Month: October 2015

For The First Time

Untuk pertama kalinya, aku melihat sosok itu memandang jauh,

memandang kosong, penuh dengan pikiran dalam akalnya

penuh dengan tekanan dalam hatinya

Penuh dengan gejolak batin, ringkasku

Untuk pertama kalinya, dalam pandangku

dirimu hampir berkaca kaca

Banyak suka duka yang ingin engkau ceritakan, namun engkau tak bisa

Lalu kita terdiam sejenak

Aku hanya menatap keluar dengan pandangan kosong

dan engkau terlihat begitu gelisah

dan sekalinya, saya tahu dirimu adalah sosok yang (pernah) sangat saya kagumi sejak masih kanak kanak

Dan rasa kagum itu masih ada, sampai sekarang

sekalipun semuanya telah banyak berubah dalam kehidupan kita

That doesnt matter how bad you feel, you’re my hero for me

I love you as always, :’)

#Bukankah yang inipun pasti berlalu?

Bekasi, 27 Oktober 2015

di tempat yang paling saya suka saat menatap senja

17.05 WIB

Just asking

beberapa tahun ini,,
pandangan saya tertuju pada pemandangan khusus
disela-sela perjalanan menuju bekasi
atau ditaman-taman di daerah kota

sebuah keluarga yang tinggal didalam gerobak
tak hanya sehari atau dua hari
tapi bertahun-tahun

jangan berandai-andai gerobak itu seperti kereta cinderella
atau seperti kereta yang digunakan oleh wanita-wanita korea

gerobak itu beralaskan kayu,
beratapkan langit,
berdindingkan kayu

jangan tanya masalah luas
ukurannya mungkin tak lebih dari luas liang lahat, atau mungkin lebih kecil lagi

aku hanya ingin bertanya,
“apakah disaat malam rasanya dingin bu?”
“apakah sama seperti didalam rumah, atau seperti di tenda, atau seperti apa?”
“Lalu, kenapa ibu masih bertahan dengan bapak? karena cinta kah? atau karena apa?”
“kenapa ibu bisa memiliki banyak anak dalam kondisi seperti ini? bagaimana cara ibu bisa bertahan?”
“bu, apa makna kehidupan menurutmu?”

Bapak yang sedang menarik gerobak,
saya pun punya pertanyaan yang berharap dijawab oleh orang sepertimu

“pak, bagaimana rasanya saat engkau harus menarik keluargamu seharian untuk berpindah-pindah?”
“pak, apakah gerobak itu berat?”
“pak, bagaimana dengan kaki-kakimu yang langsung menapak panasnya aspal tanah, bukankah itu menyakitkan? bahkan kakiku yang sudah dilapisi kaos kaki saja pernah tidak kuat untuk berjalan tanpa sandal gunung lebih dari 1,5 hari saat memasuki pedalaman papua”
“pak, kharisma apa yang engkau miliki, hingga ibu tak berpaling menatap pria lain?”
“pak komitmen seperti apa yang telah kau buat dengan ibu, hingga kau sanggup bersinergi untuk membesarkan anak-anakmu?”
“pak, apa arti kehidupan menurutmu?

aku hanya merenung,
dan memikirkan jika aku di posisimu,
Ketika menjadi yang mendorong,
atau menjadi sang ibu, yang melahirkan anak-anak dan membantu kehidupan suami

aku tak tahu, biarkan pertanyaan ini terjawab pada waktu yang tepat.
semoga Allah selalu melindungimu dan keluargamu, pak, bu,
dan semoga pemuda-pemuda seperti kami tak sibuk terjerumus dalam dunia hedonis yang semakin mengecam moralitas sebagai penerus bangsa kedepannya.. aamiin

SAM_6357