Apa Kontribusimu Dalam Dakwah?

“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Taubah [9]: 105)

Dalam perjalanan dakwah ini, tak jarang kekecewan, kemarahan, ketidaksesuaian menghantui sepanjang perjalanan, Lelah, ingin beristirahat, hingga akhirnya mundur seringkali menjadi opsi pilihan yang dianggap lebih bijak untuk diambil.

Hanya saja, saat lelah itu alangkah baiknya kita introspeksi diri jauh, sangat jauh dan mendalam kedalam diri kita, “Apa yang telah kita persembahkan untuk dakwah ini? Sudah sejauh apa?”

Kita berfikir tentang hak kita untuk diperhatikan, dipedulikan tapi tak ada kewajiban yang telah kita lakukan. Merasa paling lelah, paling terluka, paling tersakiti, adalah pembenaran yang biasanya telah kita lakukan. Namun apa yang sudah kita berikan?

Ketika saya bertanya lebih dalam ke dalam diri saya, Saya mengingat masa-masa pertama ketika menjerumuskan diri kedalam jalan ini.

Ketika kita memasuki dunia organisasi, apa yang telah kita persembahkan? tak kah organisasi dakwah ini menjadi lebih baik? Atau sebaliknya? semakin buruk, semakin berantakan? Apa yang telah kita lakukan? sudah kah kita berkontribusi maksimal didalamnya? atau jangan-jangan untuk taat pada etika saja enggan, suudzon selalu ditinggikan, hadir syuro sekenanya, berkumpul yang dibahas hanya mengenai curhatan pribadi tanpa sama sekali membahas ummat, akademik berantakan. Lalu apa yang telah kita persembahkan?

Ketika kita memilih dalam dunia akademik, berharap kita bisa mengembangan dakwah dalam bidang akademik, namun prestasi apa yang telah kita persembahkan? Hanya sekedar mempertahankan nilai IP kah? itupun nilai masih standar, hanya nilai 3 atau bisa jadi dibawah itu, lalu apa bedanya dengan mereka yang aktif dalam organisasi?  Sudahkah kita membuat sekeliling kita bangga bahwa kita telah mampu berdakwah melalui jalur akademik? Lantas, apa yang telah kita persembahkan?

Ketika kita memilih untuk aktif dalam dunia yang lainnya? apa yang telah kita persembahkan? apa yang telah kita lakukan untuk kemajuan islam? adakah? atau jangan-jangan tidak ada, atau bahkan tidak terfikirkan. Akhirnya kita tahu, dakwah menjadi sebuah kalimat sempit yang akhirnya membuat orang lain utopis dengan keberadaan dakwah. Naudzubillahimin dzalik

Saya terkenang dengan perkataan seorang ustadz di zaman silam kurang lebih redaksinya  seperti ini “Jika di dalam lingkungan mu tidak ditemukan keteladanan, maka jangan-jangan Allah telah menempatkanmu disana untuk menjadi teladan.”

“…Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.” – (HR. Thabrani dan Daruquthni).

Kita seringkali bertanya, apa kontribusi antum dalam dakwah? apa yang telah antum berikan untuk dakwah? lalu bagaimana jika pertanyaan itu kita balik saat ini, kita arahkan seluruh jari mengarah ke diri sendiri.  apa kontribusi ana dalam dakwah? apa yang telah ana berikan untuk dakwah?

Hingga akhirnya saya mengambil kesimpulan, bukan seberapa penting kita ada dimana, tapi sebanyak apa kontribusi yang telah kita lakukan, yang telah kita persembahkan.

Lalu sudah sampai manakah kontribusi kita saat ini?

Jadikan kehidupan kita menjadi lebih berwarna, dengan banyak memberikan kebermanfaatan untuk sekeliling kita.

#Ciputat, 15-10-2014

SAM_6293