hilang sampai 10 purnama terus muncul dan merasa innocence. Kamu bukan dia. Kamu bisa jauh lebih baik dari dia.”

Bekasi, 01-11-2016

22.25 wib

Sometimes It feels too hard, when nobody walk beside you. But the show must goes on

Sendiri (Terkadang) Mendewasakan

Kadang, kita hanya punya sedikit waktu untuk menyendiri, untuk memahami bahwa selama ini ada yang lupa disyukuri : bersama sama yang lain

Bismillah,

Apa yang paling menyedihkan ketika masa masa kanak?

Yap benar. Tidak punya teman. Tak ada yang lebih buruk ketika masa kecilmu hanya diisi dengan kesepian. Mungkin seperti itulah yang arda saat itu rasakan.

Kisah dimana dia akhirnya memutuskan banyak hal untuk melupakan kisahnya selama di pendidikan dasar. Kisah yang membuatnya harus mengingat banyak hal yang tak mengenakkan ketika bertemu dengan seseorang di masa lalunya..

Tapi dari sana Arda belajar, untuk mendewasakan diri dan tak bergantung kepada orang lain. Yap, ia mendewasa disaat anak sebayanya masih sering main gasing, ia mempersiapkan diri ketika temannya masih sibuk meminjam alat tulis dan alat main. Dia mempersiapkan banyak hal.

Waktu kemudian berganti, dan Arda sudah mulai mendewasa secara fisik sebagaimana teman temannya yang lain. Dia saat ini sudah memiliki teman, sangat banyak dan jauh berbeda dengan teman temannya di masa pendidikan dasar dulu. Tapi kadang keinginannya untuk melakukan perjalanannya sendiri, mengemas mimpinya sendiri muncul sangat kuat. Sampai seringkali Arda berfikir bahwa di hidupnya tak ada yang lebih baik kecuali menikmati kesendirian.
Keinginan kesendirian yang akhirnya membuat Arda mengepack tasnya, mengencangkan sandal gunungnya dan menguatkan doanya untuk melakukan perjalanan. Saat pergi ia memutuskan untuk memilih rute yang terlihat memusingkan tapi ia akan banyak belajar darisana. Rute pasar, tempat adat, lapangan luas, perairan, atau mungkin kebun kebun yang melimpah di sepanjang jalan adalah salah satu point pengambilan rutenya walaupun ia tahu perjalanan ini akan memakan waktu yang lebih lama dan juga lebih berisiko untuknya.

Ia selalu menikmati masa sendirinya; bertemu dengan orang yang tidak dikenal, menjadi newbie dalam banyak hal, lebih banyak mendengar, atau hanya sekedar mempunyai kesempatan untuk iseng berbagi sapa. Perjalanan juga menjernihkan Arda dari banyak hal; mencari solusi dalam keadaan lapang, sambil memikirkan life plan kehidupannya yang kadang berjalan tak sesuai harapan.

Hingga suatu hari, ketika ia sedang menulis dalam buku perjalanannya 

Adakah hal lain yang belum aku syukuri?

Cukup lama sepertinya untuk memikirkan apa yang belum ia syukuri sambil menunggu kereta datang.

Ada. Sergahnya

Kebersamaan.

“Betapa baiknya Tuhan telah mengirimkan saya ke tempat dimana akhirnya saya bisa mendewasakan diri tidak dalam kesendirian. Tuhan telah menempatkan saya untuk mengecap keindahan kebersamaan hingga sekarang. Dengan orang baik, dengan orang yang senantiasa menginspirasi. Dengan warna warna yang beragam, dan saya diizinkan untuk menikmati setiap warnanya. Membuat saya tak pernah diizinkan untuk menangis sendiri dan terjatuh sendiri. Sekalipun kebersamaan kadang terasa menyakitkan, Tuhan memberi waktu antara saya dan mereka untuk saling introspeksi dan membersihkan hati. Alhamdulillah ‘alaa kulli hal..”

Kereta akhirnya tiba , menjemput Arda dengan segala kenangan untuk disyukuri, dan Arda tahu seluruh kenangannya takkan mungkin terjadi jika ia dulu tidak dijauhi, tidak dibiarkan sendiri.

Dan Arda kemudian pergi, karena tahu perjalanannya belum berhenti.
Sendiri (kadang) mendewasakan diri

Bekasi,24 September 2016

00.07 wib

 


Cinta (tak selalu) dalam Aksara

Kau tidak bisa mengatakan cinta tanpa mau menerima komitmen, tanpa sanggup bertanggung jawab.”

-Anonymous-

Waktu saya remaja, ketika saya akhirnya memiliki teman, saya bilang ke beliau

“Keluargaku enggak seperti keluarga kamu, yang bisa bilang sayang, cinta. Kalau di keluarga aku, mamah memasak ya karena memang kewajiban, ayahku nyari uang karena kewajiban. Udah, hubungan dikeluarga aku itu semuanya kayak hak dan kewajiban. Jadi kamu tahu kan, enggak mungkin diantara kami saling berterima kasih, terus bilang sayang dkk.”

“haha. kenapa gitu?” tanyanya sambil diselingi tawa kecil.

“tabu aja. haha” jawabku

dan akhirnya pembicaraan kami berakhir dengan tawa seperti biasanya.

Ketika dirumah tak kudapati seorang ibu yang akan memeluk anaknya, menanyakan kesehariannya, atau seorang ayah yang akan mendengar celotehan anaknya. Sempat protes waktu itu, dan seperti biasa hanya dijawab dengan tawa saja.

Hingga akhirnya saat saya mulai mendewasa, saya akhirnya memahami bahwa definisi cinta adalah lebih dari sekedar mengatakan “Aku sayang” atau “Aku Cinta.” lebih dari sekedar aksara yang mampu dituliskan oleh pena.

Karena cinta adalah bentuk dari komitmen, penugasan tanggung jawab, penjagaan terhadap satu sama lain dan hal ini tak mampu jika dirangkai hanya dengan aksara. Ibu ku memasak, dan melakukan aktifitas rumah tangga lainnyanya adalah tanda ia menunjukkan cintanya, lebih dari sekedar aksara. Ayah yang kemudian mencari nafkah, adalah bentuk tanggung jawab dan rasa cintanya pada keluarga, lebih dari sekedar aksara. Tak semua orang mampu menunjukkan bentuk cintanya dalam aksara. Yang ia tahu cinta adalah kerja nyata untuk membahagiakan seseorang atau keluarga.

Hanya saja kadang, kita masih terus menanyakan kepastian, apakah cinta itu ada. dan akhirnya saya paham, kadang kita tak perlu menemukan kata cinta dalam sebuah aksara, setiap orang memiliki caranya dalam mencintai. Cukup rasakan dan syukuri :’)

karena cinta (tak selalu) dalam aksara..

Bekasi, 31 Agustus 2016

Welcome Back September :’)