Month: October 2014

Melihat

Apa yang ada di benakmu ketika mendengar kata “Melihat?”

Yang digambarkan adalah sebuah pemandangan, sebuah aktivitas dari mata kita yang akhirnya bisa sampai pada penglihatan kita

Lalu aku melihat jauh beberapa bulan terakhir

Benarkah penglihatan mata adalah utama?

 

Setelah beberapa bulan berjalan, ketika minus dan kebutuhan akan “mata bantuan” menjadi bertambah,  saya lebih suka untuk tidak menggunakan kacamata. Karena, saya percaya melihat dengan mata tak berarti kita dapat mengenal siapa sosok yang ada di depan kita.

Kita butuh melihat, tapi apakah yang kita butuhkan hanya mata?

Beberapa tahun silam, saya pernah diberikan sebuah video mengenai seorang anak kecil yang buta, namun menjadi seorang hafidz, seorang yang hebat untuk kacamata saya, matanya buta iya, tapi hatinya tidak. Bahkan Allah telah memberikan kepekaan lebiih kedalam hatinya hingga ia selesai menuntaskan Al Qur’an *Karena jujur, untuk menghafal kondisi hati lebih penting daripada sekedar fisik.”

 

Beberapa bulan silam, saya bertemu dengan seorang yang memiliki mata yang tajam, tapi di hatinya penuh kesakitan, penuh penyerangan, penuh kebencian terhadap saudaranya. Pikirannya hanya diambil berdasarkan apa yang ia lihat secara personal, dan bagiku ia tak lebih dari seorang yang buta. Buta Mata hatinya

Lalu seiring dengan waktu, saya meneruskan perjalanan untuk semakin banyak belajar.

Ketika berjalan, seringkali saya senang ketika tidak memakai kacamata, karena saya bisa berjalan tanpa harus tahu siapa orang yang akan saya temui di ujung kelas, yang saya lakukan hanya cukup berjalan, tanpa perlu memandang jelas

 

Ketika berbicara, saya tak perlu harus tahu siapa “lawan bicara” saya dengan mendetail, saya cukup tahu “kalau gaya nya kayak gini, oiya si A,B,C,” kecuali ketika ia mengajak saya berbicara dalam jarak 1-2 kepalan tangan, setelahnya, saya cukup tahu kalau saya sedang berbicara dengan orang-orang yang mempunyai ilmu dan pengalaman yang lebih banyak dan dosa yang lebih sedikit daripada saya 🙂

Sempat kecewa, karena saya harus memandang lekat-lekat ketika berusaha menghafal atau menatap mata kuliah yang sedang diajarkan dosen setiap harinya (dan akhirnya harus memakai “mata bantuan”)

Namun, seiring berjalan waktu, saya semakin percaya bahwa Rencana Allah itu memang indah, disaat kelemahan pun Allah menyisipkan kelebihan yang mungkin belum bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki mata “normal”

Ya dan Alhamdulillah, bagaimanapun kondisi saat ini, saya masih diberikan kesempatan untuk menikmati semua pemandangan yang ada

 

Ciputat, 30-10-2014

H-2 sebelum challenges of the month berakhir

H-2 sebelum BBM naik

Stalker

Ada yang diam –  diam mengikuti gerak langkah

sering melihat lewat gerak semu melalui rekam-rekam jejak cerita

Terkadang ia hanya sekedar melihat status di wa, updatean facebook, atau hanya melihat pergantian DP BBM di gadget

 

Ya..

ia sering disebut stalker

yang bisa dilakukan hanya melihat dan sambil timbul harapan-harapan kecil dalam hidupnya

Atau kadang ia mengumpulkan segenap keberaniannya hanya untuk menyapamu dengan kata “Selamat malam.”

Tapi lebih sering ia hanya menitipkan kata-kata lewat bisikan yang takkan pernah didengar siapapun, kecuali Yang Maha Mendengar.

 

Aku, kamu, sejatinya adalah seorang stalker

Entah melihat siapa, entah mengagumi siapa, entah sedang memikirkan siapa

hanya saja kita sering mengintip intip dalam diam, sering tersenyum tapi terlebih sering menghela nafas panjang.

Kita hanya sedang menjadi stalker,
Entah apa yang sedang kita cari, tulisannya, atau hanya sekedar untuk tahu kabar

entah

dan aku lebih suka menjadi stalker

mengamati tulisan tulisan hebat yang dapat mengubah cara  pandang, yang dapat mengubah pandangan tentang kehidupan

Aku suka saat menjadi stalker

Mengamati jejak-jejak keadaan lewat tulisan, mengamati kehidupan lewat perjalanan sambil berharap-harap dalam hati “Aku ingin seperti itu juga Yaa Rabb..”

Aku suka saat menjadi stalker

Menunggu, kapan muculnya tulisan tulisan baru tersebut, menunggu cerita baru

Aku suka saat menjadi stalker

Ketika orang lain mengungkapkan apa yang ada di fikirannya, apa yang ada di imajinasinya

dan saya bisa menilai cara pandang orang tersebut

 

aku suka saat menjadi stalker. 🙂

Dan aku suka saat menjadi stalker bagi banyak orang yang akhirnya aku bisa menilai cara pandang mereka.

 

#Ciputat, 23 – 10 -2014

12.05 – Perpustakaan Fkik –

Apa Kontribusimu Dalam Dakwah?

“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Taubah [9]: 105)

Dalam perjalanan dakwah ini, tak jarang kekecewan, kemarahan, ketidaksesuaian menghantui sepanjang perjalanan, Lelah, ingin beristirahat, hingga akhirnya mundur seringkali menjadi opsi pilihan yang dianggap lebih bijak untuk diambil.

Hanya saja, saat lelah itu alangkah baiknya kita introspeksi diri jauh, sangat jauh dan mendalam kedalam diri kita, “Apa yang telah kita persembahkan untuk dakwah ini? Sudah sejauh apa?”

Kita berfikir tentang hak kita untuk diperhatikan, dipedulikan tapi tak ada kewajiban yang telah kita lakukan. Merasa paling lelah, paling terluka, paling tersakiti, adalah pembenaran yang biasanya telah kita lakukan. Namun apa yang sudah kita berikan?

Ketika saya bertanya lebih dalam ke dalam diri saya, Saya mengingat masa-masa pertama ketika menjerumuskan diri kedalam jalan ini.

Ketika kita memasuki dunia organisasi, apa yang telah kita persembahkan? tak kah organisasi dakwah ini menjadi lebih baik? Atau sebaliknya? semakin buruk, semakin berantakan? Apa yang telah kita lakukan? sudah kah kita berkontribusi maksimal didalamnya? atau jangan-jangan untuk taat pada etika saja enggan, suudzon selalu ditinggikan, hadir syuro sekenanya, berkumpul yang dibahas hanya mengenai curhatan pribadi tanpa sama sekali membahas ummat, akademik berantakan. Lalu apa yang telah kita persembahkan?

Ketika kita memilih dalam dunia akademik, berharap kita bisa mengembangan dakwah dalam bidang akademik, namun prestasi apa yang telah kita persembahkan? Hanya sekedar mempertahankan nilai IP kah? itupun nilai masih standar, hanya nilai 3 atau bisa jadi dibawah itu, lalu apa bedanya dengan mereka yang aktif dalam organisasi?  Sudahkah kita membuat sekeliling kita bangga bahwa kita telah mampu berdakwah melalui jalur akademik? Lantas, apa yang telah kita persembahkan?

Ketika kita memilih untuk aktif dalam dunia yang lainnya? apa yang telah kita persembahkan? apa yang telah kita lakukan untuk kemajuan islam? adakah? atau jangan-jangan tidak ada, atau bahkan tidak terfikirkan. Akhirnya kita tahu, dakwah menjadi sebuah kalimat sempit yang akhirnya membuat orang lain utopis dengan keberadaan dakwah. Naudzubillahimin dzalik

Saya terkenang dengan perkataan seorang ustadz di zaman silam kurang lebih redaksinya  seperti ini “Jika di dalam lingkungan mu tidak ditemukan keteladanan, maka jangan-jangan Allah telah menempatkanmu disana untuk menjadi teladan.”

“…Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.” – (HR. Thabrani dan Daruquthni).

Kita seringkali bertanya, apa kontribusi antum dalam dakwah? apa yang telah antum berikan untuk dakwah? lalu bagaimana jika pertanyaan itu kita balik saat ini, kita arahkan seluruh jari mengarah ke diri sendiri.  apa kontribusi ana dalam dakwah? apa yang telah ana berikan untuk dakwah?

Hingga akhirnya saya mengambil kesimpulan, bukan seberapa penting kita ada dimana, tapi sebanyak apa kontribusi yang telah kita lakukan, yang telah kita persembahkan.

Lalu sudah sampai manakah kontribusi kita saat ini?

Jadikan kehidupan kita menjadi lebih berwarna, dengan banyak memberikan kebermanfaatan untuk sekeliling kita.

#Ciputat, 15-10-2014

SAM_6293

Merevolusi Kerja

Berkecimpung dalam dunia dakwah, kerap kali menimbulkan rasa bosan, malas, enggan bergerak, keletihan yang terus bertambah, hingga akhirnya kefuturan. Akibat dari kefuturan itu seringkali akhirnya kita mendengar banyak yang memilih meninggalkan barisan dakwah.

Menjadi kader produktif berarti mengomitmenkan diri untuk menyerahkan segenap kemampuan diri kita untuk keberlangsungan dakwah, dari waktu-waktu kita, bercanda kita, aliran darah hingga setiap desahan nafas kita, selalu diniatkan untuk ibadah.

“Sebaik-baik Manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”-HR. Ath Thabrani-

Lalu bagaimana cara menjadi kader produktif itu? dari beberapa buku yang pernah saya baca, saya menemukan beberapa cara yang akhirnya saya rasa bisa saya lakukan, diantaranya

1. Membuat List target

Apa targetanmu tiap bulan? tiap minggu? tiap hari? apakah hanya sekedar menggugurkan kewajiban? atau hanya untuk sekedar mengisi waktu luang? dalam setiap kegiatan, kita mengenal ada input, proses hingga output. tentukan outputnya kemudian kerjakan..!! Kalimat-kalimat ‘nanti, sebentar lagi, dkk..’ adalah gejala awal dari munculnya kata tidak atau bisa jadi tidak pernah.  Kalau saya lebih menyukai kegiatan yang selalu saya tulis dalam buku kecil (souvenir kondangan) yang kemudian saya list dan saya tulis target pekanan dari kegiatan saya.

 

2. Lingkungan yang baik

Lingkungan yang baik. seberapa penting sih lingkungan yang baik menurut kamu? Kalau yang saya pelajari, untuk perilaku kesehatan ternyata menyumbang 80% dari perilaku seseorang. waah, keren banget kan, kalau untuk perilaku kesehatan (yang butuh banget belajar) gimana sama membentuk kepribadian. pasti enggak kalah penting juga ya, saya melihat lingkungan yang baik sebagai sesuatu nikmat, sebagai sesuatu rezeki yang Allah sediakan secara mudah. Semua perkara ini tinggal kita saja yang menentukan, pilihan sudah ada. Lalu jika tidak ditemukan? Jadilah teladan disana, tinggal dilingkungan tidak baik, bukan berarti kehilangan kesempatan untuk menjadi baik kan? jika kita tidak menemukan keteladanan disekeliling kita, jangan-jangan Allah telah menunjuk kita untuk menjadi teladan disana? So, perbaiki diri, bukan cuma untuk jodoh, kematian, tapi juga untuk kehidupan dan peradaban islam yang lebih baik 🙂

3. Konsisten

Apa yang paling sulit dalam sebuah kegiatan rutin? Keistiqomahan atau lebih sering kita menyebutnya dengan kekonsistenan. Kegiatan ini harus terus dilakukan, jangan sampai terputus. coba bayangkan, jika seorang ibu yang tidak punya penyakit dan kendala apapun tidak konsisten dalam memberikan ASI eksklusif kepada bayinya ? wah bahaya kan, atau dalam dunia kerja, seorang pegawai yang tidak ada halangan apapun masuk kerja seenaknya? bisa bisa dipecat sama si Bos kan? ternyata konsisten itu lebih penting ya daripada sekedar menjalankan aktivitas besar tapi cuma sesekali. Lalu kalau apa yang kita rencanakan tidak berjalan bagaimana? wah perlu di evaluasi tuh, karena apa bisa tidak berjalan.. Karena manusia kah? atau karena Allah belum mengizinkan? Kalau penyebabnya karena manusia, berarti harus ada yang dievaluasi dalam diri kita kalau perlu ada sanksi untuk diri kita. Kalau saya menghukum diri saya dengan Menulis, Membaca buku, atau berjalan atau mendengarkan adik saya bercerita. lho itu sanksi atau apa? Biarin, 😛 kan saya yang menentukan sanksi atas diri saya, hehe. saya hanya ingin ketika saya dihukum , saya masih dapat produktif baik dari segi pemikiran maupun perilaku. Kalau kamu itu pilihanmu, denda dalam bentuk uang juga ga masalah, asal bisa tetap bermanfaat ya.  Kalau rencana kita tidak berjalan karena kehendak Allah? jangan khawatir, Dia pasti akan menyiapkan pengganti lebih dari kita..

ternyata mengubah cara kerja kita merupakan sesuatu hal yang sangat seru dan menarik lho. Apalagi kalau kita bermain dengan improvisasi kehidupan di sekeliling kita. pastinya seru banget. Aku sudah merevolusi kerja ku lho, kalau kamu kapan? 🙂

 

#Ciputat, 10-10-2014, ditengah “kesempitan” mengerjakan proposal skripsi In syaa Allah ada kemudahan 🙂

*foto ini diambil di depan rumah sakit kecil (bukan puskesmas juga) di pedalaman Papua, Tablanusu 🙂